Ujian Pancasila di Era Pandemi Korona

Refleksi Peringatan Pengkhianatan G30S/PKI dan Hari Kesaktian Pancasila:

Oleh: Dr. H. Joni.SH.MH.

BUKAN hanya retorika, tetapi pada musim pandemi korona ini justru Pancasila diuji untuk aplikasi. Tidak hanya sebagai suatu dasar falsafah yang mempersatukan bangsa, tetapi Pancasila diuji bagaimnana aplikasinya di lapangan, Ketika rakyat menemui masalah yang secara konkret bersifat menyeluruh. Seluruh rakyat Indionesia di seluruh wilayah nusantara sedang dilanda pandemi korona. Seluruh komponen bangsa menghadapi tantangan bersama, untuk segera berakhirnya pandemi ini.

Kebersamaan Nilai Pancasila
Memang pandemi korona telah menjadi masalah global nan kompleks, tidak hanya dari sisi kesehatan, sisi ekonomi dan pendidikan pun terdampak oleh penyakit yang disebabkan oleh makhluk super mikroskopis ini. Masyarakat pun idealnya terus bergandeng tangan, tetap saling bergotong royong dan Bersatu. Di sini, yuntuk tantangan pertama dari Pancasila membuktikan terealisasia atau tidaknya nilai kebersamaan sebagai kandungan nilai Pancasila.

Secara teknis sebagian besar negara sempat melakukan lockdown demi memutus penyebaran virus korona. Bahkan sampai sekarang di tanah air masih ada wilayah yang menerapkan PSBB meski ada sedikit kelonggaran. Bahkan pada pekan ketiga September, Jakarta menerapkan secara ketat PSBB. Sementara di berbagai daerah dilaksanakan operasi yustisi untuk pengenaan masker dengan segala konsekuensinya.

Pada sisi lain, pemerintah pun menghimbau kepada masyarakat untuk mengurangi intensitas kegiatan di luar rumah untuk menegak angka korban yang terjangkit virus korona. Justru di tengah krisis ini, seluruh komponen bangsa tidak boleh lupa, bahwa Indonesia memiliki ideologi Pancasila. Ideologi ini telah menjadi ruh kepribadian bangsa yang mengajak masyarakat dari sabang sampai merauke untuk bersatu  dan bekerjasama. Saling membantu, saling menerima dan memberi apa yang bisa diberikan sebagai bentuk pemutusan mata rantai penyebaran virus korona.

Nilai-nilai luhur Pancasila sudah semestinya bisa diterapkan oleh seluruh masyarakat Indonesia. Dalam menghadapi pandemi ini, seluruh komponen bangsa memiliki peran untuk berjuang mengurangi korban penyebaran virus korona. Di antara perilakunya adalah dengan menuruti anjuran pemerintah, dan bukannya malah menyalahkan pemerintah, tetapi tanpa aksi konkret. Refleksi dari ujian Pancasila dalam perilaku, adalah dengan upaya preventif agar masyarakat tanpa terkecuali tidak melanggar ketentuan pemerintah dalam menangani pandemi korona.

Nilai Panasila yang juga diuji dalam kaitan ini, tecermin pada perilaku disiplin seluruh warga. Bahwa kedisipilan merupakan bagian yang terkandung dalam Pancasila untuk melindungi kepentingan bersama. Dalam situasi apapun, penanaman nilai Pancasila dan cinta tanah air akan mempermudah pemerintah untuk menghimbau masyarakat agar tetap bersatu terhadap hal yang mengancam keselamatan warga, yang menjadi inti dari kehidupan Bersama.

Refleksi dai Sila Pancasila
Saat pandemi korona ini, penerapan sila pertama dalam pancasila bisa diterapkan dengan cara selalu berdoa dan memohon pertolongan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Sila pertama ini tentu bisa menjadi pondasi yang kuat dalam diri manusia saat ini. Ketika virus corona menyerang, maka kita masih memiliki tempat untuk berdoa kepada sang pencipta.

Di dalam sila kedua yakni kemanusiaan yang adil dan beradab, maka hal ini bisa diimplementasikan dalam bentuk perlakukan terhadap orang lain. Sila ini menekankan kepada seluruh komponen bangsa untuk untuk menjunjung tinggi nilai kemanusiaan. Ujian ini tecermin dalam bentuk tolong menolong di atas saling menjalani penderitaan dengan taat peraturan khususnya di dalam menjaga dan menegakkan protocol kesehatan. Tidak berasa diri sebagai sehat, dan melupakan orang lain yang sangat mungkjin tertular dari pribadi, dan pribadi juga tertuloar dari orang lain.

Dalam sila ketiga yakni Persatuan Indonesia, maka seluruh komponen bangsa harus bisa memaknai dan mengimplementasikan bahwa virus corona ini tidak mengenal suku, ras maupun agama. Semua orang bisa terkena virus yang mematikan ini. Dengan demikian kendatipun berbeda dan beragam suku ras golongan dan agama, namun tetap dalam satu bingkai dasar negara Pancasila. Persatuan harus tetap diwujudkan, kompak untuk menegakkan disiplin protocol kesehatan / hal inilah yang menceerminkan pesatuan yang didasari pada pengamalan Pancasila khususnya sila ketiga.

Pada sila Keempat yang tertulis kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan. Sila ini menekankan akan sebuah kepatuhan terhadap kebijakan pemerintah. Penerapan PSBB merupakan salah satu protokol yang harus dipatuhi. Secara konkret memang terasa berat. Namun dengan mengingat dasar hidup besama, dasar negara Pancasila hal ini merupakan ujian. Apakah setiap komponen bangsa taat asas dengan menjaga diri dan berupaya maksimal menjaga orang lain supaya bisa memutus mata rantai virus korona atau tidak. Taat kepada pemimpin yang membuat kebijakan atas dasar tanggungjawab kemanusiaan merupakan bentuk konkret dari pengalaman sila keempat.

Pada sila Kelima yaki keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, memiliki makna bahwa Negara Indonesia harus adil dalam urusan kesejahteraan sosial bagi rakyatnya. Implementasi dalam sila terakhir ini membutuhkan sinergitas yang baik antara komponen penguasa, khususnya yang secara administratif ada di Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. Keadilan social yang merupakan sila kelima, dibuktikan dengan cara menyalurkan bantuan dari pemerintah dengan penuh tanggungjawab dan kejujuran. Tidak melakukan hal hal yang justru merusak sendi keadilan dengan mementingkan diri sendiri dan mengabaikan kepentingan publik.
Intinya bahwa nilai Pancasila berupa nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan sosial betul-betul sedang diuji dalam situasi pandemi ini. Ukurannya adalah memecahkan masalah, apakah nilai nilai itu hanya sebatas memahami secara normatif nilai-nilai Pancasila, atau apakah nilai-nilai tersebut sudah aktual dipraktikan dalam keseharian, ketika pancemi korona sedang melanda.

Kondisi krisis sedang menguji apakah Pancasila telah menjadi pedoman hidup bagi setiap elemen bangsa di negeri ini.
Secara teknis, situasi pandemi ini menunjukan bahwa bersatu padu untuk berhadapan dengan situasi krisis menjadi sangat penting agar eksistensi negara tetap berjaya. Solidaritas dan soliditas warga di masa pandemi korona menguat dalam beragam bentuk partisipasi public, misalnya untuk membantu tenaga medis maupun warga yang terdampak. Nilai-nilai Pancasila terejawantahkan secara aktual di masa pandemi ketika masyarakat secara sukarela bergotong royong untuk meringankan beban saudara-saudaranya yang kesulitan. Di sinilah bukti Pancasila dihayati oleh warga masyarakat menampakkan bentuk konkretnya. Gotong royong antar sesama adalah salah satu hal yang sangat penting untuk dikedepankan. Meskipun banyak masyarakat yang hanya mementingkan diri dan tidak memperdulikan orang yang ada di sekitarnya, namun kelompok masyarakat yang perduli dan apresiatif terhadap sesamanya masih tetap lebih banyak.

Dengan kebersamaan atas dasar Pancasila ini, seluruh komponen bangsa berharap dan tentu saja disertai dengan doa, kiranya virus ini segera berhenti menjadi momok yang meresahkan bahkan menakutkan. Ketika banyak yang mulai enggan menyebut dan membicarakan Pancasila, bukti konkret dari aplikasi Pancasila ini menjadi penyemangat dalam pengamalan Pancasila.

*Penulis Notaris tinggal di Sampit.

About dwidjo -

Check Also

Membaca Kembali Gerakan 30 September-1: Sejarah Kelam

Sebelum kemerdekaan, tepatnya di bulan Mei 1920 di Semarang, Partai Komunis Indonesia (PKI) dibentuk. Tahun …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *