Telepon di Awal Ramadhan

Bekasi Ora (11)

Ramadhan setiap tahun tiba. Setiap Ramadhan itulah ibu selalu berpesan kepada anak-anaknya, termasuk saya yang jarang pulang karena berbagai alasan meski hanya alasan klasik dan dibuat-buat.

“Wi. Sesuk poso ojo lali, mbayar zakat. Njuk masjid adate ono takjilan ojo lali yo,” begitu ibu selalu berpesan. Setiap awal Ramadhan, selalu hal-hal seperti itu yang diingatkan.

Ibu menyampaikan pesan itu melalui telepon seluler, meski sudah sepuh masih awas menandai kontak anak-anaknya satu per satu. Meski terkadang salah sasaran, “Iki sopo yo,” kata ibu di seberang sambungan telepon.

Pesan seorang ibu yang sederhana, namun memiliki makna mendalam. Pesan yang hanya bisa dimaknai kami anak-anaknya saja. Karena bukan hanya kalimat yang tersurat, melainkan banyak pesan di baliknya.

Pesan yang sengaja tidak diucapkan, namun kami anak-anaknya menjadi wajib untuk memahami. Untuk mengerti dan memahami. Tanggap ing sasmito, mengetahui dengan membaca kalimat-kalimat yang tidak diucapkan secara lisan.

Ramadhan layaknya masyarakat, kebutuhan dapur bertambah. Bukan berkurang, justru menu sahur dan berbuka sedikit berbeda dari masakan biasanya.

“Bapakmu mesakke nek ora ono lawuhe,” demikian ibu menambahkan, meski kalimat seperti itu tidak diperlukan. Namun ibu tetap menyampaikan sekedar untuk memperkuat pernyataan sebelumnya.

Sudah menjadi kewajiban kami, anak-anaknya. Memberikan apa kebutuhan ibu bapak, meski terkadang lalai dan baru tersadar setelah ibu menyampaikan pesannya. Sering ibu harus menelpon terlebih dahulu baru kami tersadar.

Nyuwun keikhlasanipun Romo Ibu, kulo sak kadang mboten saget wangsul ngesuhi rikolo bapak lan ibu mbetahaken. Maafkan kami anak-anakmu yang lebih memilih tinggal berjauhan seperti mengabaikan bapak ibu. Di akhir hayat bapak ibu harus berjuang berdua, ketika badan keduanya sudah ringkih.

Allahumaghfirli wali walidaya warhamhuma kama rabbayani soghira. Ampuni kami ya Allah, kami semua lalai membiarkan keduanya dalam sepi, kesendirian yang panjang.

Ampuni kami ya rabbana, kami tidak mampu berkata tidak untuk semua hal yang tidak penting. Kami seperti mininggalkan bayi di tepi hutan, tanpa pengawasan. Kami hanya sesekali pulang untuk kembali lagi meninggalkan bayi merana.

Mohon ampunan-Mu ya rabbana, astaghfirullahal adzim. Allahuma firli waliwali daya warhamhuna kama rabbayani soghira. (D)

About dwidjo -

Check Also

Burung Suit Cungcuing

Oleh Man Suparman BAGI sementara orang yang mempercayainya, jika mendengar  suara nyanyian burung Suit Cungcuing, ada …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *