Mewaspadai Komunisme di Musim Pandemi Korona

Refleksi Peringatan Pengkhianatan G30S/PKI dan Hari Kesaktian Pancasila:

Oleh: Dr. H. Joni.SH.MH.

TERCATAT kepastiannya dalam sejarah bangsa, dan sejarah kemanusiaan kita memperingati pemberontakan G30 S/PKI tahun 2020 ini masih dalam suasana pandemi korona. Sementara sang waktu pun terus bergulir. Tiba saatnya, tanggal 30 September, kita bangsa Indonesia memperingati terjadinya gerakan 30 September, yang dikenal dengan pemberontakan G30S/PKI. Besoknya, 1 Oktober diperingati sebagai hari kesaktian Pancasila. Hari itu, 30 September 1965 sejarah tanah air mencatat peristiwa sangat kelam, yaitu peristiwa berdarah percobaan kudeta yang gagal yang kemudian berkepanjangan sampai bertahun kemudian.

Jutaan, atau paling tidak ratusan ribu nyawa melayang pada peristiwa tersebut yang sampai saat ini dan mendatang tidak akan pernah dapat diketahui pasti berapa jumlahnya. Hal ini artinya bahwa memperingati pada akhir September ini sebagai pu caknya. Namun demikian mengingat dan mengapresiasi terhadap komunisme harus dilakukan setiap saat. Bukan berarti komunis phobia, atau paranoid terhadap komunisme. Namun sesuatu yang wajar, mengingat bahwa pergulatan terhadap penerapan ideologi, akan terus terjadi di setiap masa dan setiap tempat.

Duka Bersama Dari Sejarah
Akhir akhir ini, negara kita, Ibu pertiwi sedang berduka. Berbagai ujian berat muncul silih berganti. Secara alamiah ada masalah Karhutla. Secara alamiah pula, menimpa warga dunia menghadapi virus korona yang berarti secara politis merupakan masalah lintas ideologi. Belum lagi masalah sektoral yang tidak terpublikasi secara luas seperti gangguan keamanan pada kawasan tertentu. Demikian pula ancaman resesi ekonomi yang menghantui duni, saat ini.
Kesemuanya itu, jika diuniversalkan sekali lagi hendaknya tidak mengurangi kewaspadaan terhadao gangguan, ancaman, hambatan dan tantangan secara global yang dihadapi negeri tercinta. Khususnya berbagai upaya untuk menggeser, atau ekstremnya menganti ideologi Pancasila dengan ideologi lain, khususnya komunisme.
Ibarat perputaran roda, kehidupan juga terus berputar. Sejarah berulang, dengan tema sentral tetang konflik. Bentuknya bermacam macam. Kali ini, bentuk ujian dalam bentuk konflik sebagaimana dikemukakan merupakan refleksi lain dari ujian terhadap eksistensi Ibu Pertiwi.

Sehubungan dengan masalah pemberontakan PKI, peristiwa itu senantiasa disegarkan kembali dengan pasang surut persepsi tentang Partai Komunis Indonesia (PKI). Tersebab disibukkan dengan berbagai peristiwa politik dan sosial, belakangan ini perhatian terhadap keberadaan partai komunis, dengan ideologi komunisme sebagai ideologi dasarnya kian tak terperhatikan. Bahkan sebagian kalangan menyuarakan bahwa sekarang komunisme itu sudah mati. Oleh karena itu tidak perlu dikhawatirkan kebangkitannya.

Sementara kalangan yang masih menaruh kewaspadaan, dengan senantiasa mengingatkan kebangkitan komunisme dinyatakan phobia. Komunisme phobia. Suara mereka ini seolah tertelan oleh hirukpikuk peristiwa politik dan berbagai peristiwa sosial lainnya. Tercatat Rancangan Undang-undang Haluan Ideologi Pancasila (RUU HIP) menjadi sorotan publik beberapa waktu belakangan. Perdebatan soal RUU ini dipantik oleh protes dari sejumlah ormas Islam, an berkembanvg serta dimaklumi bagaimana kondisinya sampai saat ini. Yaitu masih berada pada perdebatan yang seolah taka da ujungnya.

Berbagai penilaian yang secara garis besar masih hidup atau sudah mati sebagai ujung dari perdebatan ini secara umum berdasarkan perspektif politis. Bahwa penilaian demikian tentu saja didasarkan oleh kepentingan tertentu tergantung siapa yang menyuarakan. Oleh kaena itu sangat perlu pemahaman komunisme itu tidak semata berdasarkan perspektif politis yang dikuatkan oleh fakta empiris. Sebagai daar dari apakah sudah mati atau masih hidup, dibutuhkan pemahaman secara obyektif dengan dasar komunisme sebagai ideologi. Dengan pemahaman dasar dari perspektif keilmuan ini setidaknya menjadi refernsi untuk bersikap terhadap ideologi kemunisme, yang menjadi dasar dari PKI.

Makna Ideologis
Pada tahun 70an, Daniel Bell, Guru Besar sosiologi Universitas Columbia menulis buku the End of Ideology (matinya ideologi). Ia mendeskripsikan bahwa ke depan, ideologi yang bersifat lokal akan mati. Ideologi lokal itu terutama yang berbau “isme”, seperti sosialisme, kapitalisme, komunisme dan yang lain. Apa lagi ideologi yang lebih kecil dari itu, atau yang berwawasan kenegaraan dalam arti sempit.

Dalam deskripsinya, penyebab dari matinya ideologi itu adalah kehilangan orientasi komunitas, khususnya orientasi yang didasarkan pada paham kenegaraan. Ideologi lokal dalam pandangannya tidak bisa menjawab tantangan moderen, yang berorientasi pada globalisasi yang ditandai dengan mis orientasi dari masyarakatnya. Masyarakat moderen yang lebih hedonis akan menjadi sebuah komunitas baru tanpa ikatan formal (seperti negara) yang justru berorientasi tidak jelas.
Buku itu mendapat kecaman keras dari para pemikir yang berorientasi status quo. Namun dalam perkembangan berikutnya tesis yang dikemukakan oleh Bell itu seolah menemukan legitimasinya. Berbagai pihak bahkan mengamini ide tersebut, seiring dengan kian konkretnya tatanan baru pada post modern society (masyarakat pasca moderen) yang tak lagi terikat pada tatanan lokal. Kumpulan masyarakat lintas negara seperti Masyarakat Ekonomi Eropa (MEE) adalah contoh konkret hubungan yang bersifat lintas negara, bahkan ideologi yang didasarkan pada kepentingan rezim ekonomi yang lebih mendesak.

Namun demikian tentunya itu fakta empiris yang bersifat instan. Pada tataran filosofis, kristalisasi nilai dari interaksi soaial yang berbaur dengan kepentngan politik dan ekonomi serta aspek lain akan terus memberikan warna yang sama. Kesamaan dalam keabadian sebuah ideologi. Dalam kaitan ini dipahami bahwa suatu ideologi lahir merupakan kristalisasi dari interaksi sosial yang sangat panjang. Dari interaksi tersebut pada akhirnya direkonstruksi menjadi prinsip kehidupan dengan karakter keabadian. Keabadian ini menjadi kata kunci dari ideologi, dan bukan sekadar prinsip hidup yang mudah berubah apalagi instan.

Dalam perspektif ideologis, menurut pemahaman filsafat ada 4 karakter yang menjadi penguat dan dasar penerapan ideologi. Pertama kekuatan yang mendominasi (power authority). Bahwa di dalam ideologi terkandung kekuatan untuk mengubah segala hal yang tidak sesuai dengan keinginan atau cita citabersama. Termasuk dalam kaitan ini keberanian mengambil risiko yang dihadapi, ketiia terjadi penentangan terhadap ideologinya.

Karakteristik kedua adalah mampu menjadi pedoman (be a guide). Ideologi mempunyai aspek aplikatif yang kemudian dijadikan dasar perilaku. Ideologi mempunyai dasar untuk senantiasa memperbaiki dan memberikan solusi dalam setiap permasalahan yang muncul dalam masyarakat serta memberi solusi yang menyejukkan dan tidak berpretensi menyelesaikan masalah dengan konflik, khususnya sesama elemen penganut ideologi yang sama.

Ketiga, ideologi senantiasa berposisi untuk menyediakan petunjuk dalam setiap aksi terhadap potensi yang mengajukan perlawanan (file resistance). Jabaran dari hal ini adalah pada kenyataan bahwa ideologi dalam pandangan pengiukutnya mampu memecahkan berbagai problem yang dihadapi. Ideologi dapat memberikan solusi pada setiap permasalahan terutama yang dihadapi oleh komunitas penganut ideologi.

Keempat, ideologi bersifat rasional, dalam arti tidak diliputi oleh berbagai hal yang sifatnya tidak rasional (irrasionality). Operasionalisasi ideologi senantiasa dari hal hal yang bersifat konkret. Dari sini dikristalisasikan menjadi semacam pedoman yang abadi. Karakter ideologi senantiasa sesuai dengan apa yang dibutuhkan, yang menjadi penopang keabadian dan aktualisasi dalam penerapan.
Dari keempat karakter ideologi ini, menunjukkan bahwa pada prinsipnya karakter ideologi itu bersifat abadi, atau pada dimensi keabadian. Bahwa dalam aplikasinya berbeda dengan karakter asal, hal itu merujuk pada kenyataan yang besifat teknis dan keharusan menyesuaikan diri dengan keadaan. Namun karakter dasar yang menjadi filosofinya tetap abadi.

Dari sini pula, merujuk kepada kenyataan yang ada bahwa ideologi tidak pernah mati. Artinya komunisme sebagai ideologi tetap hidup, dan harus dihadapi dalam perspektif kehidupan. Sebagai antitesisnya tidak mungkin sebuah ideologi mati, sekali lagi karena dasar dari pengikut ideologi adalah keyakinan. Keyakinan yang sifatnya abadi dan tidak sekadar temporer. Termasuk komunisme sebagai ideologi yang hidup sampai sekarangj juga tidak mati. Oleh karena itu tetap harus diwaspadai kebangkitannya, bukan berarti pobhia, tetapi benar benar sebagai sebuah kebutuhan untuk berwaspada. Untuk senantiasa menjaga agar perkembangan dinamis dari ideologi (komunis) senantiasa dijadikan pertimbangan terhadap berbagai kebijakan yang akan dan sudah diambil.
Dengan demikian memahami ideologi dan kebangkitan komunisme di tanah air di musim korona ini kiranya dilakukan dengan proporsional. Memadukan anbalisis para pakar yang besifat obyektif tentang jkarakter ideologi, yang kemudian berkembang menjadi satu kemunculan yang dibalut dengan bentuk dan kepentingan yang lebih halus. Intinya hendaknya kita tidak mengurangi, dan bahkan meningkatkan kewaspadaan terhdap bangkitnya PKI sebagai refleksi ideologi komunisme.

*Penulis Notaris tinggal di Sampit.

About dwidjo -

Check Also

Membaca Kembali Gerakan 30 September-1: Sejarah Kelam

Sebelum kemerdekaan, tepatnya di bulan Mei 1920 di Semarang, Partai Komunis Indonesia (PKI) dibentuk. Tahun …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *