Tionghoa Melayu yang Raih Sederet Sarjana

Dr. Nyoto, SE, SH, S.I.Kom, MH,
MM, M.Pd, M.I.Kom, Ph.D

Pekanbaru, Koranpelita.com

Orang Tionghoa selama ini identik dengan dunia bisnis. Tapi di tangan seorang Nyoto, mitos itu terpatahkan. Kamis (26/11) putra Tionghoa di Tanah Melayu Riau itu baru saja dinyatakan lulus dalam ujian S3 meraih gelar doktor (Ph.D) kedua pada Universiti Selangor (Unisel), Malaysia.

Doktor pertama di bidang Manajemen diraihnya setahun lalu di Universitas Pasundan (Unpas), Bandung. Bahkan, kini Nyoto masih dalam proses menyelesaikan program Doktor Sejarah di Universitas Diponegoro (Undip), Semarang.

Nyoto yang kini menjadi dosen tetap Institut Bisnis dan Teknologi Pelita Indonesia sebelumnys sudah meraih tiga gelar S1 dan empat gelar S2 dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Oleh sebab itu, bila nama Nyoto ditulis lengkap dengan semua gelar pendidikan yang diraihnya menjadi: Dr. Nyoto, SE, SH, S.I.Kom, MH, MM, M.Pd, M.I.Kom, Ph.D

Nyoto mempertahankan
disertasi berjudul ‘Integrasi Pendatang Tionghoa dalam Masyarakat Pribumi Indonesia (Studi Kasus di Pekanbaru, Kepulauan Meranti dan Rokan Hilir) di bawah dosen pembimbing Prof. Dr. H. Mohd Zaidi bin Mohd Hajazi. Saat ujian daring tersebut di Pekanbaru, Nyoto didampingi Dr. drh. Chaidir, M.M sebagai observer.

Sidang disertasi Nyoto tersebut dengan Chairman Prof.Dr.Md. Sidin bin A. Ishak dan Majelis Penguji Eksternal yakni Prof Dr. Mansor Mohd. Noor (UKM), Prof. Dato Dr. Wan Hasyim Wan Teh (Universiti Pertahanan Malaysia) dan Penguji internal adalah Prof Dr. Mohd Nor Nawawi, Assc. Prof Dr. Setyawan Widyarto, Assc Prof. Dr Hamdan Bin Mohd Salleh dan Assc. Prof. Dr. Mohammad Daud.

Nyoto usai dinyatakan lulus ujian doktor tersebut kepada Tirastimes.com mengungkapkan rasa bahagianya. Apalagi ujian ini digelar dalam suasana pandemi Covid 19 yang tidak memungkinkannya datang secara tatap muka di kampus Unisel, Selanģor, Malaysia.

”Saya benar-benar bersyukur kepada Tuhan telah berhasil melewati ujian doktor ini,” ujar Nyoto.

Berbagai ucapan selamat pun berdatangan dari keluarga, kerabat, kolega dan pihak Unisel sendiri baik disampaikan langsung maupun lewat media sosial.

”Tahniah di atas kejayaan Nyoto menyelesaikan tesis dengan baik dan dianugerah Ph.D dengannya. Terus menulis perihal kehidupan rakyat kepelbagaian etnik,” ucap Prof Dr Mansor dari UKM lewat WA yang menjadi penguji Nyoto.

Sementara, sahabat Nyoto sesama mahasiswa S3 Unisel, Fakhrunnas MA Jabbar dan Yeye Rahmat Akbar mengucapkan selamat atas raihan gelar Ph.D bagi Nyoto.

”Terus terang saya bangga dengan prestasi Adinda Nyoto yang sangat gigih dan bekerja keras dalam mewujudkan cita-citanya,” kata Fakhrunnas yang jadi dosen Universitss Islsm Riau (UIR) Pekanbaru.

”Keberhasilan Pak Nyoto ini menjadi motivasi bagi kami untuk menyelesaikan pendidiksn S3 di Unisel. Dulu Pak Nyotolah yang memperkenalkan Unisel dsn mengajak kami untuk mengambil program S3 di kampus yang ssma,” ucap Yeye yang sehari-hari sebagai dosen tetap STIE Persada Bunda, Pekanbaru.

Keluarga Sukses. Nyoto lahir di Citaman Jernih, Deli Serdang, Sumut, 10 Oktober 1968. Ihwal perantauan Nyoto di Pekanbaru diawali pada tahun 1989 Nyoto dipindahtugaskan olrh perusahaan tempatnya bekerja.

Selama bertugas di Pekanbaru inilah, Nyoto bertemu Lily, dara Tionghoa asal Pekanbaru yang dinikahinya. Dari perkawinan tersebut, mereka dianugerahi dua putri masing-masing Teresa Pranyoto dan Rebecca Vola Nyoto.

”Saya sejak dulu merasa sudah jadi orang Riau karena istri memang orang Riau. Saya bangun rumah di sini. Segalanya kami lakukan di sini. Di kampung kelahiran hanya tinggal abang saya,” cerita lelaki penggemar burung ini. Saat berbincang lewat telepon genggam terdengar suara nyaring burung jalak dan kutilang saling bersahutan.

Nyoto dan Lily terbilang sukses membesar kedua putrinya yang kini berada di perantauan. Anak pertama Teresa Pranyoto kini bekerja di Google Australia. Teresa tamatan S1 Komputer UI. Prestasi Teresa luar biasa karena semula hanya magang di Google Indonesia namun betkat kecerdasan dan keahlian nya di bidang komputer dan IT, Teresa direkrut bekerja di tempat magangnya. Teresa kemudian ditugaskan di Jakarta dan Belanda selama enam bulan. Berkat prestasinya di Australia, Teresa mau dipromosikan untuk pindah tugas dengan jabatan lebih tinggi di Amerika Serikat.

”Teresa menolak jabatan di Ametika itu. Alasannya sederhana karena lingkungan kerja di Australia jauh lebih bersih dan friendly,” kata Nyoto.

Sementara putri keduanya, Rebecca Volla Nyoto, S.Kom (UI) sekarang sedang mengambil S2 di UI Jurusan Magister Teknik Informasi Komputer. (fjb)

 

About dwidjo -

Check Also

Hero Luncurkan Rumah Belajar Online

Tangerang Selatan, Koranpelita.com Pandemi COVID-19 yang belum kunjung selesai membuat Pemerintah Kota Tangerang Selatan, Provinsi …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *