Inspirasi Dari Bawah Pohon Trembesi

Bekasi Ora (3)

Masji At Taqwa tegak berdiri di kompleks asrama putra Pondok Pesantren At Taqwa, Ujung Harapan, Bekasi. Kokoh, gagah dan mewah. Tampak dari luar, pilar-pilar penyangga besar mengingatkan gaya arsitektur klasik Eropa.

Sebanding dengan bangunan lain di kompleks pesantren. Asrama putra megah menampung ribuan santri. Kampus At Taqwa membentang di pisahkan jalan, menghadap lapangan luas.

Pohon Trembesi (Latin: Samanea Saman) atau nama-nama lain yang banyak. Pohon yang sangat rindang, rimbun daunnya memayungi sebagian tanah lapang yang luas, mencapai 20-30 meter.

Persis di depan Pondok Pesantren Putra At Taqwa, Ujung Harapan, Bekasi. Tumbuh pohon trembesi sangat besar, berada di seberang jalan menghadap masjid, membelakangi bangunan yang sama tuanya di bagian lainnya.

Pohon trembesi yang menjadi saksi bisu perjalanan At Taqwa, termasuk aktivitas santri, dewan guru, ustadz dan ulama besar yang menjadi kebanggaan masyarakat Bekasi.

Di siang yang terik bersama istri teecinta Siti Maryam Salim, saya duduk di bawah pohon rindang tersebut. Melepas lelah sambil menyantap hidangan kecil.

Allahyarham KH Noer Alie terbayang ketika berjuang, baik ketika mengusir bangsa penjajah maupun saat membangun peradaban melalui khudmat di bidang pendidikan Islam. Bagaimana beliau mengukir prestasi membangun masyarakat muslim.

Saat ini masyarakat muslim dan masyarakat Indonesia umumnya, menikmati hasil perjuangan beliau. Tinggal bagaimana meneruskan cita-cita dan perjuangan mengisi dengan amal usaha. Generasi pelanjut At Taqwa memiliki kewajiban bersama keturunan KH Noer Alie dan alumni yang tersebar di seluruh Nusantara.

Tantangan ke depan akan semakin besar dan rumit, sehingga memerlukan kesungguhan untuk mempersatukan segenap potensi yang ada. Bahu membahu untuk mengatasi setiap kendala yang muncul. Menyongsong sukses di hari depan.

Pekerjaan besar dan berat, sama beratnya dengan medan perjuangan dan dakwah para leluhur pendiri At Taqwa. Tantangan yang sudah di depan mata, bagaimana menyikapi perkembangan kawasan. Ujung Harapan markas At Taqwa menjadi kawasan baru, para pendatang berebut memasuki satuvtempat yang sama. Akan ada perbedaan, petgeseran bahkan perbenturan peradaban.

Masing-masing pihak akan membawa pengaruhnya. Untuk itu setiap santri dituntut mampu mengatasai bsnyak persoalan. Bekal ilmu yang mereka miliki diharapkan mampu menjawab setiap persoalan yang ada di masyarakat.

Adat kebiasaan, pola kerja dan tara cara menjalani kehidupan akan berbaur menjadi satu. Santri haris tampil elegan, di manapun dan dari manapun asalnya semua sama. Santri harus memberi teladan bagaimana menjalani hidup sehari-hari.

Panduan untuk itu sudah jelas, al Qur’an as Sunnah dan perilaku Rasulullah serta psra sshabat. Saatnya berdakwah bukan saja kepafa masyarakat Indonesia di negeri sendiri, melainkan masyarakat yang tinggal di Nusantara dari berbagai suku bangsa dan kewarganeraan. (D)

About redaksi

Check Also

Mengawal Perda Pemajuan Kebudayaan

Oleh : Gunoto Saparie Sampai saat ini Komisi E DPRD Provinsi Jawa Tengah hampir selesai …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pertanyaan Keamanan *Batas waktu terlampaui. Harap selesaikan captcha sekali lagi.

Eksplorasi konten lain dari www.koranpelita.com

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca