NKS Menulis: Bukan karena si Janda, Ini Soal Gengsi…

Hujan bulan Oktober membuat bergetar. Lalu, ingatan saya dipenuhi oleh genangan sejuta kenangan. Entahlah. Tapi, hujan memang pemberi nostalgi. Selain, kerinduan. Ia seperti datang dan pergi, untuk membawa suasana romantika.

Ada kerinduan pada kampung halaman yang pada bulan-bulan Oktober akan berubah basah. Kerinduan yang menyeruak, menyesak, berhimpitan di dalam hati, karena lama tak bisa berlari mengisi hati dengan kenangan.

Memang, secara periodik, saya selalu pulang kampung. Hampir pasti, untuk mengobati rasa rindu pada masa lalu. Tapi pandemi yang nyaris setahun membelah langkah, membuat saya hanya bisa membayangkan kampung halaman dari kejauhan. Itu yang kemudian melahirkan kalimat (yang sedulur NKS menyebut romantik) Naliko Kangen Sliramu.

Hujan di akhir Oktober, juga mengirim kenangan tentang tanah, sawah, serta kehijauan. Seketika bayangan musim tanam menghampiri, memenuhi laci memori.

Sebagai wong ndeso yang lahir di dusun Nganjir, Hargorejo, Kokap, Kulon Progo, sejak dini saya telah akrab dengan alam: tanah, tanaman, bintang, dan sunyinya malam.

Tidak ada sawah di Nganjir, tapi bukan berarti saya tidak akrab dengan persawahan. Sebab, Kulon Progo adalah negeri agraris yang romantis. Datang saja pada musim padi sedang menghijau, lalu berdirilah di selatan, arahkan padangan ke utara. Yakinlah, tanpa aba-aba, akan ada decak kekaguman: melihat hamparan karpet menghijau hingga ke beranda perbukitan Menorah.

Dulu. Dulu sekali, saat saya masih kecil, dari Nganjir (desa ini terletak di punggung bukit Menoreh, jadi ada di dataran agak tinggi), saya bisa melihat pergantian dari karpet hijau ke karpet kuning, jika memandang ke selatan, ke arah laut kidul yang magis.

Dari tanah Nganjir yang lebih sering kering, bapak saya mengajari mengolah tanah yang sebagian besar berupa tanah kapur agar bisa subur untuk berbagai palawija.

Bahkan sejak kanak-kanak, saya sudah kuliah pada jurusan pertanian, dengan dosen paling berkompeten yang tak lain adalah bapak saya sendiri: petani nggunung yang tak tanggung-tanggung pengalaman hidupnya yang cadas tapi membuatnya lentur di tempa tanah berkapur.

Dalam bertani, bapak memakai metode praktik langsung. Saya yakin literatur yang digunakan bukan sekadar buku, tapi ilmu langka yang diterjemahkan sehari-hari, sejak kuno-makuno, dari generas ke generasi, turun-temurun dari para leluhur. Saya diajari tentang waktu yang tepat menanam agar panenan bisa optimal.

Saya pun menimba pelajaran tentang kesabaran dalam merawat tanaman dan menunggu waktu terbaik untuk memanennya. Saya ingat betul ketika bapak (misalnya saja) akan menebang bambu, pada waktu-waktu tertentu, bukan di setiap saat. Hanya di bulan-bulan yang perhitungannya sudah di luar kepala bapak, kapan bambu berada pada kualitas teratas. Inilah kearifan orang jaman dahulu untuk memelihara keseimbangan alam.

Simbok, begitu panggilan sayang saya kepada orang yang telah melahirkan dan membesarkan saya penuh kasih, menjadi asisten terbaik bapak saya. Beliau tahu bagaimana cara menanam termasuk jarak terideal antartanaman seperti kedelai, kacang tanah, berbagai sayur, gayong, garut, benguk, dan sebagainya. Profesi lain dari simbok saya ini adalah ahli teknik pengolahan hasil pertanian menjadi bahan pangan. Benar-benar multitasking.

Sejatinya, bapak simbok tak hanya memberi ilmu tentang cara menanam. Lebih dari itu, mereka mengajari saya, filosofi menanam. Makna menanam dalam kaitannya dengan menjalani kehidupan. Mereka menanamkan nilai-nilai melalui pitutur-pitutur Jawa yang sering diucapkan berkali-kali, sangat repetitif, ritmit (kadang membuat bosan) tapi bertujuan agar meresap dalam kalbu anak-anaknya.

BACA JUGA: NKS Menulis Kisah: Dua Drama di Pagi Buta

Saya masih ingat beberapa pitutur Jawa yang sarat makna yang menggunakan asosiasi tanam-menanam. Pitutur seperti “sopo nandur, bakal ngunduh” bermakna siapa yang menanam, ia akan menuai. Atau “ngunduh wohing pakarti” yang berarti bahwa orang akan mendapatkan akibat dari segala perilakunya sendiri.

Ada pitutur lain yang sangat mengena di dada dan saya tak akan lupa hingga nanti adalah “Yen kowe nandur pari, mungkin thukul suket teki. Tapi yen kowe nandur suket teki, ojo ngarepke bakal thukul pari”, begitu simbok memberi wejangan.  Pitutur luhur ini bermakna apabila kita melakukan kebaikan, memang tak selamanya dibalas kebaikan. Namun percayalah jika kita menanam keburukan, jangan berharap akan muncul kebaikan.

Masih ada lagi. Bapak simbok benar-benar pakar pertanian, karena selalu mampu mengandaikan sesuatu dengan alam dan tanam-tanaman. Sangat mengesankan. Beliau mengatakan, “Yen pengin urip setaun, nandura woh-wohan. Yen pengin urip sepuluh taun, nandura wit-witan. Yen pengin urip salawase, nandura kabecikan.”

Pututur luhur dari leluhur itu, terjemahan bebasnya begini: apabila kita ingin hidup dalam setahun, tanamlah buah-buahan. Jika kita ingin hidup sepuluh tahun, tanamlah pepohonan. Namun jika kita ingin hidup selamanya, tanamlah kebaikan.

Dan, barangkali karena aliran darah bapak-simbok yang berprofesi sebagai agriculturer atau istilah populernya disebut petani, saya sekarang juga  bertani. Sekitar tahun 2000 sampai dengan tahun 2005, saya membuktikannya.

Saat itu, saya tinggal di Pesona Khayalan. Di Kampung Mangga Depok yang hanya dipisahkan oleh jurang yang di bawahnya mengalir sungai Ciliwung dengan perumahan elit, Pesona Khayangan.

Di lahan yang tak seberapa luasnya, saya menanam singkong, kacang panjang, pohon pisang, dan jambu. Begitupun ayam peliharaan hingga puluhan ekor yang awalnya hanya beberapa ekor saja.

Kini, di saat pandemi, bercocok tanam dan berkebun sedang trending sehingga semua orang menanam berbagai macam pohon. Jadi, saya merasa memiliki banyak teman petani. Saat ini, semua kawan tak malu lagi, bahkan bangga memamerkan hasil tanamannya, dalam status sosial medianya.

Tradisi saya sejak tahun 2000 (atau jauh lebih lama lagi sejak kanak-kanak) saya teruskan setelah pindah rumah, tidak lagi di Pesona Khayalan. Meski tetap di lahan sempit yang saya miliki, saya menanam berbagai jenis pohon.

Kebanyakan pohon penghias, tapi ada juga yang lain. Itu membuat kesan hijau dan mampu merelaksasi mata yang lelah menatap layar monitor laptop berjam-jam dari pagi hingga petang.

Satu hal yang membuat hati saya berbunga adalah kini pasangan jiwa mau ikut turun tangan. Dengan rasa gembira, ia rela belepotan menanam dan merawat kembang. Seolah tak ingin ketinggalan gaya hidup sebagai cara menyingkirkan rasa bosan di kala pandemi.  Bahkan, istri rela menemani mencari janda bolong untuk saya pelihara dan rawat dengan hati.

Tapi semua ini, bukan semata-mata karena si janda yang sedang hits. Ini tentang gengsi. Gengsi petani. Bukankah saya perlu membuktikan jika darah petani benar mengalir dalam diri ini? Bukti yang ditengarai dengan tumbuh subur dan tambah segarnya janda bolong.(*)

Salam NKS

About NKS

Check Also

Wayang Virtual, Mbantu Seniman tetap Berdaya di Tengah Wabah

Komunitas Sahabat Ngopi kembali punya hajat. Kali ini, menggandeng Komunitas Kulon Progo di Jabodetabek (KPDJ) …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *