Tradisi Wiwitan Untuk Lestarikan Budaya dan Lingkungan

Gotakan, Koranpelita.com

Wiwit Agung (Wiwitan), tradisi memelihara alam dan lingkungan berlangsung di Gotakan, Panjatan, Kulon Progo, DI Yogyakarta, Ahad 4 April 2021.

Kundha Kebudayaan Kulon Progo bekerja sama dengan Saber Budaya Menoreh (SBM) menggelar tradisi tahunan tersebut sebagai usaha melestarikan tradisi yang sudah ada
sejak zaman nenek moyang.

Wiwitan ritual tradisi masyarakat Jawa sebelum panen padi. Wiwitan dilakukan sudah ada sejak zaman nenek moyang.

Masyarakat Jawa juga menyebut bumi adalah sedulur singkep karena bumi dianggap sebagai saudara manusia yang harus dihormati, dijaga dan dilestarikan untuk kehidupan.

Ketua Umum SBM Drs R Kawarna menyampaikan ucapan terimakasih ke segenap pihak yang telah membantu terlaksananya kegiatan Wiwit Agung.

Diharapkan pemangku kebijakan seperti Kalurahan Kundha Kabudayan untuk senantiasa membantu kegiatan yang lain ke depannya karena SBM masih memiliki rencana kegiatan di bidang seni budaya khususnya dan kegiatan lain yang senantiasa memerlukan dukungan dana dan motivasi.

Lurah Gotakan Supriyanta memberikan apresiasi ke SBM yang telah mengupayakan terselenggaranya kegiatan ini dan beliau juga mohon untuk senantiasa SBM bisa bersinergi dengan pamerintah Kalurahan Gotakan di segala bentuk kegiatan yang positif.

Mardiyoto saat menyampaikan sambutan dari Kundha Kabudayan mengemukakan rasa terimakasih ke SBM bahwa telah membantu menyelesaikan laporan yang ada keterkaitan dengan kegiatan Ranah Kundha Kabudayan. Dari Siter Gadon dan yang sekarang Wiwit Agung.

Kundha Kebudayaan berharap agar supaya tidak segan-segan merangkul Kundha Kabudayan dalam upaya melestarikan seni budaya yang Adi Luhung.

Dilanjutkan inti acara wiwitan Agung yang pertama doa kejawen Randi Sutrisno yang menjelaskan satu persatu makna dari ubarampe yang ada di hadapan undangan.

Dari empon-empon, tukon pasar wohwohan nasi gurih nasi tumpeng, golong, daun salam, daun janur, daun awar-awar, daun dadap srep yang masing-masing memiliki arti tersendiri.

Golong artinya niat atau semangat yang sudah golong giling. Tumpeng metune mempeng artinya keluarnya lebih atau panenya berlimpah. Daun salam menggambarkan salam keselamatan, daun kluwih minta supaya rejekinya luwih, lebih. Daun Dadap Srep selalu bisa nyirep hawa nafsu jahat. Awar-awar penawar dari segala bentuk kejahatan atau gangguan jin setan.

Sebagai identitas dari daharan wiwitan adalah sambel gepleng yang terbuat dari kedelai hitam dan kuning kelapa dengan bumbu kencur cabe, gula merah, asem Jawa. Adapun makna dari sambel gepleng sendiri adalah tekat petani yang sudaj benar-benar gembleng mempeng untuk menggarap sawah supaya bisa panen yang berlimpah.

Hasilnya ingkung, ayam jago yang dimasak utuh, diingkung dimaknai masyarakat selalu manekung taat perintah Yang Maha Kuasa.

Setelah dibacakan doa terakhir, nasi dibagikan dengan lauk suwiran ingkung ayam dan sambel gepleng. (Hendarti Handayani)

About dwidjo -

Check Also

HUT Ke 441 Kota Tegal, Jajaran Pemkot Ziarahi Makam Ki Gede Sebayu

Tegal, koranpelita.com – HUT Ke-441 Kota Tegal, jajaran Pemerintah Kota Tegal ziarahi makam pendiri Kota …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *