Beras Lokal Bisa Perbaiki Nasib Petani di Masa Pandemi

Jakarta, Koranpelita.com

Tekanan masa pandemik membuat petani penggarap ini memaksakan kemampuan dan kekuatan saya utnuk menjual hasil taninya sendiri. Menggarap tanah 7.500 meter persegi bersama keluarga besar.

“Saya selama pandemik merintis penjualan beras lokal dari kampung saya di Sabah Mempawah. Kampung saya sekitar 60 km ke kota Pontianak. Untungnya rumah sayadi jalan propinsi sehingga jarak tempuh tidak menjadikan kendala. Tetapi menjadi tantangan,” ujar Fetrus Anyim penulis buku Petani Penopang Tatanan Tanah Air.

Itu disampaikan dalam Book Review hari ini, 29 Oktober yang berlangsung online. Selain buku ini ada dua buku lainnya.

Kisah nyata seorang Ibu Tunggal berusia 60 tahun lebih, anak-anaknya yang sudah dewasa tiba-tiba berhenti dari pekerjaannya sebagai pekerja wisata. Tempat kerjanya tak ada turis datang. Penerbangan sepi. Bali kota di mana mereka tinggal. Maka si Ibu dengan semangat dan doa mendorong anak-anaknya tegar dan merintis usaha keripik ikan. Pelan tapi pasti berkat uluran tangan Pemerintah Daerah satu persatu tantangan bisa ditaklukan.

“Pemda Bali mendorong para pegawai daerah untuk berbalanja di UKM. Disediakan hari belanjanya disediakan pasarnya, sehingga kita yang tiba-tiba berganti profesi terbantu,” kata Anggariasih Maro penulis buku Dero Fish Chips, Balinese Food. Makanan Khas Bali, Kripik Ikan Dero.a

“Jika hal seperti ini diterapkan di seluruh Indonesia alangkah bagusnya. Semuanya bisa terbantu dan segera bangkit,” lanjutnya.

Di perkotaan Lombok, Nusa Tenggara Barat, Nurul Utami merangkul kawan dan sahabatnya yang terkaget karena pandemik untuk melakukan Urban Farming. Bilangan bulan jatuh bangun mengantarkan usaha ini sanggup menyelamatkan banyak keluarga perkotaan menekan pengeluaran rumah tangganya sekaligus berhasil mengkonsumsi hasil pangan hijau yang alami.

Ketiga cerita itu nyata terjadi dituliskan oleh Ibu Tunggal dari Bali Anggariasih Maro, petani Fetrus Anyim dan Nurul Utami dalam buku dwi bahasa yang ditulisnya sendiri. Buku ini diterbitkan internasional dalam platform dijital dan online. Dilengkapi ISBN, buku berhalaman kurang dari 50 ini dihiasi gambar dan disain menarik.

Para penulis ini mengikuti kelas menulis gratis yang dipandu Tiga Sekawan Footprint Research dengan dukungan Koran Pelita. Juga dukungan peserta dari Forum Pemberdayaan Perempuan Indonesia . FPPI dipimpin Linda Poernomo . Ikut terlibat juga anggota Ikatan Pekerja Sosial Masyarakat. IPSM dalam hal ini dimotori Siti Aliptinah dan Giwo Rubiyanto Wiyogo.

Para penulis mengaku menulis dan tulisannya bisa terbit sebagai buku dalam pasar internasional bisa menjadi obat bagi mereka. Healing. Bangga. Semakin semangat mengatasi rintangan selama pandemik.

Pustakawan dari Bali, Aliverni, berujar buku-buku seperti ini perlu ada di perpustakaan di daerah-daerah mereka.

“Minimal di Bali saya akan mendorong buku seperti ini bisa dibaca oleh khalayak luas di sini. Ini perlu. Lagi di Bali banyak sekali perpustakaan daerah yang disubsidi Pemerintah dan yang juga mandiri.” katanya.

Putu Eka Ketua Forum Pemberdayaan Perempuan Indonesia Bali yang hadir sebagai pembahas buku Dero FIsh Chips sebagai makanan khas bali menyatakan haru dan salut pada perjuangan Ibu Tunggal yang sekaligus penulis buku ini. (D)

About dwidjo -

Check Also

Nasdem Siapkan Perangkat Konvensi Capres-Cawapres 2024

Jakarta, Koranpelita.com Dewan Pakar Partai Nasional Demokrat (Nasdem) mulai merancang Konvensi Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *