NKS Menulis Tasik: Kembali ke Titik Ikonik…

Ini masih tentang hujan. Hujan di akhir Oktober. Hujan yang membawa saya melintasi dimensi. Menuju masa lalu, saat waktu tanpa alang kepalang, mengajak bertualang. Dan, Tasik datang di antara rintik yang ritmik.

Bagi saya, Tasik adalah sisik melik yang pernah menjadi persinggahan penting, ketika jiwa sedang ditantang aura kembara. Begitulah. Nun jauh di kesilaman, saya pernah singgah di Tasikmalaya dalam suasana mengembara.

Memang. Saat itu, saya adalah nom-noman Nganjir yang banjir anasir petualangan. Apalagi, statusnya mahasiswa. Mahasiswa saja, masih perlu diteruskan dengan menyebut nama ITB. Jadi lengkaplah, kebanggaan di dada, meski setelah tak pikir-pikir, kok njelehi juga kecongkakan saya waktu itu.

Tapi sesekali, perlu juga dikenang semua yang memalukan itu. Atau, paling tidak, sebagai pengusir kantuk buat Mas Tejo, yang melarikan mobil seolah tanpa rem, sejak dari Depok, masuk tol, hingga menyusuri jalanan meliuk di punggung perbukitan tanah pasundan.

Nah sialnya, saat saya cerita  dari Wates numpang truk plat D (yang saya percaya akan membawa saya sampai ke Bandung dengan gratis), Mas Tejo mendengar sambil sesekali manggut-manggut penuh ketakjupan. Ekspresi Mas Tejo itu, secara begitu saja menjebak saya menemukan sisa kecongkakak masa lalu, yang ternyata tak sepenuhnya terkubur oleh waktu.

Saya tidak ingat betul, mengapa waktu itu, tiba-tiba saja, berani menghentikan truk kosong, lalu izin menumpang. Barangkali pak sopir juga sedang iseng, butuh teman di perjalanan. Itung-itung, nolong orang yang kelihatannya memelas nunggu bis di pinggir jalan.

Lumayan juga. Pak sopir bukan hanya baik hati, tapi juga ramah, dan pencerita ulung. Sepanjang perjalanan dari Wates hingga tlatah Pasundan, saya mendapat pengalaman tentang bagaimana di jalan ia memperoleh orderan yang mengharuskan menunggu bongkar muat barang.

Kadang-kadang, saya ingin bertemu dengan Pak sopir baik hati itu. Sayangnya, puluhan tahun lalu, belum ada tradisi telepon genggam yang membuat perkenalan terasa lebih mudah, bahkan untuk saling bertukar alamat dan cara menghubungi. Saya hanya bisa berdoa, semoga pak sopir mendapatkan kebaikan yang sama setelah memberi kebaikan bagi saya.

Maka seperti begitu saja, truk sudah berhenti. Bukan di Bandung, tapi di Tasikmalaya, kota yang sama sekali tidak pernah saya bayangkan, akan menjadi persinggahan penting. Dari Tasik, terpaksalah, saya  meneruskan perjalanan dengan bus menuju Bandung.

Meski serba sesaat, sekadar pindah dari truk ke bus, tapi Tasik menjadi titik tak terlupakan dalam hidup saya.  Juga terminal yang tidak banyak berubah, saat saya kemarin melintas bersama Mas Tejo. Tiba-tiba saja, saya serasa melihat bayangan cah nggunung yang berjalan cepat menuju bus yang sudah siap berjalan ke Bandung.

Kembali ke sini dalam hujan yang merinai, membuat Tasik tampil dalam mozaik bintik-bintik yang sangat romantik di kaca mobil. Gerimis telah merubah masa lalu di Tasik menjadi terasa ikonik. Saya merasa de javu. Seperti terlempar di masa lalu. Saya baru dibawa kembali ke masa kini oleh aroma bakso yang menggoda.

Tapi pasti bukan tergoda aroma bakso Tasik, jika tiba-tiba Pak Seto (Kepala Kantor Cabang BPJAMSOSTEK Tasikmalaya) dan Pak Oki (Asdep Umum dan SDM Wilayah Jabar) datang bergabung. Suasana Tasik di waktu malam, akhirnya mengalir dengan riang, menggeser cerita penuh tualang dari masa silam.

Pagi harinya sudah dirancang untuk olahraga pagi, namun hujan menghalangi. Akhirnya saya mengecek apakah sepagi ini telah ada peserta yang mengantre di BPJAMSOSTEK Cabang Tasikmalaya. Alhamdulillah tak terlihat lagi antrean yang menandakan salah satu ukuran keberhasilan transformasi digital dengan layanan tanpa kontak fisik atau lapak asik mulai nampak.

Tak berolah raga karena terkendala hujan, bukan berarti tidak boleh menyicipi bubur H Zaenal yang legendaris. Saya sudah membayangkan, pasti sangat memikat, melihat bubur bertabur suwir-suwir  ayam kampung yang termasyhur.

Bubur ini ngehits meski berada di gang sempit.  Sudah puluhan tahun berdiri, karena konon bubur ini telah dijajakan secara keliling di tahun 1961-1969. Ketika gerobak yang membawa bubur telah habis buburnya, banyak warga sekitar rela mendatangi rumah pemilik H Zaenal. Dari sinilah ide untuk membuka warung di rumahnya muncul.

Lalu tahun 1969, Pak Zaenal mantap menetap berjualan di Jalan R Ikik Wiradikarya No 33 Tasikmalaya. Sengaja saya tidak menyantap banyak bubur enak itu. Ada agenda lain yang mesti saya penuhi sehingga perut jangan sampai penuh terisi.

Pukul 07.30 WIB saya sudah berada di Kantor Cabang Tasikmalaya untuk ikut morning briefing. Banyak pesan yang saya sisipkan untuk menyemangati seluruh rekan menunaikan kewajiban, termasuk menjaga kesehatan dan kekompakan.

Saya pun ingin tahu seperti apa pelaksanaan operasional baik pendaftaran kepesertaan maupun pelayanan di masa pandemi. Penting untuk memastikan protokol kesehatan untuk keselamatan karyawan dan peserta. Juga tentang transformasi digital yang sedang digalakkan di BPJAMSOSTEK adakah hambatan dan kendala.

Insan BPJAMSOSTEK yang rata-rata anak muda seperti yang saya duga tidak memiliki kendala menerapkan pemrosesan klaim secara digital. Beberapa kendala datang justru dari peserta karena bervariasinya latar belakang dan usia peserta, kurangnya pemahaman, dan teknologi yang mereka miliki tidak mensupport.

Saya mengucapkan terimakasih kepada Pak Seto, Kepala Cabang Tasikmalaya, dan Pak Oki Asdep Umum dan SDM untuk terus semangat menjalankan program-program dan kegiatan strategis institusi. Banyak program pemerintah kini menggunakan data BPJAMSOSTEK yang tentunya baik untuk menaikkan branding dan menggunakan kesempatan ini untuk menambah kepesertaan.

Di sela-sela kunjungan, ternyata Pak Kakacab sudah menyiapkan Nasi TO untuk sarapan kedua saya. Awalnya saya tidak paham ketika melewati jalanan di Tasik membaca tulisan jual Nasi TO. Saya kira hanya nasi tok tanpa lauk pauk. Ternyata yang dimaksud Nasi TO adalah Nasi Tutug Oncom.

Nasi yang kesannya kotor seperti tercampur dengan tanah ini, awalnya merupakan makanan rakyat pada zaman susah. Tapi nasi TO yang dulunya identik sebagai makanan orang kecil, berubah menjadi santapan semua orang. Termasuk ‘orang-orang’ besar. (*)

Nami Kulo Sumarjono

About NKS

Check Also

Wayangan Virtual Sahabat Ngopi-KPDJ Dihadiri 4 Ketua Paguyuban DIY

Tokoh-tokoh perantau dari Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), memastikan menjadi bagian dari 20 orang undangana khusus, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *