Home / Profil / Pilkada Gubenur Kalteng 2020 Menakar Politik. Bagian II

Pilkada Gubenur Kalteng 2020 Menakar Politik. Bagian II

Oleh Muhammad Gumarang

Menghadapi semakin dekat pendaftaran para calon gubenur kalimantan tengah pilkada 2020 nampak menambah hiruk pikuk para bakal calon bersosialisasi dimasyakat selain patahana Sugianto Sabran yang sudah dapat diterka siap dari segala sisi, terlihat pula mulai gencar Habib Ismail bin Yahya ketua DPW PKB Kalteng namun pasangan belum jelas dan partai koalisi belum nampak untuk memenuhi syarat pencalonan 20 persen dari jumlah kursi di legeslatif. Kemudian Ben Brahim S Bahat dengan pasangan Ujang Iskandar aktif bersosialisasi dimayarakat pasangan balon yang sudah tidak asing lagi dikancah politik kalteng namun partai politik yang mengusung belum jelas sekalipun Ben Brahim S Bahat Bupati Kapuas aktif dan ketua DPD golkar Kabupaten Kapuas namun dapat dipastikan partai golkar akan mengusung kembali patahana Sugianto Sabran, karena Sugianto Sabran selain memiliki hubungan akar politik yang kuat di golkar juga memiliki daya dukung yang kuat. Begitu pula partai Nasdem kalau tidak berkoalisi dengan PDIP maka kemungkinan besar akan merapat ke patahana, untuk itu Ben Brahim S Bahat harus berjuang keras mendapatkan Partai Nasdem melalui Ujang Iskandar sebagai pengurus Dewan Pakar DPW Partai Nasdem Provinsi Kalteng dan istri Ben Brahim S Bahat sebagai kader Partai Nasdem yang duduk di DPR RI juga harus berjuang keras mendukung mengupayakan untuk mendapatkan partai Nasdem untuk mencukupi persyaratan pencalonan Ben Brahim S Bahat untuk mengunci agar PDIP tak merapat ke Sugianto Sabran atau ke balon lainnya,maka juga berpotensi untuk meraih PKB akan terbuka.

Bagaimana dengan calon dari partai PDIP sebagai partai pemenang di kalimantan tengah jelas mereka tenang2 saja karena mereka memenuhi syarat untuk mengusung sendiri boleh dikatakan kesiapan mereka tak jauh beda dengan kesiapan patahana Sugianto Sabran sehingga mereka akan mampu bermain di injure time. Dalam hal ini PDIP punya daya tarik yang kuat bagi bakal calon untuk mendapatkan formulir B-1 KWK parpol tak terkecuali patahana Sugianto Sabran yang merupakan kader PDIP.

Begitu kuatnya daya tarik PDIP dengan segala problem politik Nasional yang dihadapinya tak akan menyurutkan upaya balon gubenur mendapatkan dukungan PDIP selain kadernya sendiri Sugianto Sabran, Asdi Narang,Willy M Yosef, maupun tokoh tokoh lainnya diluar partai PDIP sebut saja M.Riban Satia, Ben Brahim S. Bahat, Habib Ismail bin Yahya dan Nadalsyah (Koyem) ketua DPD Partai Demokrat Provinsi Kalteng yang muncul kembali dalam beberapa hari belakangan ini yang sempat menyampaikan mengundurkan diri sebelumnya dalam pencalonan gubenur ,padahal termasuk balon potensial namun sulit mendapatkan partai koalisi dan mungkin ada perhitungan lain.

Kemana PDIP berpotensi berkoalisi
dilihat dari kebijakan DPP PDIP koalisi nampaknya mengacu pada koalisi Pemerintahan Presiden Joko Widodo yang akan diterapkan kedaerah dalam pilkada 2020 dan ini ditegaskan kembali oleh DPP PDIP di jakarta beberapa waktu lalu bahwa mereka tidak akan berkoalisi dengan parpol diluar koalisi Pemerintahan Presiden Joko Widodo. Dengan demikian harapan Nadalsyah (koyem) ketua DPD Partai Demokrat Kalteng untuk mendapatkan PDIP semakin jauh dari harapan, karena partai demokrat diluar koalisi pamerintahan Presiden Joko Widodo,sedangkan itu yang sangat di harapan atau diinginkan Nadalsyah. Namun diprediksi potensi PDIP berkoalisi pada partai Nasdem dan PKB, sedangkan partai lain seperti Partai Golkar, partai Gerinda, PAN, Partai Demokrat, PPP, PKS diyakini merapat kepatahana Sugianto Sabran.

Bagaimana peluang Habib Ismail bin Yahya jelas harus berjuang keras untuk mendapatkan partai koalisi untuk memenuhi syarat pencalonan, mungkinkah PDIP menerima atau meminang Habib Ismail bin Yahya peluangnya ada namun sebatas wakil gubenur saja, karena jelas PDIP memprioritaskan mengusung kadernya sendiri diantaranya Sugianto Sabran,Asdi Narang, Willy M Yosef dengan target kursi gubenur sekalipun tanpa koalisi atau tokoh lain diluar kader yang berpotensi dijadikan kader dan yang punya peluang adalah M. Riban Satia, mantan Wali kota Palangka Raya dua priode,maupun tokoh lainnya Ben Brahim S Bahat,Nadalsyah semuanya harus siap pindah partai sebagai bentuk konsekwensinya,dan ini hal yang lumrah terjadi dalam dinamika politik, karena PDIP tak mengenal istilah pinjam perahu.

Kembali tentang potensi Habib Ismail bin Yahya yang harus bekerja keras untuk mendapatkan partai untuk berkoalisi dengan PKB yang dinokodainya dikalteng namun peluang itu harus bersaing berat dengan dua kekuatan besar yaitu patahana Sugianto Sabran dan PDIP yang sama sama sudah siap dengan keunggulan komparatif politik, daya dukung atau memiliki indikator politik yang kuat untuk bertarung menang yang dimiliki kedua kekuatan tersebut dimana partai besar,menengah dan kecil akan cenderung merapat kepatahana kecuali partai Nasdem berpotensi ke PDIP atau kepasangan Ben Brahim S Bahat dan Ujang Iskandar namun mereka harus berjuang keras atau berupaya extra ordanery untuk meraih tersebut. Disisi lain Habib Ismail bin Yahya sosok politisi kharismatik yang memiliki nilai jualan politik identitas dan ini tidak bisa dianggap enteng,namun masalah utama kesulitan dalam persyaratan kelengkapan infrastruktur partai pengusung akibat pengaruh kedua kekuatan besar tersebut.

Dalam hal ini memang jarang ditemui seorang kader memiliki kekuatan diluar partainya sendiri adalah sebuah penomena dinamika politik yang menunjukan variable politik yang dinamis sehingga membutuhkan kepiawaian dan upaya yang luar biasa itulah sosok balon patahana Sugianto Sabran terhadap hubungannya dengan PDIP dalam konteks pilkada 2020 ini,artinya tidak menutup kemungkinan kalau PDIP dapat diraih Sugianto Sabran maka dapat berpotensi besar calon tunggal atau melawan kotak kosong, karena selain menguasai infrastruktur politik melalui menguasai total partai yang ada dikalimantan tengah sehingga menimbulkan minimnya partai pengusung yang tersisa itupun kalau ada, sehingga menutup peluang balon yang lain dan juga tidak adanya calon perorangan.

Bagaimana partai PDIP sebagai partai pemenang dikalimantan tengah yang juga memiliki sejarah kepiawaiannya khususnya yang pernah dikalahkan oleh kadernya sendiri dalam pilkada 2015 yang lalu, mungkinkah ini terulang lagi bila PDIP harus berhadapan dengan kadernya sendiri Sugianto Sabran yang semakin matang kemampuan politik dan infrastrukrurnya ataukah harus ikut mengusung atau mendukung. Kalau dilihat dari konstalasi politik keduanya nampak PDIP kemungkinan mengusung sendiri baik dari kader sendiri maupun diluar kader yang sudah punya nama dimasyarakat atau yang memiliki popoleritas dan elektibilitas diantaranya Asdi Narang,Willy Yosef, M. Riba Satia, Habib Ismail bin Yahya, Ben Brahim S Bahat, Nadalsyah (Koyem) tentunya dengan memperhatikan indikator politik yang dimiliki calon yang ingin diusung sehingga selain PDIP memiliki mesin partai yang bertenaga besar juga akan memilih calon yang juga memiliki mesin pigur yang dapat dindalkan atau layak jual dimasyarakat. Keadaan ini akan berpotensi head to head antara Sugianto Sabran dengan calon PDIP

Bilamana kembali terjadi terulang patahana Sigianto Sabran berhadapan dengan PDIP di pilkada 2020 jelas itu sudah dipridiksi oleh patahana kemungkinan yang akan terjadi dan tentu strategi pemenangan sudah disiapkan, begitu pula PDIP tentu akan menyiapkan stategi baru bercermin dari kekalahan 2015 yaitu mulai dari penentuan pasangan siapa gubenur dan siapa wakil yang dilihat dari beberapa sudut, logistik, tim sukses , manajemen dan strategi pemenangan, karena dua kekuatan besar yang akan berkontestasi yang sama sama memiliki peluang menang namun kembali tergantung langkah2 dan strategi yang dimainkan kedua belah pihak dan mampu membaca kekuatan atau kelebihan maupun kelemahan masing masing.

Dalam hal ini PDIP sangat menentukan apakah nanti calon tunggal alias melawan cotak kosong atau head to head, sedangkan dari sisi patahana Sugiato Sabran nampaknya sudah siap dengan alternatif pilihan yang akan terjadi tersebut tersebut. Karena untuk terjadinya lebih dari dua pasang calon agak terlalu sulit walaupun upaya dari PDIP dan balon gubenur lainnya menginginkan,namun karena terlalu kuatnya mahnit patahana Sugianto Subran dengan partai lain diluar PDIP itulah fakror penyebabnya. Tapi sekalipun head to head kalau PDIP memasang pasangan calon yang tepat baik posisi gubenur dan wakil dengan tim sukses, logistik, management dan strategi pemenangan yang handal maka berpotensi akan membahayakan patahana. (Penulis Pengamat Politik dan Sosial, tinggal di Sampit)

About dwidjo -

Check Also

Inggit Ganarsih, Perannya Mendampingi Bung Karno Sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945

Oleh Dasman Djamaluddin Perayaan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-75, tahun 2020, akan berbeda, karena semakin ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *