Aktualisasi Pancasila di Tengah Prahara Pandemi Korona

Refleksi Peringatan Pengkhianatan G30S/PKI dan Hari Kesaktian Pancasila: (4)

Oleh: Dr. H. Joni.SH.MH.

PANCASILA sebagai dasar filsafat negara, pandangan hidup, serta idiologi bangsa dan negara dicetuskan oleh founding father sepatutnya tidak hanya sebatas retorika saja. Banyak pesan moral yang terselip dalam Pancasila ini yang harus diamalkan. Selain itu,kiranya juga jangan sampai hanya diperbincangkan pada saat momentum hari lahirnya saja. Tanggungjawab sebagai generasi penerus bangsa, seluruh komponen masyarakat pewaris Pancasila harus senantiasa menjaga nafasnya sampai kapanpun yaitu dengan mengaktualisasikan nilai-nilai yang terkandung dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Tak terkecuali dalam menghadapi bencana kesehatan global Covid-19.

Pada tataran norma, ada dua cara mengimplementasikan Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Pertama, implementasi objektif yakni melaksanakan Pancasila ini dalam setiap aspek penyelenggaraan negara baik eksekutif, yudikatif, maupun legislatif serta dalam hubungan kehidupan dengan negara lain. Seluruh kehidupan Pancasila, asas politik, dan kedaulatan rakyat serta tujuan negara harus berdasarkan nilai spiritualitas Pancasila. Kedua, implementasi subjektif yakni Pancasila dilaksanakan dalam nafas kehidupan setiap warga negara Indonesia tanpa terkecuali baik itu kehidupan pribadi, keluarga maupun bermasyarakat dan bernegara, termasuk dalam jihad akbar menghadapi pandemic Covid-19 ini.

Upaya Peningkatan
Semua paham bahwa hakekat hidup yang baik sehingga mencapai kesempurnaan pribadi adalah dengan cara mengembangkan diri yang dilandasi dengan penuh perhatian, rasa kasih sayang, aman dan tenteram. Manusia haruslah berusaha untuk menciptakan hubungan yang baik dan damai antara dirinya sendiri dengan manusia lain (hablum minannas) dan hubungan dirinya dengan Alllah Tuhan semesta alam (hablum minallah).
Sehubungan dengan program operasional pengembangan kepribadian antara lain dilaksanakan berdasarkan kenyataan dan orientasi bahwa keluarga sebagai lembaga pendidikan pertama dan kodrati, diupayakan agar bahagia dan sejahtera, sehingga dapat menunjang terwujudnya kepribadian yang terbuka. Hal ini merupakan dasar dari kinerja pendidikan formal yang secara terstruktur bertujuan membentuk kepribadian yang sesuai dengan kebangsaan Indonesia.

Pada sisi lain, sama pentingnya pula secara formal melalui Pendidikan yang sedang dalam ujian ini dibutuhkan peninjauan kembali mengenai kurikulum Pendidikan Agama, Pendidikan Pancasila, agar lebih meningkatkan pengembangan kepribadian terbuka. Pemahaman peninjauan kembali dimaknai sebagai kinerja dinamisasi untuk mengakomodasikan perubahan yang secara terus menerus terjadi dan berkembang menyesuaikan dengan keadaan.

Meningkatkan sistem pendidikan dengan metode dan minat terpadu serta adanya keseimbangan antara mata pelajaran MIPA, IPS dan Humaniora. Hal ini tidak dimaksudkan sebagai bentuk peng-kotakan keilmuan. Profesionalitas adalah tujuan utama sebagai bagian dari pengakuan atas keterbatasan daya nalar dan daya pikir manusia, khususnya peserta didik.

Melaksanakan pembinaan dengan meningkatkan kualitas generasi yang akan datang dalam pengembangan kepribadian yang lebih terencana, beriman, bertaqwa dan jujur. Hal demikian dimaksudkan sebagai refleksi dari kenyataan bahwa ke depan dibutuhkan kualitas pribadi yang dapat menghadapi tantangan khususnya dalam dimensi persaingan global antar bangsa.

Pendidikan Agama dan Pendidikan hendaknya diberikan sesuai perkembangan psikologi peserta didik. Penyesuaian dalam hal ini dimaksudkan sebagai bagian atas penyadaran bahwa bangsa Indonesia merupakan kumpulan berbagai kelompok yang majemuk tetapi secara artistik dapat berpadu dalam satu komunitas kebangsaan bernama Indonesia yang harus senantiasa dijaga. Sementara itu pengajaran lebih ditingkatkan pada keterkaitan antara aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Jadi tidak hanya semacam kabel penyampai belaka yang akan berakhir begitu alokasi waktunya habis. Pengetahuan peserta didik kemudian sama dengan pendidik.

Disadari bahwa lembaga pendidikan sebagai wadah pengembangan kualitas SDM merupakan tempat yang paling strategis untuk mengembangkan falsafah Pancasila dengan penjabaran secara menyeluruh yang mencakup dalam pengamalannya sehingga lebih menunjang kepada pengembangan kepribadian. Hal ini tetap relevan kendatipun dimensi lain yang selama ini begitu kuat berhembus yaitu ideologi yang bersifat terbuka namun Pancasila tetap abadi sebagai ideologi bangsa Indonesia.

Pada dimensi lain, ada cita-cita luhur yang diharapkan tercapai sehubungan pemahaman secara lebih mendalam terhadap masalah yang berhubungan dengan Pengembangan Kepribadian. Harapan itu antara lain adalah bahwa hendaknya generasi muda mendatang dapat menampilkan perilaku yang baik dan dapat mendorong untuk meningkatkan harga diri serta menciptakan suasana aman tenteram lahir batin. Hal ini dapat dimulai dengan pengembangan kepribadian terhadap diri sendiri yang nantinya akan menjadi faset penting di dalam membangun karakter lingkungan dan lebih luas lagi masyarakat bangsanya.

Cirikhas atau sifat-sifat yang harus dimiliki oleh setiap pelaksana pengambil keputusan yang sangat menentukan berhasil atau tidaknya proses pembangunan yang terus berkembang dinamis di berbagai bidang, diperlukan pengetahuan, juga harus memiliki ketrampilan profesional. Bahkan profesionaolisme menjadi key word bagi munculnya harga diri baik secara pribadi maupun dalam dimensi kebangsaan Indonesia.

Meningkatkan Penghayatan
Perilaku pelaksana memberikan pemahaman bahwa karakter (caracter building) yang baik akan mempunyai makna sangat penting di dalam memberikan layanan pada masyarakat. Karena perilaku menggambarkan ciri atau sifat yang baik, dapat menumbuhkan kemampuan pelaksana atas cita negara. Karakter yang baik menjadi dasar kesantunan budi serta menjauhkan dari sifat arogansi.

Di dalam perspektif peserta didik, dari berbagai upaya yang dimaksudkan untuk membentuk kepribadian yang santun dan cerdas tersebut diharapkan tidak sekadar mengikuti pembekalan sehingga secara formal memperoleh nilai yang baik. Lebih jauh dari itu, peserta didik diharapkan nantinya dapat lebih menghayati arti pengembangan kepribadian dengan perilaku mulia. Idealisme yang ingin dituju ini tentunya tidak dapat berdiri sendiri namun juga dipengaruhi oleh lingkungan dalam arti luas. Peserta sdidik diidealkan untuk secara kreatif melakukan perubahan berpikir, bersikap dan bertindak yang menggambarkan kemajuan dan pengembangan kepribadian sebagai kualitas hidup yang dapat dimanfaatkan di dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Pada dimensi berikutnya, kiranya perlu dipahami pula bahwa kepribadian adalah konsistensi dalam pemikiran serta tingkah laku dalam situasi serta kondisi yang berbeda-beda. Selain itu dalam menghadapi situasi tertentu, seseorang atau beberapa orang dapat memiliki pemikiran yang sama tetapi berbeda dalam mereaksi suatu fenomena. Hal ini merupakan sesuatu yang sifatnya alamiah. Di dalam hubungan dengan ini deskripsi berikut diharapkan dapat dikembangkan oleh pendidik kepada peserta didik sehingga akan menampilkan kepribadian utama.
Hal-hal dimaksud antara lain dengan berpikir, sikap tingkah laku dan perbuatan dalam hal kenegaraan, kebangsaan dan kemasyarakatan harus selalu dilingkupi nilai-nilai dasar dari Pancasila dan UUD 1945. Hal ini tidak dimaksudkan sebagai sikap yang chauvinistik. Namun belajar dari sejarah berbagai bangsa di seluruh dunia, termasuk sejarah internal bangsa Indonesia sendiri telah membuktikan bahwa identitas kebangsaan sangat penting di dalam menjaga integritas dan mengintegrasikan seluruh potensi bangsa.

Pada tahap berikutnya, memiliki perilaku dan moral agama yang tinggi. Sejarah secara gamblang juga memberikan pelajaran bahwa kemajuan aspek materi tanpa diimbangi dengan keteguhan moralitas untuk menjaga kemajuan materi selalu berujung kekacauan. Adaptif terhadap perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) dan tidak terpuruk dalam pemikiran sempit bahwa IPTEK merupakan tantangan terhadap keutuhan kepribadian.

Dikehendaki terbuka terhadap masukan, kritis dan inovatif. Hal ini menjadi bagian penting di dalam sikap dan kepribadian seseorang di dalam menyikapi berbagai fenomena yang secara terus menerus berkembang tiada henti. Bersikap santun, jujur, adil dan tulus dalam perilaku ketika bergaul dengan sesama. Sikap moralitas demikian kendatipun abstrak tetap perlu ditekankan sebagai dasar di dalam berkinerja sesuai dengan bidang masing-masing.

Di dalam dimensi yang lebih luas, seluruh komponen bangsa tanpa terkecuali harusnya berusaha memahami prinsip-prinsip kebangsaan itu. Pada tahap berikutnya, berbagai permasalahan yang ada kiranya diatasi dengan prinsip-prinsip tersebut. Tujuannya tidak semata untuk menghadapi berbagai permasalahan secara menyejukkan. Lebih jauh, kepribadian yang luhur dan khas bangsa Indonesia tetap terjaga sebagai bagian dari upaya untuk secara sadar dan terus menerus mempertahankan dan melestarikan identitas kebangsaan Indonesia.

Pemahaman lebih luas dari hal di atas adalah urgensinya memelihara, memupuk dan melestarikan kekayaan budaya bangsa yang etrcermin pada perilaku komunitas kedaerahan. Hal demikian menjadi unsur penting di dalam melestarikan budaya nasional yang juga tercermin pada perilaku saling menghormati, menghargai dan memahami di dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia yang kaya dengan berbagai keragaman budaya tersebut.

*Penulis, Notaris tinggal di Sampit.

About dwidjo -

Check Also

Desa Mandiri Ala Wong Ndeso Bantu Negoro

Jakarta, Koranpelita.com Pergerakan Wong Ndeso Bantu Negoro (PWNBN) bekerjasama dengan Bali Mas Fujiyama Foundation mengajak …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *