Cianjur, Koranpelita.com
Bulan Dzulhijjah sarat dengan nilai keagungan. Teramat sayang jika nilai keagungannya menguap begitu saja tanpa kita ikat untuk meraihnya.
Sekiranya, berkurban dengan hewan menjadi salah satu bentuk pengingat untuk meraihnya, maka bagi yang tidak mampu berkurban dengan hewan atau saham qurban, maka berkurban dengan tenaga dan pikiran dapat kita jadikan media pengikatnya.
Wakil Ketua IV Baznas Kabupaten Cianjur, Hilmam Saukani, mengemukakan kepada Korampelita.com, Rabu (8/8), suatu saat ketika Rasulullah SAW, hendak menyembelih kambing, para sahabat sibuk mencari dan memperhatikan peluang berkurban.
Seorang sahabat menghadap Rasul seraya berkata “ya Rasulallah alayya dzabhuha (wahai Rasulullah biarlah saya yang menyembelihnya)”. Melihat hal ini, sahabat yang lain tidak tinggal diam, lalu ia berkata, “alayya salhuha (biarlah saya yang mengulitinya)”.
Demikian pula sahabat yang lain berkata, “alayya thabkhuha (biarlah saya yang memasaknya)”. Memperhatikan sikap para sahabatnya ini, Rasulullah memandang masih ada satu peluang berkurban yang harus segera diambil, beliau mengatakan, “alayya jam’ul hathabi (biarlah saya yang mencari kayu bakarnya)”.
Menurut Hilman, sehubungan dengan itu, pada hari Iedul Adha tak layak seorang muslim sejati untuk menjadi ‘pengangguran’ tanpa memberdayakan harta atau tenaga dan kemampuan dalam berkurban.(Man Suparman).
www.koranpelita.com Jernih, Mencintai Indonesia