Karyawan Puskud Jateng Tuntut RAT Secepatnya

Semarang,Koranpelita.com

Para karyawan Puskud Jateng bakal mogok kerja atau merencanakan keluar dari kantor, jika tidak secepatnya melakukan RAT ( Rapat Anggota Tahunan ) untuk melakukan pergantian pimpinan dan pengurus dalam pertanggungjawaban kinerja yang dilakukan selama lima tahun lebih.

” Selama ini pengurus dinilai tidak bisa memajukan perusahaan, untuk pengembangkan usahanya. Akibatnya tidak ada usaha yang mendapatkan keuntungan, sehingga mengalami kesulitan likuiditas keuangan , ” ujar karyawan yang tidak mau disebutkan namanya kepada Koranpelita.com, kemarin.

Sekretaris Puskud Jateng Mulyadi ketika dikonfirmasi mengatakan, RAT tetap dilakukan dalam akhir bulan ini dan tidak ditunda lagi, namun semua ini ada mekanismenya yang dilakukan.

Diantaranya, anggota KUD di daerah harus sudah lebih dulu laksanakan RAT, karena banyak sekali anggota Puskud Jateng yang belum RAT termasuk KUD yang menjadi koordinator daerah.

“Oleh karena itu, tidak bisa disalahkan sepihak, karena kondisi lapangan lagi mengalami pandemi covid-19, sehingga dilarang mengundang banyak orang dan berkerumun yang bisa menimbulkan klaster baru. Jadi kasus ini tidak bisa diprediksi kapan akan berakhir, ” sergahnya.

Sementara beberapa karyawan yang sudah pensiun mengaku, selama ini perkembangan Puskud Jateng, diibaratkan hidup segan mati enggan. Namun akibat keterbatasan usahanya yang tidak bisa maju seperti perusahaan lain, maka secara tidak langsung likuiditas keuangan terganggu.

“Diharapkan pengurus baru nanti, harus penuh inovasi, kreatif serta adaptif supaya bisa bertahan hidup dengan usaha baru yang mempunyai keunggulan kempetitif,” pintanya.

Namun demikian, menurut Mulyadi, usaha KUD yang dominan sekarang ini ada, sebagai bagian dari sisa kejayaan yang sekarang masih ditangani koperasi unit desa adalah pelayanan rekening listrik didesa desa, yang pemerintah memutuskan gratis untuk daya 450 W yang 70 persen ada di desa.

” Tapi sejak Maret sampai Desember 2020 secara otomatis, pendapatan KUD turun signifikan hampir 80 persen. Jadi keberadaan Puskud Jateng sebagai sekundernya koperasi unit desa atau biasa disingkat KUD primer ini berkumpul membuat sekunder. Hal itu ada karena instruksi presiden dan keputusan presiden, tentang KUD jaman sebelum tumbangnya orde baru, dalam rangka menghidupkan gerakan koperasi,” katanya.

Meski begitu, tambah Mulyadi, semua usaha subsidi dari mulai pupuk bibit pertanian, pembelian produk hasil pertanian ketika panen raya lewat KUD kemudian ditampung Bulog, sehingga terjadi swasembada pangan.

” Yang jelas semenjak reformasi dan rezim pemerintahan berganti, usaha lainnya diberikan kepada swasta dan perorangan. Hal inilah yang membuat KUD sampai dengan induknya terseok-seok usahanya. Apalagi sekarang ini dihantam ombak besar Corona covid – 19 komplit sudah penderitaan koperasi unit desa,” tandasnya.(sup)

About dwidjo -

Check Also

104 Toko Online Jateng Pamerkan Produk di UKM Virtual Expo

Semarang,Koranpelita.com Sebanyak 104 toko online telah memajang produknya dalam pameran produk UMKM secara virtual bertajuk …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *