Perencana Wilayah dan Kota Perlu Integritas dan Profesional

Oleh : Dr. Ir. Slamet Riyadi Bisri M.B.A.

Presiden Prabowo menyatakan bahwa para Perencana (Planners) sangat diperlukan untuk mendampingi para Pimpinan Daerah guna menciptakan wilayah yang baik. Dalam waktu yang tidak lama lagi akan dilakukan perencanaan terperinci secara besar-besaran di Indonesia, yaitu disusunnya 400 paket RDTR (Rencana Detail Tata Ruang) sebagai penjabaran RTRW (Rencana Tata Ruang Wilayah) dari wilayah yang lebih luas.

Untuk Menyusun suatu dokumen rencana seperti RDTR diperlukan suatu Tim Kerja yang multi disiplin yang dipimpin oleh seorang Team Leader yang berprofesi sebagai Planner (Perencana Wilayah dan Kota) yang profesional dan memiliki sertifikat yang relevan. Tidak banyak profesional yang memiliki kualifikasi tersebut, menurut seorang mantan Ketua Umum IAP (Ikatan Ahli Perencana) seorang Perencana Tata Ruang apalagi sebagai Team Leader perlu bekerja dengan memiliki integritas dan profesionalisme.

Keberhasilan Menyusun RDTR yang baik akan menjadi bekal yang tepat sebagai acuan pemberian ijin pembangunan di wilayah perencanaan, dan dalam jangka waktu ke depan akan menciptakan wilayah yang sesuai dengan konsep dan norma yang diharapkan : berkeadilan, ramah lingkungan, memfasilitasi keberlanjutan (sustainability) wilayah sebagai wilayah yang nyaman sebagai tempat tinggal dan membina kehidupan. Rencana tersebut juga dapat menjadi rujukan untuk menghadapi perkembangan teknbologi yang pesat menjadikan kota yang cerdas (smart city).

Untuk mewujudkan dokumen rencana seperti tersebut di atas seorang perencana perlu berpegang teguh pada prinsip-prinsip etika dalam bekerja , baik dalam berinteraksi dalam tim, berinteraksi dengan para pemangku kepentingan (stakeholders) maupun dalam menjalankan setiap tahapan dalam Proses Perencanaan.

Team Leader tidak mungkin bekerja sendirian , dalam setiap tahapan pekerjaan harus melibatkan para tenaga ahli lainnya sesuai dengan bidangnya , inilah alasan kenapa di dalam KAK (Kerangka Acuan Kerja) dicantumkan persyaratan berbagai disiplin keahlian.

Perencana Bertindak Lugas dan Akomodatif 

Dalam berinteraksi dengan stakeholders baik dalam hal administrasi pekerjaan maupun dalam kaitannya dengan substansi pekerjaan, para Perencana perlu bertindak lugas namun akomodatif terhadap berbagai aspirasi yang dilandaskan pada tujuan yang mulia bagi pegembangan wilayah.

Tahap perumusan masalah dan perumusan tujuan merupakan tahap awal yang crucial, apabila tahapan ini dapat ditempuh dengan baik maka dapat dikatakan setengah pekerjaan sudah diselesaikan, arahnya sudah benar.

Tahap survey atau pengumpulan Data dan Informasi dalam batas-batas waktu yang relatif singkat tidak seperti halnya studi Antropologi dan sejenisnya, tahap ini harus ditempuh secara optimal. Bekerja di lapangan dalam rangka pengumpulan data dan informasi bukan sekedar pekerjaan berwisata belaka melainkan lebih dari itu.

Aspirasi berbagai kalangan masyarakat perlu diserap, penglihatan dan pendengaran perlu dilakukan secara tepat dan terfokus, penggunaan teknologi audio dan visual perlu dimaksimalkan. Yang perlu diperhatikan, kemajuan teknologi yang pesat hendaklah dimanfaatkan semaksimal mungkin, bukannya malah untuk memanipulasi informasi, apalagi dengan berkembangnya teknologi AI (Artificial Intelligence). Yang terakhir tetapi tidak kalah penting adalah dalam survey harus menggunakan ‘hati’ dalam arti sensitif terhadap ketidak adilan yang terjadi dan dijadikan bahan untuk menciptakan keadilan dalam rencana masa depan.

Tahap analisis dan penyusunan rencana tidak semata-mata terpaku pada pendekatan yang seragam, mengingat bahwa kondisi satu wilayah berbeda dengan wilayah lainnya meskipun ketentuan KAK tetap harus dipenuhi. Teori, konsep, pendekatan dan metode analisis dan penyusunan rencana perlu diseleksi dan diterapkan secara tepat .

Disinilah tempatnya berkreasi dan berinovasi dalam perencanaan, itulah sebabnya Perencanaan Kota dan Wilayah masuk kedalam Fakultas Teknik. Sebagai profesi modern yang relatif muda, Planning tidak dapat dilepaskan dari upaya menerapkan pendekatan dari profesi lainnya melalui adaptasi yang tepat, dengan demikian setiap RDTR merupakan dokumen rencana yang unik. Selamat bekerja para Perencana Wilayah dan Kota yang berintegritas.(*)

Dr. Ir. Slamet Riyadi Bisri M.B.A. adalah Dosen Magister Perencanaan Wilayah dan Kota (MPWK) Universitas Islam Sultan Agung (UNISSULA). Saat ini juga sebagai Ketua Dewan Etika IAP (Ikatan Ahli Perencana) Provinsi Jawa Barat.

About suparman

Check Also

Menyongsong Pengukuhan Dekopinwil Jateng antara Harapan dan Kenyataan 

Oleh : Gunoto Saparie Ada peristiwa yang tampak seremonial, tetapi sesungguhnya memanggul harapan yang tak …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pertanyaan Keamanan *Batas waktu terlampaui. Harap selesaikan captcha sekali lagi.

Eksplorasi konten lain dari www.koranpelita.com

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca