SMAN 8 Jakarta Bedah Asesmen Kompetisi Minimal

Jakarta, Koranpelita.com

Pandemi Covid-19 tak membuat SMAN 8 Jakarta kehilangan semangat, malah sebaliknya beragam inovasi dilakukan untuk menambah gairah belajar. Layanan kepada siswa dan orang tua dilakukan dengan memanfaatkan tenologi internet, dan tentunya jaringan orang tua siswa, alumni, dan siapa saja yang peduli pada peningkatan mutu pendidikan.

Usai menggelar rangkaian acara Edufair melalui Zoom yang menghadirkan pembicara dari berbagai PTN, dan alumni, sekolah yang akrab dengan singkatan Smandel ini juga mengadakan seminar daring terkait sosialisasi kebijakan baru dalam hal evaluasi siswa yakni Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) dan juga Survey Karakter.

Dua hal ini sangat penting mengingat mulai tahun depan akan dijadikan alat ukur bagi kemajuan sekolah. Acara yang diselenggarakan Orang Tua Angkatan 2020 ini menghadirkan pembicara utama, Ahli Utama, Pusat Data dan Teknologi Informasi, Kemendikbud RI Moch Abduh PhD dengan pidato kunci Kepala Suku Dinas Pendidikan Wilayah II Jakarta Selatan Muhroji, sambutan Ketua Komite Sekolah SMAN 8 Tommy Juniarto serta dibuka Kepala Sekolah SMAN 8 Jakarta.

Masyarakat bisa menyaksikan acara ini live streaming saluran Youtube SMAN Jakarta Official. Sejumlah kegiatan di sekolah ini juga bisa disaksikan di saluran Youtube tersebut. Kepala Sekolah SMAN 8 Jakarta Rita Hastuti mengatakan, sekolahnya akan terus berinovasi di tengah pandemik.

“Dalam konteks pembahasan AKM, saya hanya mengingatkan bahwa dunia, termasuk negara kita tengah mengalami berbagai perubahan, karena itu kita harus siap dengan perubahan itu. Terobosan dan inovasi jadi kunci untuk terus mengikuti perkembangan,” katanya.

Sementara Ketua Komite SMAN 8 Tommy Juniarto menyambut baik langkah yang ditempuh sekolah untuk menggelar diskusi tentang AKM ini mengingat hal ini menjadi bagian yang akan dikerjakan sekolah. “Terima kasih untuk semangat dan support semua pihak,” katanya.

Seperti diketahui, AKM dan Survey Karakter (SK) menjadi salah satu diantara empat kebijakan Program Merdeka Belajar Mendikbud Nadiem Makarrim. Kompetensi siswa yang diuji pada AKM dan SK, yaitu kemampuan bernalar menggunakan matematika (numerasi), menggunakan bahasa (literasi) dan penguatan pendidikan karakter.

Pelaksanaan AKM dan SK ini akan diterapkan di tengah setiap jenjang pendidikan seperti kelas IV, VIII dan kelas XI. Hal ini berdampak positif. Guru akan termotivasi memperbaiki mutu proses pembelajaran di kelas sejak awal. Guru tidak lagi terbebani oleh UN, termasuk USBN yang selama ini menentukan kelulusan siswa di suatu sekolah. Sebaliknya guru terfokus untuk membekali siswa dengan berbagai kemampuan numerasi, literasi dan karakter siswa.

Kebijakan AKM dan SK sebagai sebuah kebijakan baru, harus benar-benar dipahami sekolah, guru, orang tua, dan siswa. Menurut Moh.Abduh, AKM ini bukan merupakan alat ukur atau patokan untuk jenjang pendidikan lanjut, misalnyanya dari SD ke SMP maupun dari SMP ke SMA.

Hasil AKM dan Survey Karakter kata Abduh, juga bukan alat ukur referensi sekolah ataupun PTN. Hasil AKM akan ditindaklanjuti agar sekolah lebih baik lagi dari tahun sebelumnya. “Jadi bukan membandingkan sekolah dengan satuan pendidikan sejenis, misalnya hasil AKM ini SMA 8 lebih baik dari SMA lain, bukan itu ” katanya.

Abduh mengatakan, jika AKM dilakukan dengan baik maka kita akan mendapat banyak informasi dari prosestersebut. Informasi ini tentunya untuk peningkatan hasil belajar siswa.
Jadi, kebijakan baru yakni AKM yang bertujuan sebagai bentuk evaluasi terhadap ppendidikan peserta didik di Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah yang diharapkan dapat menggantikan peran Ujian Nasional dan Ujian Sekolah Berstandar Nasional di Tahun Pelajaran 2020/2021 ini.(kh)

About khairul habiba

Bekerja di Harian Pelita sejak tahun 1986, mulai dari wartawan hingga redaktur politik dan terakhir sebagai redaktur senior. Sekarang sebagai Redaktur Ahli di Koranpelita.com

Check Also

Najwa Shihab : Literasi Kemampuan Berpikir dan Proses Informasi

Jakarta,karanpelita.com Duta Baca Indonesia Najwa Shihab mengatakan banyak masyarakat mengartikan literasi hanya sebatas kemampuan membaca …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *