Jika Pabrik Itu Ditutup Bagaimana Nasib Buruhnya ?

Oleh Man Suparman

*Penulis, pemerhati sosial tinggal di Cianjur

Di sekitar tempat tinggal saya, berdiri pabrik alas kaki yang cukup besar. Pabrik dibangun diatas lahan sawah seluas 86 hektare lebih. Produk alas kakinya pun untuk pasar eksport. Pabrik ini, merupakan investasi penanam modal asing (PMA) Taiwan.

Ketika pabrik itu, dibangun tujuh tahun yang lalu, banyak dipersoalkan kalangan masyarakat, terutama aktivis. Yang dipersoalkan mulai dari alih fungsi lahan hingga terkait masalah perizinan yang dinilai bermasalah.

Pabrik sekarang sudah terlanjur dibangun dan banyak memberi manfaat bagi masyaralat. Fakta yang nyata dapat menyerap tenaga kerja yang jumlahnya mencapai belasan ribu buruh (sebelum pandemi).

Mereka yang bekerja di pabrik alas kaki, tidak hanya penduduk Kabupaten Cianjur, tetapi dari daerah-daeran lain seperti dari Bogor, Sukabumi, Bandung dan Jawa Tengah, bahkan ada dari luar P. Jawa seperti P. Sumatra.

Tidak hanya itu, perekonomian di sekitar pabrik tumbuh pesat dengan lahirnya para pedagang. Tumbuhnya bisnis kos-kosan, usaha penitipan sepeda motor dan kegiatan usaha lainnya yang digeluti warga masyarakat yang bertempat tinggal di sekitar pabrik.

Selain itu, yang menarik harga tanah di sekitar pabrik, naik tajam yang semula hànya Rp. 300 ribu per meter yang lokasinya pinggir jalan kini berkisar antara Rp. 3 s/d Rp. 3, 5 juta per meter. Sedangkan yang bukan pinggir jalan antara Rp. 500 ribu s/d Rp. 2 juta per meter. Luar biasa, memang.

Pabrik sekaramg sudah terlanjur dibangun, dan banyak memberi manfaat. Namun masih ada orang atau kelompok yang terus berkutat mempermasahkan pabrik tersebut dan tidak tanggung-tanggung mendesak pemerimtah daerah agar menjatuhlan sanksi.

Kemudian jika saja pemerintah daerah (pemda) menjatuhkan sanksi, misalnya menutup pabrik tersebut (Saya yakin pemda tidak akan menutupnya). Maka akan muncul pertanyaan besar ; Jika pabrik itu, ditutup oleh pemda, apakah sang pemohon bisa menggantikan lapangan kerja baru bagi belasan ribu buruh. Apakah bisa menyediakan tempat usaha baru bagi warga masyarakat di sekitar eks pabrik ? Kemudian apakah lahan eks pabrik akan dijadikan lagi lahan sawah lantas statusnya lahan sawah itu nantinya jadi milik siapa dan siapa yang herhak atas sawah itu. Pertanyaan-pertanyaan besar seperti itu akan muncul dan berkepanjangan.

Bro, pabrik sudah terlanjur banyak memberi manfaat. Barangkali dengan pikiran yang sehat atau bijaksana bagaimana agar perusahaan itu, lebih maju dan semakin berkembang, sehingga lebih banyak menyerap tenaga kerja. Atau mendorong pengusaha untuk dapat meningkatkan kepeduliannya terhadap masyarakat di sekitar pabrik seperti peduli dalam pembangunan lingkungan melalui dana CSR. Wallohu’alam.

About dwidjo -

Check Also

Hate Speech Dan Pasal Karet UU ITE

Oleh: Dr. H. Joni,SH.MH *Penulis, Notaris tinggal di Sampit. Ujaran kebencian (Inggris: hate speech), dalam …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *