Beasiswa Investasi Masa Depan, Siapa Siap Dia yang Dapat

Jakarta, Koranpelita.com

Beasiswa yang diberikan institusi pendidikan, baik tingkat SMA ataupun S1, S2, dan S3 pada dasarnya merupakan kompetisi memperebutkan peluang. Setiap pemburu beasiswa harus mempersiapkan diri dari sisi akademis dan nonakademis.

Demikian kesimpulan webinar “Tips dan Trik Memburu Beasiswa”, DPP Partai Golkar Bidang Pendidikan dan Kebudayaan memperingati Hari Sumpah Pemuda, kemarin. Diikuti 130 peserta dari berbagai daerah, dan dihadiri sejumlah anggota Dewan dan pemerhati pendidikan.

Narasumber yang hadir antara lain Kepala Pusat Pembiayaan Pendidikan Kemendikbud Dr Abdul Kahar M.Pd, Wakil Ketua Umum DPP Bidang-bidang Kesra/Wakil Ketua Komisi X Dr Hetifah Sjaifudian MPP. Dimoderatori Sekarwati, Wakil Sekjen DPPP Bidang Pendidikan dan Kebudayaan

Selain itu juga, tampil Wakil Ketua Young Leaders Sisterhood penerima Beasiswa Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono untuk studi S2, Master of Public Administration (MPA) in Economic Policy, di London School of Economics and Political Science (LSE), Inggris.

Hadir juga sebagai narasumber praktisi pendidikan Fitri Tandjung Bsc dan praktisi Pendidikan/Jurnalis Senior Suradi, M.Si yang ketiga putri dan putranya meraih beasiswa di negara Montenegro, Eropa Selatan, Madrid-Spanyol, dan Maine, Amerika Serikat.

Ketua Bidang Pendidikan dan Kebudayaan DPP Partai Golkar Dr Agustian Budi Prasetya MPA mengapresiasi para narasumber webinar “Tips dan Trik Memburu Beasiswa”, yang diadakan oleh Bidang Pendidikan dan Kebudayaan.

Menurutnya, memburu beasiswa harus memiliki niat, kepercayaan diri dan keberanian untuk berkompetisi, merubah diri mendapatkan tingkat Pendidikan yang lebih tinggi. Pada posisi ini pesan Sumpah Pemuda menjadi penting untuk generasi muda, kata dia.

Melalui beasiswa generasi muda mendapat kesempatan mewujudkan cita cita untuk pribadi, bangsa dan negara Indonesia. Untuk itulah seminar ini diselenggarakan DPP Partai Golkar Bidang Pendidikan dan Kebudayaan.

Kepala Pusat Pembiayaan Pendidikan Kemendikbud Dr Abdul Kahar M.Pd menjelaskan strategi meraih beasiswa. Diantaranya cari beasiswa sesuai bidang studi yang diinginkan, persiapkan diri dan masukan berkas beasiswa lebih awal.

“Khusus untuk S2 dan S3 di luar negeri harus mempersiapkan diri minimal setahun, harus detil embaca informasi prodi, dan banyak membaca karya professor yang nanti akan menjadi mentor,” katanya.

Kahar mengungkap banyak informasi beasiswa baik dari dalam maupun dari luar negeri. “Intinya, beasiswa itu pertarungan berebut kursi. Mereka yang siap yang akan dapat,” ujar tokoh yang lama memimpin lembaga pembiayaan beasiswa LPDP ini.

Atasi Kesenjangan

Sementara Wakil Ketua Umum DPP Bidang-Bidang Kesra yang Wakil Ketua Komisi X, Dr Hetifah Sjaifudian mengatakan, beasiswa bertujuan untuk mengatasi kesenjangan kelompok masyarakat miskin dan kaya, karena dengan pendidikanlah prubahan sosial dapat terjadi.

“Kita wajib menyediakan akses pendidikan yang luas bagi seluruh masyarakat Indonesia, karena itu DPR RI, khusus Komisi X aka mendukung kebijakan Presiden Joko Widodo yang menginginkan SDM Indonesia makin meningkat,” katanya.

Hatifah menjelaskan, data persentase pendidikan terbesar ada pada kelompok pendidikan SD 43 persen, SMA 26,4 persen, SMP 21,2 persen dan perguruan tinggi masih 8,8 persen. “Jadi, akses ke pendidikan tinggi masih terbatas. Kita harus membantu perluasan akses ini,” katanya.

Sedangkan narasumber lain, Amira Kaca, alumni ITB Bandung yang juga penerima beasiswa & LSE (Master of Public Administration in Economic Policy, 2015-2017) menyarankan pemburu beasiswa aktif membuka portal informasi beasiswa dan organisasi pemberi beasiswa.

Kaca menyarankan juga untu mempelajari latar belakang dan visi misi organisasi yang memberikan beasiswa, apa tujuan dari beasiswa tersebut, juga profil penerima beasiswa yang ideal (bidang studi, negara tujuan, track record?). “Lakukan asesmen apakah profil kita cocok dengan beasiswa tersebut dan apakah ada hal yang bisa kita tingkatkan dari diri kita agar lebih kompetitif,” ujar pengurus di Bidang Dikbud DPP Partai Golkar.

Sementara raktisisi pendidikan dan media, Suradi Msi yang tampil bersama putra-putrinya bercerita bagimana mempersiapkan ketiga anak-anaknya sejak kecil, sehingga ketiga anaknya mendapat beasiswa di AS, Madrid, dan Montenegro.

Kedua anak Suradi yakni Rachmadiani Lestari dan Muhammad Rizky menceritakan pengalaman berjuang meraih beasiswa di luar negeri. Rachmadiani Lestari yang baru menyelesaikan pendidikan sarjana Hukum Bisnis di IE University, Madrid, Spanyol, Juli 2020 lalu mengatakan perjuangannya tidak sia-sia. Lulus dari SMAN 8 Jakarta 2016, dia berangkat ke Madrid.

Dalam webinar itu Rachma, sapaan akrab Rachmadiani Lestari membagi tipsnya yakni mempersiapkan berbagai hal yang disyaratkan, baik nilai akademis, pengalaman organisasi, pengabdian masyarakat, latihan menulis esai, dan yang tak kalah penting persiapan mental untuk hidup dan belajar, jauh dari orang tua.

Selama kulaih Rachma aktif dalam kegiatan kampus, kegiatan organisasi seperti PPI (Persayuan Mahasiswa Indonesia di luar negeri), mengikuti berbagai lomba antarkampus, dan magang di sejumlah kantor hukum.

Begitu juga sang adik, Muhammad Rizky yang lebih berani lagi karena setelah lulus dari SMP Labschool Rawamangun, Jakarta, 2018, berangkat ke Montenegro, Eropa Selatan untuk menempuh studi tingkat SMA di Knightsbridge Schools International (KSI).

Saat ini Rizky duduk di klas 3 dan tengah mempersiapkan diri untuk aply beasiswa kuliah di AS dan sejumlah negara Eropa. Menurut Rizky, sejak naik klas 3 atau klas 9 SMP, dirinya rajin brouwsing mencari informasi beasiswa untuk tingkat SMA. Meski jarang, tetapi ada beberapa institusi pendidikan yang menawarkan beasiswa dengan syarat cukup ketat. ”Saya berhasil lolos diKSI Montenegro,” katanya.

Seperti kakaknya, Rizky juga menyarankan agar mereka yang ingin sekolah ataupun kuliah di luar negeri, rajin mencari informasi di internet, dan juga bertanya kepada yang sudah berpengalaman ataupun mengikuti seminar seperti ini.

Selain itu, persiapan lain yang mutlak disyaratkan harus dipersiapkan seperti kemampuan Bahasa Inggris lisan dan tulisan untuk membuat esai, asah keterapilan lain baik seni maupun budaya, ikut organisasi di sekolah dan di luar sekolah, dan harus berani menghadapi berbagai tantangan. (kh)

About khairul habiba

Bekerja di Harian Pelita sejak tahun 1986, mulai dari wartawan hingga redaktur politik dan terakhir sebagai redaktur senior. Sekarang sebagai Redaktur Ahli di Koranpelita.com

Check Also

Menteri LHK Siti Nurbaya: Penting, Jurnalisme Lingkungan

Jakarta, Koranpelita.com Menghormati dedikasi seorang jurnalis dalam membantu pelestarian lingkungan, Kementerian Lingkungan HIdup dan Kehutanan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *