Rama Tambak Membendung Pinjol

Dasamuka siniwaka. Duduk di dampar kencana dengan megah. Para sentana menghadap dengan khitmad. Juga Sang Kumbakarna serta Wibisana yang santun mengingatkan kakaknya untuk tidak culika.

Saat itu, pasewakan dibuka dengan sabda sang Rahwana yang dengan jumawa mampu membangun kembali Alengkapura, menjadi megah. Tidak perlu menunggu waktu, istana Dasamuka berdiri dengan segala kemewahannya. Dan, itu membuatnya bangga.

Tapi tidak bagi Kumbakarna. Ia justru mengkriktik pedas kakaknya yang tidak peka pada penderitaan rakyat. Sangat panjang, Kumakarna berkata-kata, hingga membuat Rahwana murka. “Cukup Kumbokarno. Bagaimana menurutmu Wibisono,” katanya menunjuk adiknya yang tampan itu.

Semula, Wibisana yang lembut, berkata manis, menyenangkan hati kakaknya. Tapi  di akhir kalimat, justru membuat Rahwana terluka. “Alengka mampu dibakar habis oleh satu kera utusan Rama Wijaya, kakanda prabu. Sementara Rama memiliki beribu pasukan serupa Anoman, yang bisa melumatkan Alengka dalam seketika.” Kalimat Wibisana tidak berlanjut, karena langsung dipotong Dasamuka.

“Jadi kamu takut Wibisana,” secapat kilat Dasamuka memenggal kalimat sang adik, kemudian memarahinya dengan tangan menuding serta semprotan kata-kata kasar, seolah tak peduli pada siapa saja.

Mengetahui sifat kakaknya yang penuh amurka, Wibisana masih berusaha mengingatkan, sampai kemarahan Dasamuka memuncak. Kaki menyepak menendang adiknya yang langsung ambil langkah menjauh. “Minggat Wibisana.”

Suasana berubah gerah bersama perginya Sang Wibisana. Beruntunglah. Wibisana segera oncat, sedang kemarahan Dasamuka masih meluap-luap, dihentikan oleh tangan Kumbakarna yang cekatan.

Kemarahan berlanjut. Kali ini yang menjadi sasaran adalah Kumbakarna yang ikut memberikan nasihat untuk kakaknya. “Ngalengko ora nganggo Kumbokarno ora patheken.” Kalimat itu, membuat Kumbakarna terbelalak, menggeram, kemudian menghilang meninggalkan pasewakan.

***

Kisah Ramayana yang dibawakan Ki Mulyono Purwo Wijoyo, Jumat pekan lalu itu, dibuka dengan memukau. Sebuah prolog yang dramatis, ketika Prabu Dasamuka ya Rahwana murka pada adik-adiknya. Dari pasewakan itu, Wibisana diusir dan berbalik pihak pada Sri Rama. Sementara Kumbakarna, memilih meninggalkan Alengka untuk bertapa sepanjang hidup.

Negeri Alengka berubah dingin, kekes dan misterius. Rahwana menangis, menyesali kekasarannya pada dua adiknya. Tapi semua sudah terjadi. Wibisana berubah menjadi Haryo Balik. Kumbakarna tak mungkin bisa dibangunkan dari semadinya.

Sedingin Alengka, suasana halaman Kantor OJK Regional Tiga Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta di Semarang, diguyur hujan lebat, malam itu. Bukan hujan biasa. Sebab, seperti menjadi bagian penting dari lakon Rama Tambak, ketika pasukan Sri Rama, berusaha menggepur Alengka, dengan membendung samudera untuk masuk Alengka.

Sudah sejak sore, Semarang memang dihias gerimis. Terus, gerimis itu, tak berhenti, bahkan hingga pergelaran wayangan yang menjadi puncak rangkaian HUT OJK ke-12 itu, dimulai. Tapi penggemar wayang bergeming. Sebagian pegawai OJK dan para kolega, tapi lebih banyak lagi masyarakat umum.

Pemilihan lakon Rama Tambak, sesungguhnya bukan bukan disengaja. Lakon diserahkan pada Ki Mulyono yang paham tentang makna di balik lakon-lakon ringgit wacucal.

Tapi kisah Rama Tambak, terasa sangat pas dengan usaha keras OJK dalam membendung serbuan pinjol ilegal, yang kini sedang mengancam masyarakat.

Apalagi, yang memprihatinkan, korban pinjol-pinjol ilegal ini adalah kaum muda. Celakanya, mereka meminjam untuk konsumsi yang bukan kebutuhan pokok. Sementara penghasilan tidak cukup untuk membayar cicilan pinjol. Ini yang harus sama-sama kita atasi.

Wayangan di malam puncak ulangtahun kantor kami, sengaja mengundang Ki Mulyono. Soalnya, dalang asli Klaten ini, juga sangat paham urusan-urusan ekonomi dan keuangan. Posisinya sebagai Kepala Kantor Pajak, membuat kami mudah menitipkan pesan-pesan sponsor tentang pinjol ilegal atau investasi bodong, yang sangat membahayakan masyarakat.

Memang, Ki Mulyono Purwo Wijoyo bukan dalang sembarangan. Meski seorang seniman, Ki Mulyono adalah pejabat yang memiliki karir panjang di lingkungan perpajakan. Belajar mendalang secara otodidak, oleh karena lingkungannya yang sangat dekat dengan wayang.

Selain ada Ki Mulyono, kami memilih bintang tamu Elisha Orcarus Allasso, yang akrab dengan penonton wayang milenial. Ia tidak hanya dikenal sebagai sinden gaul, tapi juga dalang perempuan, meski aslinya dari Sulawesi Tengah. (*)

 

 

 

About NKS

Check Also

Puncak Peringatan HPN 2024, Ketua MPR RI Apresiasi Ditandatanganinya Perpres Hak Cipta Penerbit

Jakarta, koranpelita.com – Ketua MPR RI sekaligus Wakil Ketua Umum Partai Golkar Bambang Soesatyo bersama …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pertanyaan Keamanan *Batas waktu terlampaui. Harap selesaikan captcha sekali lagi.