APD Covid 19 RSDP Serang Menipis

Serang, Koran Pelita.com

Wakil Direktur Keuangan RSDP Serang, Encup Suplikah mengeluhkan ketersedian Alat Pelindung Diri (Apd) tenaga medis penanganan Covid 19 di Rumah Sakit Drajat Prawiranwgara (RSDP) menipis.

Encup menyebutkan, pihaknya membutuhkan 150 ribu masker untuk tenaga medis. Kemudian, terkait APD ketersediaannya hanya sampai akhir Desember 2020.

Kendati demikian, pihaknya masih mencari donatur untuk di tahun 2021 dengan harapan masa pandemi ini lebih cepat berakhir.

“Kita masih nyari donasi, yang sudah terkumpul untuk 3 bulan sampai Desember masih cukup. Mudah-mudahan ada penurunan pasien covid-19, karena saat ini hanya pasien OTG didominasi masih muda,” kata Encup usai menerima kunjungan kerja (kunker) DPR RI di Pendopo Kabupaten Serang, Jum’at (27/11).

Sementara, Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI), Tubagus M Ali Ridho Azhari mengatakan, dalam kunjungan kerja (kunker) ke Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Serang, Ia mengatakan, kunkernya dalam rangka menyerap aspirasi Pemkab Senang selama menangani pandemi covid-19.

“Jadi ada keterkaitan dengan Badan Urusan Legislasi Daerah (BULD DPD RI) bagaimana sinkronisasi Pemkab Serang dengan Pemerintah Pusat dikarenakan adanya pandemi covid-19. Jadi apa saja kendala-kendalanya, kemudian apa saja yang kiranya apsirasi daerah yang akan saya bawa ke pusat,” katanya Ali kepada wartawan.

Kemudian, berdasarkan hasil diskusi, disampaikan aspirasi terkait kendala penanganan pasien covid-19, dimana persedian alat pelindung diri atau APD bagi tenaga medis Rumah Sakit Drajat Prawiranegara (RSDP) Serang persediaannya sudah menipis hanya bisa digunakan sampai akhir Desember 2020.

“Kemudian juga membutuhkan 150 ribu masker, untuk bantuan masker harus sesegera mungkin karena sudah menipis yang digunakan tenaga medis RSDP Serang,” katanya.

Disisi lain pihaknya menanyakan terkait protkol kesehatan (prokes) yang sudah dilakukan oleh Pemkab Serang. Mengingat, saat ini kasus positif covid-19 mengalami peningkatan paska libur panjang.

“Peningkatan kasus positif bisa jadi karena ada libur panjang karena mau tidak mau pemerintah membuka tempat wisata dan lainnya karena dampak ekonomi sudah sulit. Ini sebuah simalakama, mau tidak mau harus di buka karena selama ini banyak yang kehilangan pekerjaan. Disisi lain, masalah kesehatan juga harus diperhatikan,” ujarnya.

Sedangkan terkait biaya pasien covid-19 yang menggunakan BPJS Kesehatan perlu disampaikan ke Pemerintah agar di cover oleh pemerintah juga. “Ini juga segera disampaikan ke pemerintah,” tutur Ali Ridho. (MR/Rah))

About dwidjo -

Check Also

Pasien Thalasemia Tidak Bercampur Pasien Lain di RSUD dr Murjani Sampit

Sampit, Koranpelita.com. Menyahuti keinginan dan keluhan pengidap penyakit thalasemia yang ingin melakukan transfusi darah secara …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *