Home / News / NKS Menulis Perantau: Tiji Tibeh

NKS Menulis Perantau: Tiji Tibeh

Ini Tentang Ngopi. Kegiatan paling digemari banyak orang. Ketika saya menjelajah ke berbagai kota, menuju ke Sewu Kutho, saya menemui kebiasaan yang sudah menjadi semacam budaya. Y aitu tadi, ngopi. Nyruput kopi seolah menjadi penyemangat hari.

Para pecinta kopi sepakat berpendapat bahwa ngopi dapat membuat pikiran menjadi tenang. Lebih ekstrem lagi, seorang rekan mengatakan bahwa ia tak dapat berfikir jika belum ngopi. Menurutnya, ngopi memunculkan ide-ide, selain membuatnya lebih cerdas.

Dari ngopi, perbincangan mengalir tanpa bisa terhenti. Berbicara hanya terhenti sejenak ketika sedang nyruput kopi. Inilah keakraban yang terjalin dalam bungkus dan wangi aroma kopi yang kuat. Yang diomongin pun sangat bervariasi. Ngopi mampu membuka seribu cerita tanpa jeda yang tak perlu memikirkan mau dari mana mengawalinya. Suasana hangat langsung terasa terpengaruh hangatnya secangkir kopi.

Banyak bisnis didapatkan melalui pendekatan tak resmi ditemani secangkir kopi. Bukan hanya dalam bisnis, lobi politik pun lebih sering dilakukan sambal ngopi sehingga suasana tegang dalam perseteruan politik justru lebih cair jika dibawa dalam suasana santai sembari ngopi.

Mereka yang fanatic akan bilang, jika beban hidup terlalu berat, cobalah ngopi sejenak. “Nek kuat dilakoni, nek ora kuat ditinggal ngopi,”  begitu prinsip para pecinta kopi. Dalam beberapa tulisan tentang ngopi, saya mendapatkan filsafah ngopi bagi orang Jawa sejatinya adalah ngolah pikiran.

Pahitnya kehidupan diibaratkan dengan kopi yang masih bisa dinikmati. Sepahit apapun kopi, bisa terasa manis saat ditambahkan gula. Manis atau dalam bahasa Jawa legi memiliki makna legowoning ati, berlapang dada. Filosofi ngopi yang terasa sangat dalam untuk diresapi dalam menjalani kehidupan.

BACA JUGA: Ngobrolin Inspriasi Warga Kulon Progo Sukses Digelar

Tapi NGOPI di malam Minggu tanggal 25 Juli 2020 terasa lebih spesial. Tak sekadar nyruput kopi yang disiapkan sendiri, tapi ngopi kali ini bermakna ngobrolin inspirasi. Gelar perdana dari anak-anak muda Kulon Progo Di Jabodetabek (KPDJ) melecut kepekaan para pemangku kepentingan baik di Kulon Progo maupun diaspora Kulon Progo di mana saja.

Melalui aplikasi zoom meeting, Pak Irwan dan KPDJ memberi sarana silaturahmi warga perantauan. Acara Ngopi (Ngobrolin inspirasi) dipandu dengan apik sekali oleh Pak Sutrisno Yulianto yang kondang dengan kemampuan training dan pengalaman di dunia perbankan. Tema besar yang diusung berjudul Kunci Menjadi Perantau Teruji.

Selain ada Pak Irwan dan Pak Sutrisno, acara menarik ini disiapkan oleh tim yang juga menarik. Tim Pitu. Dalam tradisi Jawa,  Pitu itu sangat maknawi: Pitulungan atau pertolongan, Pitudhuh atau petunjuk, dll.

Dalam Tim Pitu ada Pak Irwan, Pak Trisno, Pak Yatno, Pak Tomo, Pak Samsir, Pak Fadli, dan Pak Heri yang paling muda. Secara kompetensi, memiliki spesialisasi masing-masing sehingga mampu membuat Ngopi sukses luar biasa.

Ada tiga nara-zoom-ber (baca: narasumber) yang dihadirkan. Narasumber pertama adalah Profesor Bedjo Sujanto. Beliau sharing cerita pengalamaan merantau yang tak mudah namun berubah berkah ketika pantang menyerah. Sukses memimpin Universitas Negeri Jakarta (dahulu IKIP Jakarta) bahkan dua periode mulai tahun 2004.

Pak Agus Riyanto adalah nara-zoom-ber kedua yang tak lain beliau memimpin sebuah sekolah cukup terkenal SMP PB Sudirman. Tentu banyak pengalaman yang dienyam dan bisa dibagikan bagi para peserta setia yang berjumlah sekitar 75 orang. Belum lagi yang tidak dapat mengikuti dalam zoom meeting diberikan sarana untuk tetap bisa memantaunya melalu facebook secara live.

BACA JUGA: NKS Menulis Kulon Progo: Nge-pit Membelah Bukit Menoreh

Dan entah alasan apa saya pun diminta panitia menjadi nara-zoom-ber. Tentu belum sebanding dengan kiprah dua pembicara lain apalagi dibanding Prof Bedjo. Walau begitu, tantangan panitia saya jawab dengan bersedia. Ini sekaligus sebagai cara saya belajar dari narzoom (narsum) ataupun peserta yang saya yakin punya pemikiran brilian.

Waktu yang hanya sedikit rasanya saya habiskan hanya untuk perkenalan bahkan tak tuntas hingga terlupa menyebutkan saat ini masih aktif di mana.

Saya mengawalinya dengan bercerita sewaktu di kampung Nganjir dengan berbagai cerita kehidupan anak desa. Tekun membantu orang tua, tapi juga tak lupa selalu semangat untuk ngangsu kawruh di sekolah. Selepas SMA saya hijrah ke Bandung untuk kuliah. Itulah pertama kali saya merantau.

Saya menyebut kaum perantau sebagai kaum pemberani. Mereka berani keluar dari zona nyaman, yang biasanya melenakan. Alasan yang biasa kita dengar mengapa orang pergi merantau adalah mencari ilmu ke jenjang yang lebih tinggi. Saat saya merantau ke Bandung tentu alasan ini benar adanya.

Alasan lain merantau adalah mencari penghidupan yang lebih baik. Ketika sulit berusaha di kampung halaman, sementara pendidikan telah dirasa maksimal diraih, merantau untuk mengadu nasib dilakukan. Tak jarang kota besar menjadi jujugan dan tujuan.

Ada pula orang punya alasan lain untuk merantau di negeri orang. Walau alasan ini cukup jarang, tapi menarik untuk ditelisik. Kekecewaan yang dalam, boleh jadi karena patah hati atau cinta yang ditolak, menjadikan merantau sebagai sebuah pelarian diri. Memang jarak dan waktu bisa menjadi obat mujarab melupakan rasa kecewa walau tidak semua masalah tak mesti dihindari dan meminta waktu untuk menyelesaikannya.

Saat di perantauan, kendala dan tantangan menghadang. Saya membagi pengalaman diri ketika di awal-awal merantau. Kendala dan tantangan itu antara lain:

  1. sebuah kerinduan akan kehadiran ibu (dan bapak), keluarga, kawan atau kekasih hati di kampung halaman,
  2. Kendala dalam komunikasi atau bahasa dan beda budaya
  3. Kurang percaya diri atau minder
  4. Keterbatasan ilmu dan ketrampilan
  5. Takut gagal sehingga tidak berani untuk mencoba hal baru.

 

Ketika kita sudah tekadkan niat untuk merantau, kunci menjadi perantau teruji ala NKS saya sampaikan di forum Ngopi, ngobrolin Inspirasi. Perantau dituntut dapat beradaptasi dengan lingkungan barunya serta pandailah membawa diri.

Berpikiran positif atas semua hal juga kunci sebuah keberhasilan. Dengan positif thinking, tingkat stres dan kecemasan kita akan menurun. Pikiran yang pesimis tergantikan dengan pikiran-pikiran optimis.

Kiat berikutnya menuju perantau teruji, kita kerjakan tugas dengan rasa gembira tanpa keluh kesah dan usahakan melebihi ekspektasi dari pemberi tugas. Niscaya semesta akan menilai kinerja kita. Kunci selanjutnya adalah jangan tunda selesaikan pekerjaan. Dan, ingatlah jangan mengerjakan sesuatu dengan mengharap uang atau jabatan karena uang dan jabatan akan mengikuti seperti apa kinerja kita.

Menjadi yang berbeda dengan yang lain dalam hal positif tentu merupakan cara untuk atasan dan orang lain dapat mengenali kita. Jangan menjadi orang yang biasa-biasa saja.

Untuk bisa bertahan dan memenangkan pertandingan, inovasi merupakan kunci. Tanpa inovasi, kita akan tergilas oleh jaman yang berubah sangat cepat.

Kunci-kunci pembuka kesuksesan perantau dalam berkarya dan berupaya secara ringkas saya simpulkan antara lain:

✓         Kolaborasi, jamannya sekarang bukan kompetisi tapi kolaborasi

✓         Teruslah belajar dan bagilah ilmu kepada orang lain. Jangan pelit membagi

ilmu kepada orang lain

✓         Perbanyak teman, kurangi permusuhan dan perseteruan. Apalagi sesame

perantau dari satu daerah, harus kompak.

✓         Jika karir naik dan ada kenaikan rejeki, tak perlu gaya hidup ditinggiin

✓         Jangan lupakan orang tua dan keluarga karena mereka yang mendoakan kita

✓         Fokus melihat ke depan, boleh sesekali menengok spion, melihat masa lalu.

✓         Never give up

✓         Jangan takut gagal. Gagal adalah sebuah proses dan sebuah pembelajaran

untuk perbaikan yang akan menghasilkan kesuksesan

Karya sederhana yang belum seberapa sebagai wujud tanda dan rasa cinta saya kepada Kulon Progo antara lain:

⁃           Buku Nami Kulo Sumarjono dan Sewu Kutho, bukan semata mengenalkan

diri pribadi namun ada tujuan lain mengenalkan Kulo dan Kulon Progo.

Memompa semangat anak muda Kulon Progo untuk maju dan sukses. Bahwa

sukses itu bukan hanya milik orang kota, bukan hanya milik orang kaya, tapi

sukses adalah hak semua orang

⁃           Nglarisi hasil produksi Kulon Progo: batik, kue, kerajinan lain

⁃           Andil walau kecil berbagai kegiatan seni budaya, olah raga dsb

⁃           Membuat Kaos tanda cinta Kulon Progo. Untuk mengingatkan bahwa kita

lahir, ada dan besar di Kulon Progo. Tanah kelahiran.

⁃           Ada mimpi untuk membuat sebuah NGO organisasi non profit oriented

semacam NKS Foundation sebagai wadah sumbangsih ide membangun Kulon

Progo dan bantuan bagi anak muda cerdas namun terhambat oleh dari sisi

finansial

Sejatinya, saya pribadi menganggap sukses seseorang perantau tidak melulu harta kekayaan yang melimpah, mobil mewah, atau rumah megah, tapi seberapa bergunanya seberapa bermanfaatnya hidup kita bagi banyak umat. Sesama perantau memang perlu untuk bersatu. Prinsip tiji tibeh harusnya tertanam dalam setiap insan. Mukti siji mukti kabeh.

Ngopi semalam saya rasa sukses. Semua antusias tanpa terantuk rasa kantuk. Ngobrolin inspirasi memang sukses. Tapi yang lebih penting adalah eksekusi, bagaimana inspirasi membangun negeri diimplementasi. Bukan sekedar mimpi ataupun obrolan tanpa isi. (*)

Nami Kulo Sumarjono. Salam NKS

About NKS

Check Also

Prof Dr Haryono Suyono Anjurkan Baca Buku

Jakarta, Koranpelita.com Prof Dr Haryono Suyono bersama Kepala Perpustakaan Nasional, M Syarif Bando mengadakan rapat ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *