September Bulan Duka Cita

Bekasi Ora (4)

September bulan duka cita. Orang tua kami berpulang ke rahmatullah. Ibu mendahului. Disusul bapak, empat puluh hari berselang. Keduanya seperti berjanji untuk sehidup semati. Tiji tibeh, mati siji mati kabeh. Mukti siji mukti kabeh. Seboyo mukti, seboyo pati.

Saat ini genap setahun keduanya meningkatkan kami, anak, cucu, cicit dan sanak kerabat. Serasa belum lama berselang. Masih teringat jelas, terasa baru kemarin kami bercengkerama. Berceritera tentang apa saja. Masa lalu yang indah, masa lalu yang penuh suka dan duka. Masa lalu yang penuh dinamika. Perjuangan dengan tetesan keringat dan air mata.

“Mbah Tjokro. Itu makamnya. Ahli al Qur’an jangan dilangkahi,” ibu berpesan kepada anak-anaknya jauh sebelum orang mempermasalahkan para penghafal al Qur’an al Karim.

Mbah Tjokro yang penghafal al Qur’an guru ngaji orang-orang di desa kami. Jombokan, Tawang Sari, Pengasih, Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Dusun yang tenteram, adem ayem. Jauh dari hiruk pikuk politik dan kekuasaan.

Mbah Tjokro tempat mengaji al Qur’an, termasuk bapak yang sudah meninggal dunia. Jauh sebelum kami lahir. Bapak dan ibu juga belum dipertemukan Allah SWT dalam sebuah perkawinan.

Mbah Tjokro sugeng di sekitar tahun 1940. Bapak lahur tahun 1936. Di masa kanak-kanak itulah bapak mengaji bersama teman-teman sebayanya. Terkadang bapak harus menemani mbah yang mulai sepuh dimakan usia.

Suatu ketika, sudah sangat lama. Ibu berpesan untuk menjaga adab terhadap makam mbah Tjokro. Makam seperti yang lain, nisan lengkap dan dibangun agak tinggi agar kami, anak-anak tidak melangkahi makamnya.

Adab terhadap penghafal al Qur’an begitu dijaga, termasuk terhadap makam penghafal al Qur’an. Melangkahi kuburannya saja dihindari. Bukan makamnya, juga bukan orangnya. Melainkan Al Qur’an Al Karim yang menjadikan kemuliaan manusia.

Kini setelah puluhan tahun mbah Tjokro tiada, penghafal Al Qur’an dipersalahkan sebagai biang kerok. Pembawa radikalisme dan penyebab kerusakan di muka bumi. Para penghafal Al Qur’an yang suka ke masjid. Tampil rapi, sebagai orang baik-baik.

Adab yang sangat buruk dilekatkan kepada para penghafal Al Qur’an. Orang yang sering ke masjid. Orang yang tampil rapi sekaligus membawa ajaran kebencian.

Tuduhan keji yang hanya bisa dilakukan orang-orang yang bermasalah dengan Al Qur’an. Hanya orang-orang yang su’ul adab. Orang tidak beradab memperlakukan buruk terhadap para ahli Al Qur’an.

Ingatan melayang ketika bapak bercerita tentang orang-orang yang membenci Islam dan umat muslim.

Selalu ada di masyarakat orang dan kelompok orang yang tidak suka dengan perkembangan Islam dan masyarakat muslim. Itu semua ada di setiap zaman dan makan. Di sepanjang masa dan di berbagai tempat.

Ada saja orang yang islamophobia, orang tidak suka Islam dan umat muslim. Hanya musuh-musuh Islam dan umat Islam yang terus-menerus berupaya memerangi Islam dan umatnya. Berbagai cara dilakukan dengan segala daya, dana dan mengerahkan semuanya.

Makkah al Mukaromah diplesetkan menjadi mekakah. Syariat, dibaca sarengat juga diplesetkan menjadi nek sare wadine njengat.

Islamophobia dilakukan orang per orang, kelompok orang, bangsa bahkan negara. Israel contoh paling aktual bagaimana sebuah bangsa melakukan serangan terhadap Islam dan masyarakat muslim.

Sepanjang zaman dan makan. Al Qur’an sudah menjelaskan di Surat Al Baqoroh Ayat 120. Musuh-musuh Islam tidak akan pernah berhenti memusuhi Islam dan umat muslim. (D)

About dwidjo -

Check Also

Ujian Pancasila di Era Pandemi Korona

Refleksi Peringatan Pengkhianatan G30S/PKI dan Hari Kesaktian Pancasila: Oleh: Dr. H. Joni.SH.MH. BUKAN hanya retorika, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *