NKS Menulis Epilog: Ini Pandowo Cinarito

Alhamdulillah. Buku NKS Jilid 2 sudah dalam proses cetak. Sebelum membaca di buku NKS 2 yang saya beri judul Njih, Meniko Sewu Kutho, saya ingin persembahkan tulisan ini, tulisan di akhir buku, kepada Sedulur NKS semua. 

Di Awal buku, pada bab prolog saya menulis cerita tentang keris panimbal. Keris yang mengejutkan, karena maknanya berkesesuaian dengan kenyataan. Keris panimbal yang yang konon mampu memangil pusaka-pusa lain itu, sudah mulai bekerja.

Jadi, hari ini, saya ingin menulis keris. Keris sangat monumental, yang erat kaitannya dengan buku Njih Meniko Sewu Kutho. Sebab, keris ini saya miliki pada hari saat saya bertemu dengan Mas Didi Kempot almarhum, tanggal 1 Maret 2020.

Seperti biasa, tidak usah diceritakan bagaimana keris itu sampai ke tangan saya. Pasti, ada unsur-unsur tak ternalar yang ikut menyertai. Salah satunya, keris itu saya miliki bersamaan dengan saya memiliki izin, memakai kata sewu kutho sebagai bagian dari judul buku ini. Izin dari Mas Didi Kempot langsung.

Baik. Saya tidak akan lanjutkan kisah perjalanan keris itu sampai tangan saya, tapi saya tertarik menulis tentang keris Pandowo Cinarito. Saya menuliskan cerita ini, juga dengan sangat susah-payah, hampir-hampir tidak bisa ikut dimasukan di dalam buku, karena tengat yang mepet.

Bayangin saja, saya baru bisa merampungkan tulisan ini, pada hari ini saat buku sudah harus naik cetak, untuk mengejar agar tanggal 11 September 2020 buku sudah benar-benar jadi kado ulangtahun saya.

Dapur keris  baru yang saya miliki adalah Padawa Cinarito dengan pamor Wengkon Isen. Lebih jos lagi, keris ini berasal dari era yang menarik. Era Mataram. Atau Tangguh Mataram. Mengapa menarik, ya karena saya senang dengan era tersebut. Tidak ada yang lain. Subyektif? Mungkin iya.

BACA JUGA: NKS Menulis: Ketika Buku NKS Jilid 2 Siap Menyapa

Dari berbagai referensi, pamor wengkon isen, adalah ragam hias keris yang sengaja diciptakan. Dirancang sebelum dibuat. Tapi hanya empu-empu tertentu yang mampu membuatnya. Meskipun merupakan pamor rekan atau pamor rekaan, wengkon isen sangat magis, selain keindahannya luar biasa.

Secara motif, termasuk sederhana. Tapi tak sesederhana kelihatannya proses pembuatan pamor yang juga sering disebut pamor tepen atau pamor lis-lisan. Membuat garis yang terpola dengan baik,  dibutuhkan bukan hanya pengalaman, tapi sekaligus ketekunan tingkat tinggi. Dan, itu hanya empu mumpuni yang bisa melakukannya.

Di sisi arti, pamor ini memiliki arti yang mendalam. Karena merupakan pemberi batas, merujuk garis pinggi pada motif wengkon. Dengan begitu, sudah pasti, pamor wengkon bisa dipahami sebagai keris yang memberi batas atau pagar bagi pemiliknya sehingga kalis, terhindar dari segala marabahaya.

Karena menjadi yang mengkoni (berasal dari kata wengku yang  bisa diartikan memiliki secara sah) keris ini juga dapat menjadi simbol penjaga kehidupan pemiliknya, sehingga lebih prasojo, bersahaja, hemat, nestiti lan ngati-ati dalam hidup. Pemilik keris berpamor wengkon, juga akan terjaga martabatnya, harta kekayaannya, serta segala kebaikan budinya.

Selanjutnya, tentang keris luk lima. Mereka yang paham tentang keris, menuturkan bahwa keris luk lima (sering juga disebut keris pandowo), memang serba istimewa. Namai lain keris ini ialah keris keningratan. Keris khusus yang hanya boleh dipakai, dimiliki, serta diwarisi oleh trah ratu. Cirinya indah, magis, tapi menyebar kewibawaan.

Secara umum, ada 19 dapur luk lima yang dikenal di kalangan praktisi, pemerhati, dan kolektor keris pusaka. Namun menurut Serat Centini, keris luk lima terdiri dari 12 dapur sebagai keris sinengker. Ia akan memberi daya sesuai  garis darah pemiliknya.

Keris pandawa (saya lebih senang menulis serta melawafalkannya pandowo)  memang identik dengan trah ratu. Raja dan para keluarga kerajaan sangat tahu dan memahami filosofi keris luk lima.  Jadi tidak keliru kalo keris luk lima dijadikan ikon keningratan. Di era sekarang pun secara tersirat keyakinan itu masih sangat kuat: seorang ningrat mesti punya keris luk lima.

Saya tidak tahu banyak tentang keris, tapi tetap berusaha mencintai dengan hati. Saya juga agak kurang serius memperhatikan soal tuah dan lain-lain yang beruhubungan dengan metafisika. Tapi memiliki keris Pandowo Cinarito, saya jadi berfikir tentang tulisan di awal buku ini.

Di sana, saya menulis tentang keris panimbal. Keris yang mampu memanggil atau nimbali keris-keris dan pusaka-pusaka lain. Jadi, benarkah karena keris pertama yang saya miliki adalah keris jenis panimbal, makanya saya mendapatkan keris ini? Keris berdapur Pandowo Cinarito, berpamor Wengkon Isen, bertangguh Mataram.

Mungkinkah, tuah keris panimbal yang betugas nimbali pusaka-pusaka lain, sudah mulai bekerja? Lalu akankah, saya masih akan mendapat keris-keris lain? Entahlah.(*)

About NKS

Check Also

Mulai Sabtu Hingga Senin, Pasar Trayeman Ditutup Sementara

Slawi, koranpelita.com – Pemkab Tegal resmi menutup sementara operasional Pasar Trayeman, Slawi, Kabupaten Tegal, Jumat …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *