Semarang,KORANPELTA.Com- Otoritas Jasa Keuangan Provinsi Jawa Tengah menyebutkan, perkembangan sektor jasa keuangan per Juni 2025 dalam kondisi stabil serta didukung dengan likuiditas yang memadai dengan tingkat risiko terjaga.
” Aset perbankan di Jawa Tengah tumbuh sebesar 1,69 persen (yoy) atau menjadi sebesar Rp591,02 triliun. Hal itu diikuti perkembangan Dana Pihak Ketiga (DPK) mengalami kenaikan 1,67 persen (yoy) menjadi sebesar Rp 468,90 triliun dan kredit yang disalurkan naik sebesar 1,80 persen (yoy) menjadi sebesar Rp421,88 triliun,” ungkap Kepala OJK Jateng Hidayat Prabowo kepada awak media di Semarang, Jumat (29/8/2025)
Disebutkan, perkembangan yang sama juga dialami dengan Aset Bank Umum di Jawa Tengah tumbuh sebesar 1,60 persen (yoy) atau menjadi sebesar Rp539,45 triliun, diikuti dengan pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) Bank Umum yang tercatat tumbuh sebesar Rp429,01 triliun atau naik 1,53 persen (yoy) dan total Kredit Bank Umum mencapai Rp383,30 triliun naik sebesar 1,76 persen (yoy).
Hanya, NPL gross Bank Umum di Jawa Tengah turun dari bulan sebelumnya menjadi sebesar Rp18,03 triliun atau 4,70 persen yang didukung oleh perbaikan kinerja bank umum Jawa Tengah di sektor perdagangan besar dan eceran dengan penurunan NPL sebesar -0,36 persen (yoy).
Sementara itu, kinerja intermediasi Bank Umum di Jawa Tengah terjaga dengan total Loan to Deposit Ratio (LDR) 89,34 persen sehingga bank umum di Jawa Tengah masih mampu menyalurkan kredit dan memenuhi kebutuhan masyarakat.
“Untuk menjaga tingkat NPL, OJK terus melakukan pengawasan secara intensif kepada bank dan memerintahkan bank untuk membentuk Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN) yang memadai sesuai ketentuan yang berlaku.” kata Hidayat.
Terkait perkembangan BPP-BKK di Jateng, menurutnya, juga mencatatkan kinerja yang positif dengan pertumbuhan aset sebesar 2,60 persen (yoy) yang diikuti dengan Dana Pihak Ketiga (DPK) BPR/S yang tercatat tumbuh sebesar 3,24 persen (yoy) sebesar Rp39,89 triliun dengan total Kredit BPR/S mencapai Rp38,58 triliun naik 2,23 persen (yoy).
Perbankan Syariah Tumbuh Positif
Mengenai kinerja Perbankan Syariah, Lanjutnya, juga mencatatkan pertumbuhan yang positif dilihat dari pertumbuhan aset sebesar 9,82 persen (yoy), yang diikuti dengan pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang tumbuh sebesar 9,19 persen (yoy) dengan nominal mencapai Rp37,68 triliun.
” Adapun pembiayaan yang disalurkan tumbuh sebesar 11,84 persen (yoy) dengan nominal mencapai Rp34,41 triliun dengan rasio NPF sebesar 5,11 persen.”
Meski begitu, pada sektor IKNB, per Agustus 2025, Perusahaan Pembiayaan mencatatkan nilai piutang pembiayaan tumbuh sebesar 2,10 persen (yoy) mencapai Rp33,39 triliun dengan NPF sebesar 3,16 persen.
Mengenai modal ventura, kata Hidayat, mengalami kenaikan penyaluran sebesar 3,13 persen yoy dengan total nominal sebesar Rp1,09 triliun. Sedangkan aset Dana Pensiun tercatat tumbuh sebesar 0,68 persen (yoy) mencapai Rp6,81 triliun, sejalan dengan tingginya tingkat angkatan kerja.
Kemudian dari Fintech Peer to Peer (P2P) Lending mencatatkan penyaluran kredit yang tumbuh sebesar 30,42 persen (yoy) mencapai Rp6,87 triliun dengan tingkat wanprestasi (TWP 90) sebesar 3,52 persen.
” Hal ini didukung oleh kemudahan masyarakat dalam mengakses pendanaan dari Fintech Peer to Peer (P2P) Lending,”tuturnya yang didampingi pejabat lainnya
Perusahaan penjaminan Meningkat
Sementara itu, Perusahaan Penjaminan posisi bulan Juni 2025 mencatatkan peningkatan aset sebesar 32,47 persen (yoy) menjadi sebesar Rp 648,00 miliar dengan pinjaman yang disalurkan sebear Rp2,29 triliun atau turun sebesar -44,30 persen (yoy).
” Jadi pada sektor Lembaga Keuangan Mikro (LKM) Posisi Triwulan I 2025 mencatatkan jumlah entitas di Jawa Tengah sebanyak 102 entitas, dengan jumlah pinjaman yang diberikan sebesar Rp568,00 milliar atau tumbuh sebesar 23,37 persen (yoy),” katanya
Adapun Jumlah Aset LKM di Jawa Tengah sebesar Rp702 milliar dengan tumbuh sebesar 1,28 persen (yoy). Sedangkan transaksi Pasar Modal didominasi oleh investor individu dengan jumlah SID Reksadana mencapai 1.654.542 investor pada Juni 2025 meningkat 12,70 persen (yoy) dengan total nilai transaksi Rp14,86 triliun.
Sementara itu jumlah SID saham sebesar 850.366 investor yang meningkat sebesar 24,80 persen (yoy) dan SID SBN sebesar 106.028 investor dan meningkat sebesar 17,10 persen (yoy).
Meski demikian, OJK telah menerima pengaduan melalui Aplikasi Portal Perlindungan Konsumen (APPK) sebanyak 1.819 pengaduan. Berdasarkan jenis aduan terbanyak adalah sektor Perbankan sebanyak 1.078 pengaduan, Fintech Legal sebanyak 360 pengaduan, Pembiayaan sebanyak 284 pengaduan, Asuransi sebanyak 39 pengaduan, LJK lainnya sebanyak 44 pengaduan dan Non LJK 14 pengaduan.
” Untuk menurunkan jumlah pengaduan, OJK terus melaksanakan kegiatan edukasi di Provinsi Jawa Tengah secara masif kepada masyarakat sampai dengan 31 Juli 2025, telah dilaksanakan sebanyak 205 kegiatan edukasi kepada masyarakat termasuk petani, pelajar dan pelaku UMKM dengan diikuti oleh sebanyak 40.544 orang sebagai peserta.”(sup)