NKS Menulis: September dan Buku Baru

September. Bulan dengan akhiran ‘ber’ pertama di sepanjang tahun. Bulan-bulan berikutnya pun akan berakhiran ‘ber’ yang menandakan tahun berjalan akan segera berakhir. Dan segeralah kita bertemu tahun berikutnya.

Saya sengaja menulis tentang September, karena inilah sejarah. Tak bisa dihapus oleh penghapus apapun. Sejarah hidup saya yang bukan hanya penuh kenangan, tapi juga perjuangan, bungah-susah, serta segala yang beraroma keprihatinan.

Sejarah itu, ditoreh tanggal 11. 11 September. Tanggal saat simbok (simbok adalah panggilan ibu bagi anak-anak dusun di Kulon Progo), ditindih perih memperjuangkan kelahiran anak keenam, yang bahkan harus ditandu menggunakan bangku panjang ke rumah sakit. Setiap kali membayangkan drama itu, hati saya pedih. Betapa sangat menyengsarakan simbok, proses kelahiran saya itu.

Dari Dusun saja yang bernama Anjir, dengan kontur tanah berbukit, di tahun 68 itu, simbok yang kesakitan dengan perut besar, dibaraingkan di atas bangku panjang. Bangku panjang itu, disebut resban. Lalu, digotong ramai-ramai.  Beberapa orang bergantian, menandu simbok berkilo-kilo, naik turun perbukitan, menuju rumah sakit di pusat kota Wates.

Dulu, saat bapak-simbok masih sugeng, saya selalu mendapat cerita perih ini, dalam suasana rasa syukur. Sebab, kelahiran saya itu, nyaris mengiris nyali simbok, yang sudah berada di batas hidup dan mati. Maut bak mengiringi perjalanan simbok dan rombongan para penandu dari Anjir hingga Wates.

Benar. Bayangan itu, selalu menganggu benak saya, setiap kali memasuki bulan September. Barangkali, akan sangat epic jika digambar secara visual, saat ini. Bernuansa nostalgik. Tapi saya percaya, 54 tahun sialm, peristiwa itu adalah penggalan sejarah hidup paling memerah luh dan peluh.

Setiap merenungkan tanggal 11 September, seperti begitu saja terjadi, airmata mengalir. Bukan mengalir deras, tapi lebih banyak sekadar mbrebes mili alias merembes kecil. Tapi justru tangisan serupa itulah, yang sangat menjerat dada. Sebuah ekspresi hati paling inti.

Luh atau tetesan airmata, pada akhirnya, memang menjadi pengobat kerinduan saya pada simbok, setiap kali memasuki bulan September. 54 tahun silam, bayi yang telah menyusahkan hidup simbok bahkan sejak proses kelahirannya itu, diberi nama Sumarjono. Nama sederhana, yang bahkan simbok pun, tak mampu memberikannya oleh karena kehabisan ide saking bersyukurnya luput dari maut. Nama saya itu, hasil perenungan om saya. Adik kesayangan simbok yang bernama Om Sadal.  Sewu sembah nuwun om, sudah membantu simbok mendapat inspirasi nama untuk saya.

Dan, kini, saya bangga dengan nama itu. Sebagai ucapan terimakasih pada simbok yang melahirkan, saya selalu bangga mengenalkan diri saya dengan kalimat, Nami Kulo Sumarjono. Bolehlah Anda menyapa dengan akronim NKS: nami kulo Sumarjono.

Sumarjono dan keluarga besar bersama bapak-simbok.

Sejak nama Sumarjono resmi diberikan sebagai pusaka hidup saya, sejak itulah mengalir kasih sayang yang terus berulang. Saya yang telah merepotkan, bahkan sejak proses kelahiran, dilimpahi kasih yang utuh. Simbok seperti ingin menumpah seluruh rasa bungah, untuk Sumarjono. Itu, terus terjadi, sampai simbok kondhur, pulang ke haribaan Tuhan.

Sayang yang bukan kepalang. Sayang yang jauh lebih mendalam, bukan gelimang uang atau mainan. Praktis setiap hari, saya diasuh dengan tutur halus penuh makna. Saya baru paham bertahun-tahun kemudian, bahwa setiap kalimat simbok adalah pitutur sangat luhur. Dipilih lewat kalimat indah yang saya sendiri heran, berasal dari mana kemampuan simbok menemukan kalimat-kalimat bermakma yang kini, banyak menjadi inspirasi saya dalam menulis quote.

Setiap kali menulis quote, saya ingat simbok. Rupa-rupanya ada maksud yang hendak dititipkan simbok, sehingga sering mengulang-ulang kalimat pituturnya. Saya yakin, kata yang dulu kadang membuat sebal karena diucapkan berulang, rutin, serta repetitif itu, dimaksudkan agar benar-benar mengendap di dalam hati saya, untuk kemudian menjadi sangu urip. Bekal hidup yang bermanfaat.

Dan, setelah merampungkan buku Sewu Kutho, dua tahun lalu, saya memutuskan untuk merangkai kembali kalimat-kalimat simbok yang masih nyatel dalam ingatan, menjadi sebuah quote. Quote yang saya niatkan berjumlah hingga seribu. Sewu Quote.

Meski sudah diucapkan simbok puluhan tahun silam, tidak semua terlalu kuno, dimaknai hari-hari ini.  Sifatnya yang universal, tak lekang oleh waktu. Apalagi, banyak pitutur simbok, yang memang ditutur secara terus-menerus, sejak dari generasi sebelumnya. Contoh saat kita mau berantem untuk mendapatkan sesuatu, simbok sering bilang, wani ngalah, duwur wekasane.

Memang, dalam kesederhanaan, atau lebih pasnya dalam hidup yang serba dibatasi keterbatasan, kata-kata itu menjadi penting sebagai penguat menjalani kehidupan. Simbok, seperti umumnya orangtua Jawa, hidup dalam rengkuh petuah semacam itu. Selalu ada kalimat penguat (kadang berwajah petuah, ada kalanya penghibur, tapi tidak jarang tampil sebagai sebuah pembenar) agar tidak terjebak pada laku culika.

Quote seribu, atau Seribu Quote,  semoga bisa bermanfaat. Jangan takut bertemu melulu dengan kalimat-kalimat petuah yang umum, puritan, dan kuno. Jangan. Sebab, saya juga menuliskan banyak quote, yang saya petik dari berbagai peristiwa. Peristiwa yang saya amati atau peristiwa yang saya alami.

Harus saya akui, tidak mudah memang, menulis quote. Saya harus memilih kata atau kalimat yang pas dan mengena. Kalimat pendek-pendek agar tidak membosankan dibaca, atau kalimat indah-indah agar mudah ditirukan dan enak pengucapannya.

Berat tapi harus kuat. Dan, jilid satu buku berjudul Sewu Quote (seribu quote) di September tahun ini akan terealisasi. Sekaligus sebagai hadiah untuk almarhumah simbok yang telah melahirkan saya dengan segala penderitaanya. Buku ini, sekaligus sebagai tetenger bahwa saya bertambah umur. Hadiah indah di usia 54 tahun.

Nami Kulo Sumarjono
Sewu sembah nuwun, Salam Sewu Quote

About NKS

Check Also

Pangdam IV/Diponegoro Komitmen Bantu Kementan RI Tingkatkan Produksi Beras Melalui Program Pompanisasi 

SEMARANG,KORANPELITA – Pangdam IV/Diponegoro Mayjen TNI Deddy Suryadi, S.I.P., M.Si. dengan tegas menyatakan, komitmennya untuk …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pertanyaan Keamanan *Batas waktu terlampaui. Harap selesaikan captcha sekali lagi.

Eksplorasi konten lain dari www.koranpelita.com

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca