Konsep Gotong Royong Menanggung Beban Covid

Oleh : Drs. H. Azkar Badri, M.Si.

The RAWAS (Riset Apresiasi Warga Dan Sosial) Institute Yayasan Pataka.

Pengalangan sistem Gotong Royong dalam penanggulangan pembiayaan penanganan Pandemi Covid 19 merupakan  gagasan yang harus cepat terealisir dengan baik dan maksimal, mengingat dana yang sudah dikeluarkan Pemerintah sudah mencapai hampir di ambang batas sekitar Rp1.045 triliun dan sekarang dianggarkan lagi Rp600 triliun lebih.

Utang Indonesia pun sudah terus membengkak, di atas Rp 6000 triliun. Sementara berakhir bencana ini belum bisa dipastikan. Sementara korban covid diindikasikan meningkat cukup signifikan. Perhari Kamis (22/07/2021) jumlah yang meninggal sudah diangka 77.583 orang.

Peningkatan dari hari ke hari bertambah pada angka yang sangat signifikan. Malahan diperkirakan setelah varian Delta ini akan muncul varian baru SARS-COV. Konon akan lebih dahsyat lagi. Astaghfirullah. Nau’dzubillah min dzalik.

Untuk menghadapi itu, kesiapan di lapangan serba kekurangan, meliputi Tenaga Kesehatan, Obat-Obatan (Kalaupun ada harga melambung tinggi). Sebuah contoh Vitamin D500IU perbox berisi 5 strip, harganya mencapai Rp150 ribu. Itupun kalau barangnya ada. Vaksin, Alat Kesehatan, Tabung Oksigen, Fasilitas Tempat Rawat. Begitu juga Bansos (Bantuan Sosial). Banyak pasien meninggal karena terlambat pertolongan. Diperkirakan korban paling banyak meninggal berasal dari keluarga berstatus ekonomi menengah ke bawah.

Sumber perbantuan Gotong Royong bisa digali/mobilisasi dari, antara lain dari perusahaan-perusahaan besar. Biasanya perusahaan besar ada alokasi dana CSR (Corporite Social Responsibility). Jumlahnya cukup besar. Konon selama ini penggunaan dana CSR yang diterima daerah tidak begitu jelas. Banyak dimanfa’atkan Kepala Daerah untuk kepentingan yang tudak jelas pula.

Kemudian juga dana dari organisasi kemasyarakatan yang didapati dari Pengurus dan Anggotanya. Seperti Organisasi Nahdatul Ulama (NU) punya anggota puluhan juta ummat (tentu dari yang berpunya dan lebih). Begitu juga Muhammadiyah jema’ahnya puluhan juta juga. Belum lagi organisasi keagamaan dan kemasyarakatan lainnya, serta organisasi-organisasi sosial dan profesi yang ada. Dari sini juga bisa mendapat kontribusi yang besar.

Tak luput juga kontribusi para koruptor kelas kakap. Mereka ini yang sudah banyak menikmati uang rakyat, harus memberikan sumbangsih untuk rakyat yang dilanda duka pandemi dan mereka yang kesulitan ekonomi akibat corona. Mereka harus digugah turun tangan untuk mempercepat keluar dari prahara bencana ini.

Belum lama ini beredar video di media sosial, mereka sedang berpesta pora di dalam Lembaga Pemasyarakatan (LP). Terlalu atraktif dan antagonistik, di tengah rakyat menjerit mereka berpestaria. Terkesan perlawanan terhadap realitas sosial sa’at ini. Tak ada empati, tak ada peduli, tak ada kepekaan sosial. Padahal mereka ini banyak juga orang organisasi atau orang partai. Maka wajib bagi mereka membantu orang lain. Orang yang sedang terkena bencana wabah sekarang ini.

Kemudian personal masing-masing yang kebetulan mempunyai kelebihan rizki. Secara langsung mereka bisa menyalurkannya kepada yang terkena dan terdampak. Kemarin viral di media sosial. Sebuah mobil melaju dengan pelan menyelusuri daerah pedagang kaki lima, sembari mengulurkan tangan memberi uang tunai kepada masing-masing pedagang kaki lima yang sepi pembeli. Ekspresi para penerima, haru bercampur gembira. Ini melambangkan, bahwa mereka sangat berterimakasih dan merasa terbantu untuk kebutuhan sesa’at. Bisa dibayangkan, jika gerakan ini dilakukan oleh banyak orang.

Potensi untuk saling membantu, Gotong Royong ini insha Allah bisa berjalan dengan baik dan sukses. Yang penting sekarang mari tanggalkan kepentingan pribadi atau kelompok. Apalagi menjadi ladang korupsi dan tak amanah. Secara ikhlas bergandengan tangan fokus ikut menyelesaikan atau meringankan beban masyarakat kita yang terkena Bencana Pandemi Covid.

Kita tidak habis pikir secara akal sehat, kalau Pandemi Covid ini masih dijadikan lahan menangguk keuntungan pribadi atau kelompok. Orang sedang bersusah-susah, menderita dan menggadai nyawa. Tetapi di sebelah sana ada yang sibuk menumpuk harta, baik itu penumpukan obat-obatan ataupun korupsi di Bansos. Tapi hal ini terjadi. Astaghfirullah.

Korupsi seputaran Pandemi Covid ini, apalagi masalah Bantuan Sosial (Bansos) menimbulkan dua masalah, disamping negara atau rakyat dirugikan, karena haknya dinikmati oleh yang tidak berhak. Juga yang tidak kalah parahnya, secara tidak langsung telah membunuh spirit kebersamaan masyarakat, solidaritas dan empati masyarakat. Padahal sesungguhnya masyarakat Indonesia sejak zaman nenek moyang dulu telah ditorehkan dan ditanam semangat gotong royong pada anak bangsa. Dalam skala kecil, mereka saling memberi sumbangan pada waktu hajatan pernikahan atau hajatan lain. Di daerah Sumatera ada istilah Berselang dan Perayan dalam masyarakat desa, mereka saling membantu tenaga pada waktu membangun rumah atau mengerjakan tanam menanam di kebun atau sawah.

Akibat perilaku koruptif, mengerucut dalam konteks Bansos pada situasi ini, mengakibatkan timbul antipati pada sebagian kecil orang. Pikiran sederhana mereka, dana untuk Bansos sudah dialokasikan dalam anggaran pemerintah, tapi diselewengkan. Nah sekarang rakyat juga yang akan dimobilisasi hal ini. Ada yang tertindas dan ada yang ladas (Bahasa daerah Palembang, Bersenang-senang). Antagonistik sungguh.

Sekarang terbangun kembali, indikatornya telah banyak yang bergerak memberikan sumbangsih, baik personal mau melalui kelembagaan/organisasi. Semangat kebersamaan mengahadapi Pandemi Covid ini, sudah terbersit dalam hati masing-masing kita, saya punya apa. Dan apa yang harus diberikan dalam andil kebersamaan keluar dari Pandemi ini. Semoga.

Ciputat, 22 Juli 2021

About khairul habiba

Bekerja di Harian Pelita sejak tahun 1986, mulai dari wartawan hingga redaktur politik dan terakhir sebagai redaktur senior. Sekarang sebagai Redaktur Ahli di Koranpelita.com

Check Also

TUJUH TAHAPAN INDONESIA MENURUT RAMALAN JAYABAYA.

Catatan Budaya : KP Norman Hadinegoro,SE.MM. Menurut KP Norman pemerhati Budaya Adiluhung , ada beberapa …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *