Jakarta,KORANPELITA Com– Langit Iran kembali bergetar. Pada 21 Juni 2025, dunia dikejutkan oleh langkah militer paling dramatis dari Amerika Serikat dalam dua dekade terakhir: serangan udara presisi ke tiga situs nuklir utama Iran—Fordow, Natanz, dan Isfahan. Dalam hitungan menit, bom bunker-buster dijatuhkan oleh pesawat B‑2 stealth bomber, diperkuat dengan rudal Tomahawk yang ditembakkan dari kapal selam Amerika di perairan Teluk.
Presiden Trump, dalam pidato singkat dari Gedung Putih, menyebut operasi itu sebagai “misi sukses besar” dan menyatakan ketiga fasilitas “telah dihancurkan.” Kata-katanya terdengar dingin namun sarat pesan: bahwa kesabaran Amerika terhadap ambisi nuklir Iran telah habis.
Namun kebenaran lapangan tak selalu sejalan dengan retorika politik. Badan Energi Atom Internasional (IAEA) dalam pengumuman resmi menyatakan tidak ada peningkatan radiasi yang terdeteksi dari lokasi-lokasi yang diserang. Artinya, reaktor utama atau material nuklir sensitif kemungkinan besar tidak terkena atau telah dievakuasi sebelumnya.
Iran pun tak tinggal diam. Pemerintah di Teheran mengecam tindakan tersebut sebagai pelanggaran kedaulatan dan hukum internasional. Mereka menyebut serangan itu “tidak mematahkan semangat,” melainkan justru memperkuat tekad untuk melanjutkan program nuklir yang selama ini mereka klaim untuk tujuan damai.
Di sisi lain, dukungan datang deras dari Tel Aviv. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menyebut serangan ini sebagai “titik balik sejarah”—mengisyaratkan betapa erat koordinasi antara AS dan Israel dalam operasi ini.
Sementara itu, di New York, Dewan Keamanan PBB kembali menggelar sidang darurat. Sekjen Antonio Guterres menyampaikan keprihatinan mendalam dan menyerukan de-eskalasi secepat mungkin. Dunia menyadari bahwa satu percikan bisa menyulut api besar di Timur Tengah.
Masyarakat internasional kini berada di persimpangan yang genting. Apakah ini awal dari konflik regional berskala luas? Apakah Iran akan membalas—langsung atau melalui proksi seperti Hizbullah di Lebanon atau Houthi di Yaman?
Yang jelas, ini bukan lagi sekadar duel kekuatan militer. Ini pertarungan simbolik antara dominasi dan kedaulatan, antara pencegahan dan pembangkangan, antara persepsi ancaman dan hak mempertahankan diri. Dan dalam pertarungan semacam itu, kebenaran kerap menjadi korban pertama.
Ketika Fordow menghilang dari peta satelit, dunia tak hanya kehilangan fasilitas bawah tanah—kita mungkin sedang kehilangan sisa-sisa diplomasi yang dulu dirajut dengan susah payah lewat Perjanjian Nuklir 2015.(*)
Oleh: Sudadi – Jurnalis – Veteran Perdamaian – Pasukan Perdamaian PBB Garuda VIII/ Mesir Timur Tengah 1978-79.
Referensi:
_1. The Guardian – “Trump says US strikes on Iran were a ‘success’: what we know so_ _far” (22 Juni 2025)__https://ww.theguardian.com/world/2025/jun/22/trump-announces- us-strikes-on-iran_
_2. Associated Press (AP) – “UN watchdog: No radiation detected after US hits Iran nuclear sites”__https://apnews.com/article/a7b0cdaba28b5817467ccf712d214579_
_3. Financial Times – “US bombs nuclear sites in Iran amid rising tensions”__https://www.ft.com/content/cc5f3407-22ef-4fd4-9825-7810bcea3c5e_
www.koranpelita.com Jernih, Mencintai Indonesia