Home / Profil / Menghadapi Karhutla, Kembali ke Fungsi Ekologi dan Sosial, Tak Semata Fungsi Ekonomi

Menghadapi Karhutla, Kembali ke Fungsi Ekologi dan Sosial, Tak Semata Fungsi Ekonomi

Oleh: Dr. H. Joni,SH.MH

TANTANGAN berikut yang tak dapat ditolak kehadirannya adalah kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Musim kemarau yang sudah mulai memasuki kawasan di Indonesia, khususnya pulau Sumatera dan Kalimantan mengharuskan kewaspadaan terhadap munculnya musibah tahunan ini. Untuk itu berbagai persiapan secara praktis harus sudah dilakukan, agar setidaknya kerugian yang muncul ditekan sedemikian rupa seminimal mungkin.

Sehubungan dengan Karhutla ini, Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum dan Keamanan, Mahfud MD dalam bahasa optimis menyampaikan klaim bahwa dalam beberapa tahun terakhir Indonesia telah berhasil meminimalkan kebakaran hutan, sehingga bencana-bencana yang relatif besar dapat disebut tidak terjadi lagi. Pemerintah menurutnya juga telah menyiapkan sejumlah langkah terpadu untuk mencegah berbagai hal terkait Karhutla ini

Langkah Pemerintah
Di dalam pelaksanaan terkait pencegahan Karhutla, secara formal pemerintah telah melakukan kebijakan yang populer dengan beberapa langkah dari bergagai sisi. Sisi dimaksud adalah me memitigasi, mencegah, menyelesaikan dan melakukan tindak lanjut dengan berbagai langkah pencegahan dimaksud.

Mitigasi, maksudnya. adalah serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana. Secara yuridis hal ini disebutkan dalam Pasal 1 ayat 6 PP No 21 Tahun 2008 Tentang Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana). Namun tentu saja hal ini masih bersifat umum, karena program secara konkret, terukur dan secara perodik dari kinerja evaluasi masih belum diterapkan.

Pada sisi lain, kitigasi cenderung sebagai semacam ancang ancang yang diorientasikan terhadap terjadinya bencana. Asumsinya bahwa bencana terjadi, lalu bagaimana langkah Langkah antisipasinya, itulah mitigasi. Jadi tidak jauh hari dipersiapkan dengan titik berat preventif agar secara professional menghadapi bencana yang muncul dengan bebagai alternatif.

Secara faktual, untuk tahun 2020 ini kendalanya bukan semata dari faktor alam yang memicu Karhutla. Tantangan lain, yaitu pandemi virus korona yang masih membayangi dan belum terselesaikan tuntas. Bahkan pandemi korona telah menyita sebagian besar energi bangsa untuk memberantasnya. Untuk itu kendatipun semua persiapan terus dilaksanakan untuk melakukan upaya penanggulangan dimaksud, namun tetap tidak maksimal disebabkan pandemi korona.

Antisipas Abadi
Dari sisi positifnya, masih ada untungnya ingat kepada Karhutla. Namun satu hal yang harusnya senantiasa dipupuk dan dikembangkan, khususnya dalam kaitannya dengan pengelolaan kawasan hutan berkelanjutan. Ini disebut sebagai antisipasi abadi. Belakangan antisipasi abadi ini seolah terabaikan, dan program yang dilaksanakan cenderung praktis pragmatis. Hal ini membawa akibat penanganan Karhutla menjadi tidak efektif dan tidak efisien.

Antisipasi dimaksud, adalah dengan tetap menjaga hutan dalam tiga fungsinya. Pertama fungsi ekonomi, kedua fungsi ekologi dan ketiga fungsi sosial. Ketiga fungsi ini secara komprehensif diteerappkan secara bersamaan dan seimbang. Hal ini sudah diabadikan dalam UU Kehutanan namun cenderung terabaikan, khususnya pada fungsi ekologi dan fungsi sosialnya. Pengelolaan kehutanan yang berbasis ekonomi sangat mengemuka sehingga hutan dipandang sebagai potensi alam yang terabaikan fungsi ekologi dan fungsi sosialnya.

Fungsi social selama ini lebih dititikberatkan pada pelaksanaan CSR (Corporate Social Responsibility), yang juga tanpa pengawasan yang ketat sehingga sulit dipantau pelaksanaan di lapangan. Demikian juga sifatnya yang tergantung kepada perusahaan menjadikan program ini tidak komprehensif sebagai satu kesatuan yang terkait dengan kawasan secara umum, dan hanya terkiat dengan wilayah di sekitar aktivitas industri.
Kembali ke khittah, dengan melakukan upaya preventip, menjadikan fungsi sosial dan fungsi ekologi kawasan hutan dan sekitarnya akan lebih efektif dan efisien. Sementara mitigasi bencana lebih cenderung sebagai kinerja represif yang bisa disebut kinerja temporer. Untuk itu hendaknya segera dilakukan pemetaan dari pelaksanaan dua fungsi dari pengelolaan kawasan hutan, sehingga secara prefentif dapat diarahkan untuk mencegah Karhutla secara lebih dini.

Fungsi ekologis dan fungsi sosial yang selama ini seolah hanya sebagai semacam pelengkap harusnya justru dijadikan program utama. Kendatipun di atas kertas ditulis runut dan terinci, namun karena tanpa pengawasan pelaksanannya cenderung terabaikan. Kesibukan terhadap pengelolaan secara ekonomis dengan berorientasi kepada keuntungan materi yang diperoleh hendaknya dibatasi dengan orientasi pengelolaan secara ekologis dan sosial, dengan evaluasi terukur serta dipertanggungjawabkan secara ekologis dan sosial pula. (Penulis, Notaris tinggal di Sampit)

About dwidjo -

Check Also

Eksotisme Desa Cisempur, Gambaran Kecantikan dan Keramahan Indonesia

TATKALA semua kota di Indonesia bahkan di dunia dilanda kekhawatiran atas mewabahnya pandemi covid 19 ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *