Hamka, Masyumi dan Regenerasi

Mengenang Kepergian Buya Hamka (6)

Oleh Dasman Djamaluddin

Bulan Juli ini, Buya Hamka meninggal dunia di usia 73 tahun. Tepatnya tanggal 24 Juli 1981 di Jakarta. Diberitakan ia gagal organ multipel. Sangatlah tepat jika figur Buya Hamka memberikan contoh kepada generasi muda.

Buya Hamka dalam perjuangannya telah memilih Islam sebagai jalan hidupnya. Itu sebabnya beliau menjadi anggota Sarekat Islam, Muhammadiyah dan terakhir memasuki Partai Masyumi atau Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi), salah satu partai politik yang bernapaskan Islam. Hamka menganut paham Nasionalis-Agamis. Hal ini bisa dilihat dari novel-novelnya yang ditulisnya.

Masyumi, sudah tentu kita tidak bisa melupakan dua orang tokoh Islam, yaitu Drs. H. Ridwan Saidi dan Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra.

_Pertama_ , Ridwan Saidi, adalah tokoh Betawi yang sudah malang melintang dalam perpolitikan di Indonesia. Pada bulan April 2010 di rumah kediamannya di Bintaro, Jakarta Selatan, dia menegaskan, “Hamka dan tokoh Masyumi lainnya orang jujur.”

Ridwan Saidi adalah putra almarhum Abdul Rahim bin Saidi, salah seorang aktifis Partai Masyumi ranting Sawah Besar. Kejayaan Partai Masyumi dalam Pemilihan Umum 1955 yang menjadikan partai di mana Hamka, Natsir, Sjafruddin Prawiranegara, Kasman Singodimodjo, Burhanuddin Harahap, duduk di dalamnya menjadikan partai nomor dua terbesar setelah PNI dalam dukungan suara, membuat Ridwan Saidi ingin mengulang sejarah kejayaan partai tersebut pada 24 November 1995 dengan mendirikan Partai Masyumi Baru (Masyarakat Umat Muslimin Indonesia Baru) meskipun akhirnya tidak sebagaimana Partai Masyumi yang sudah dibekukan Pemerintahan Soekarno tahun 1960 itu.

“Saya ingin merehabilitasi secara sosiologis, psikologis dan politis Partai Masyumi era 1950-an. Di masa Soekarno dan Soeharto, Masyumi tetap sebagai organisasi terlarang dan itu dicantumkan dalam PSPB (Pelajaran Sejarah Perjuangan Bangsa). Itu beban psikologis yang sangat besar bagi anak cucu warga Masyumi,” ujar Ridwan Saidi.

“Partai Masyumi hingga kini masih tetap lagendaris. Tokoh-tokohnya seperti Hamka dan lain-lain mengutamakan intelektual muslim, memiliki integritas, jujur dan berpegang tegung pada prinsip. Ini konsep lama dalam berpolitik yang sekarang dianggap sudah ketinggalan zaman,” tegas Ridwan Saidi menggarisbawahi.

Dahulu itu, tambah Ridwan Saidi menjelaskan, tokoh-tokoh Masyumi orangnya sederhana, tetapi rapi. Enak dipandang, tetapi terpelajar.Jika berbicara, retorikanya bagus. Vokal itu mencerminkan jiwa. Terkesan intelek dari suaranya. Itu pula sebabnya banyak partai Islam merindukan kembali sistem nilai itu. Dia ingin menegaskan, intelektual itu sangat dibutuhkan oleh bangsa dan negara saat ini.

Ridwan Saidi juga mencatat, kalau konsep baru sekarang dalam berpolitik, tidak perlu terlalu pintar, karena bukan syarat utama. Hal ini dikarenakan sistem nilainya sudah berubah. Bahkan penyanyi yang jelas-jelas tidak Islami bisa dicalonkan sebagai Bupati. Lebih dari itu, tokoh-tokoh Islam sekarang ini sudah meninggalkan sistem nilai.

“Sekarang banyak di antara mereka mondar mandir ke pengadilan hanya untuk mempertanggung jawabkan hasil korupsinya.

Kalau dulu ketika tokoh Masyumi, Sjafruddin Prawiranegara menjadi Menteri Muda Keuangan dan kemudian Menteri Keuangan (1946-1947), pernah seorang kader Masyumi minta kredit, langsung ditolak,” kembali Ridwan Saidi menegaskan.

Integritas dan kejujuran memang sudah hilang dari beberapa tokoh Islam Indonesia. Satunya kata dan perbuatan, sudah tidak terdengar lagi. Inilah salah satu faktor mengapa Partai Islam sekarang ini menurun dalam dukungan suara.

Partai Islam dinilai Ridwan Saidi, kekurangan tokoh atau figur yang kuat sebagaimana di masa-masa lalu. Partai Islam boleh saja melihat kejayaan masa lalu, seperti kemenangan Masyumi dan NU.Tetapi pertanyaan yang menggelitik, apa yang bisa mereka lakukan demi mensejahterakan rakyat?

Partai Islam mengalami goncangan berat akhir-akhir ini. Lebih-lebih setelah partai-partai nasionalis sudah banyak melakukan hal yang menarik agamis. Hal ini membuat masyarakat merasa tidak ada perbedaan antara Partai Nasionalis dan Partai Islam. Apalagi di masa Pemerintahan Soeharto yang berlangsung selama 32 tahun, Partai Islam betul-betul tidak bersuara.

Di masa Pemerintahan Soeharto, sistematika kepartaian terlihat jelas di mana seorang Presiden adalah Panglima Tertinggi ABRI (sekarang TNI), Kepala Eksekutif dan yang sangat kontroversial, adalah Ketua Dewan Pembina Golkar, yang anehnya saat itu tidak mau disebut partai, tetapi tetap golongan.Sedangkan Partai Islam di mana sudah tergabung dalam Partai Persatuan Pembangunan (PPP) berada di struktur paling bawah. Partai Nasionalis pun mengalami hal sama, dikelompokan ke dalam Partai Demokrasi Indonesia (PDI). Bahkan sering terjadi, apabila kedua partai ini mengadakan sebuah acara, Presiden Soeharto jarang hadir dan hanya mengutus wakilnya, tetapi apabila Golkar, beliau menyempatkan diri untuk hadir.

Melihat perbedaan antara Partai Islam dan partai lain dalam Pemilihan Umum, Harian “Kompas,” edisi Senin, 3 Februari 2003, hal.8, mencatat :

1. Pemilu 1955, diikuti 172 partai, organisasi dan perorangan peserta pemilu. Di sini terlihat Partai Islam mengalami kejayaan. Pemenang Pemilu, PNI (22 persen suara), Masyumi (21 persen), NU (18 persen), PKI (16 persen) dan partai-partai lain di bawah lima persen. Partai di Parlemen, 28 partai berhasil memperoleh kursi.

2. Pemilu 1971, diikuti 10 partai. Meskipun Golkar unggul, tetapi NU yang mewakili suara Islam masih dominan, tetapi tetap jauh di bawah Golkar. Golkar, 63 persen suara, NU, 19 persen, PNI, 7 persen. Partai di Parlemen, 8 partai berhasil memperoleh kursi.

Selanjutnya Pemilu 1977 – 1997, Golkar terus keluar sebagai pemenang dan mencapai puncaknya pada Pemilu 1997 hingga memperoleh dukungan suara 75 persen.

Dalam Pemilu, Juni 1999, setelah lengsernya Soeharto sebagai Presiden, 21 Mei 1998, PDI Perjuangan, 33,7 persen suara, Golkar, 22,4 persen, PKB, 12,6 persen, PPP 10,7 persen, PAN, 7,1 persen. Terlihat Partai Islam sedikit lebih baik, karena partai-partai Islam di masa ini banyak tumbuh dikarenakan Habibie sebagai Presiden RI memberi peluang membuka penerimaan partai-partai, sehingga ada sekitar 141 partai dalam Lembaran Negara di Departemen Kehakiman, tetapi partai-partai yang dianggap memenuhi syarat untuk mengikuti Pemilu hanya 48 partai.

Hanya sekarang ini berdirinya Partai Islam yang patut dipertanyakan, apakah cita-citanya sama dengan tumbuh dan berkembangnya partai-partai Islam di era kemerdekaan yang betul-betul menghayati Islam sesuai kata dan perbuatan?

_Kedua_ , Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, S.H, namanya belakangan ini menjadi bahan perbincangan di tengah diskusi Islam dan  Indonesia. Hal ini dikarenakan Yusril, sebagai tokoh Islam, akademis, Ketua Umum Partai Bulan Bintang, ia juga banyak dibicarakan tentang rencana pelepasan Abu Bakar Ba’asyir belum lama ini.

Foto di atas itu adalah ketika saya sebagai editor montly journal “Diplomat Indonesia,” bertemu di kantornya pada bulan Juli 2009. Dari tempat inilah, saya bisa menggambarkan sosok Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FHUI) itu. Kesan saya, memang figurnya sangat cerdas. Biasanya sosok seperti ini tidak pernah diam. Ia terus bergerak dan melakukan sesuatu yang positif.

Juga, saya pernah kuliah di FHUI. Hampir setiap hari saya lihat dari kejauhan, di ruangannya selalu membaca. Biasanya orang yang selalu banyak membaca, di samping memperoleh pengetahuan baru dan bijak,  juga bisa membaca tanda-tanda zaman.

Buat Yusril, Partai Masyumi, meski tak berumur panjang, tetapi partai itu berperan membesarkan dirinya.

Yusril identik juga dengan Partai Bulan Bintang (PBB), tempat di mana ia kini menjadi nakhodanya.

Menurut sejarah, Partai Masyumi didirikan 7 November 1945, dan dibubarkan tanggal 19 Agustus 1960, berarti usianya hanya 15 tahun. Menurut Yusril, di awal kemerdekaan, orang memilih partai seperti menentukan jalan hidupnya masing-masing.

Kala itu, pilihan berpartai kemungkinan besar ada tiga, jadi Nasionalis ikut PNI, bila Islamis ikut Masyumi, dan jika komunis ikut PKI. Yang lain ada, tapi tak sebesar pengaruh ketiga partai itu.

Yusril menjelaskan, orang dulu masuk partai merupakan pilihan hidup; tempat di mana orang berjuang habis-habisan, mati-matian. Tak banyak pikir ini dan itu.

Sekarang? Menurut Yusril, orang masuk partai banyak sekali pertimbangannya, dan banyak sekali hitung-hitungan untung-ruginya.

“Saya generasi yang lama, yang masih dipengaruhi oleh suasana partai-partai awal kemerdekaan tahun 1960-an, seperti Masyumi. Beda dengan generasi sekarang,” ucap Yusril.

Ayah Yusril bernama Idris Haji Zainal Abidin, seorang Masyumi. Ketika  Partai  Masyumi dibubarkan Presiden Soekarno, wajah ayahnya terlihat sedih. (Penulis wartawan senior tinggal di Jakarta)

About dwidjo -

Check Also

Kesaksian Jurnalis Palestina Bushra Jamal Ath-Thawil, Ungkap Fakta Penjajahan Zionis Israel

BUSHRA Jamal Muhammad Thaweel (22) memilih profesi wartawan setelah menyaksikan sendiri ayah dan ibunya ditangkap …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *