Menikmati Kesejukan Jembatan Akar Cigalontang

Tasikmalaya, Koranpelita.com

Alam, hewan dan tumbuhan dengan segala karakteristik bawaannya sesungguhnya seringkali menampilkan ketakjuban alami. Ketakjuban tersebut dilihat dari perspektif wisata bisa ditangkap sebagai sebuah potensi, dan hal ini seringkali banyak tersedia di sekitar kita.

Hanya saja terkadang kita tidak menyadarinya dan dianggap sebagai hal yang biasa saja. Padahal perspektif kepariwisataan sesungguhnya suka mencari atau mengunjungi sesuatu yang tidak biasa.

Misalnya orang pedesaan senang berwisata ke kota, namun sebaliknya orang kota senang berkunjung ke pedesaan. Begitupun orang yang tinggal di pegunungan biasanya senang berkunjung ke pantai, tapi orang pantai senang berkunjung ke pegunungan. Begitulah sifat dasar manusia suka mencari atau mengunjungi sesuatu yang tidak biasanya.

“Dalam memangdang sebuah potensi wisata, jangan dilihat dari kacamata kita sendiri melainkan dari kacamata orang lain (wisatawan), “ ujar Ketua Umum Prawita Genppari Dede Farhan Aulawi ketika mengunjungi pesona jembatan akar di Cigalontang Kabupaten Tasikmalaya, Minggu (25/10).

Alamat lengkap dari pesona jembatan akar tersebut, terletak di kampung Tanglar, Desa Tenjonegara, Kecamatan Cigalontang, Kabupaten Tasikmalaya. Usia jembatan atau pohon yang akarnya bisa difungsikan sebagai jembatan tersebut diperkirakan berusia lebih dari 200 tahun. Jika selama ini masyarakat kebanyakan mengenal jembatan akar ada di Banten atau di Solok Sumatera Barat saja, maka sebenarnya di Tasikmalaya juga ada jembatan akar sebanyak 2 buah yang berlokasi di Kecamatan Cigalontang. Belum lagi keindahan alam di sekitarnya juga sangat mendukung sekali, yaitu hamparan sawah, aneka pohon hutan dan keramahan warga yang kita lalui dari tempat parkiran kendaraan menuju lokasi. Jalan yang ditempuh dengan jalan kaki dari tempat parkiran hingga ke lokasi hanya sekitar 10 menit saja. Jadi para pengunjung jangan khawatir dengan jarak atau rasa takut jalan kakinya jauh.

Meskipun jalan yang dilalui berupa pematang kolam atau sawah dan hutan, tapi jangan khawatir karena jalanan menuju tempat tersebut sudah tertata rapi. Namun demikian, tetap disarankan berjalan untuk selalu berhati – hati terlebih di musim penghujan seperti saat ini, karena jalanan tanah agak licin kalau di musim penghujan. Setelah berjalan sekitar 10 menitan saja, akhirnya kita akan sampai ke jembatan akar tersebut. Meskipun tak terlalu panjang, akar-akar pepohonan saling melilit kuat menjadi landasan warga yang melintas. Di bawahnya, mengalir Sungai Cibangun dengan batu-batu bertonjolan. Sebagian sungai juga dibendung oleh bebatuan tersebut sehingga terbentuk cekungan kolam sungai yang bisa digunakan untuk berenang. Bahkan sebelumnya pemerintah desa pernah menanam beberapa kuintal ikan di sungai tersebut, sehingga wisatawan yang punya hobi memancing ikan pun bisa melakukannya di sungai ini. Itulah sebabnya di beberapa bagian sungai tampak penduduk yang sedang memancing ikan di sungai.

Di samping sebagai objek wisata, sehari – hari jembatan tersebut juga berfungsi sebagai jembatan penghubung lalu lintas warga dari 2 desa, yaitu warga Kampung Tataru di Desa Tenjonegara dan warga Kampung Kadugede di Desa Sirnaputra. Tak jauh dari lokasi tersebut juga ada makam keramat yang cocok untuk para wisatawan yang suka berziarah. Oleh karenanya, objek wisata ini bisa diintegrasikan dengan konsep wisata spiritual. Apalagi jika dipadukan juga dengan konsep kaulinan barudak baheula, seperti ngurek belut di sawah, ngobor belut di sawah pakai patromak, dan lain – lain. Intinya memang masih diperlukan banyak sentuhan kreativitas untuk memadukannya untuk menambah daya tarik calon wisatawan. Untuk itulah pengurus DPD Prawita Genppari Kabupaten Tasikmalaya yang diketuai oleh Kang Rizal senantiasa siap sedia untuk melakukan pendampingan dalam pengembangannya.

Jika pembaca berminat untuk mengunjungi lokasi tersebut, jangan ragu untuk menghubungi kang Rizal di no 0812-8208-7237 yang siap membantu menemani kunjungan anda. (D)

About dwidjo -

Check Also

Imam Besar dengan Satu Setengah Pengikut

Oleh: Rakhmad Zailani Kiki *Penulis, Kepala Lembaga Peradaban Luhur (LPL) Kisah tentang Imam Besar dengan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *