Wakil Ketua Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (F-PKS) Mulyanto. Ist

PKS: Biofuel, Prioritas Pemerintah Adalah Rakyat Kecil, Bukan Pengusaha Besar

Serpong, Koranpelita.com

Anggota Komisi VII DPR RI dari Fraksi PKS Mulyanto minta Pemerintah tidak perlu menambah subsidi untuk Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit. Anggaran untuk peningkatan produksi minyak sawit sebagai bahan baku produksi biosolar tersebut ada baiknya dialihkan untuk program peningkatan kesejahteraan rakyat lainnya.

Demikian ditegaskan Mulyanto di Serpong, Tangerang Selatan, Selasa (23/06/2020). Mulyanto menilai pemberian subsidi kepada Badan Pengola Dana Perkebunan Kelapa Sawit untuk meningkatkan produksi bahan campuran biosolar saat ini tidak efektif. Saat harga minyak dunia anjlok, model subsidi ini hanya menghambur-hamburkan uang rakyat dan menguntungkan pengusaha besar. Apalagi di tengah pandemi Corona seperti sekarang ini.

“Saya rasa, kita tidak harus menggelontorkan uang rakyat untuk mensubsidi Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit. Apalagi kalau yang menikmati hanya segelintir raksasa sawit, sementara petani sawit kecil tetap tidak tersentuh,” tegas Mulyanto.

“Di tengah permintaan BBM domestik yg menurun, lebih baik kita sesuaikan komposisi produksi biofuel ini, sesuai harga keekonomiannya, agar uang rakyat yang terbatas betul-betul dapat difokuskan untuk penanggulangan pandemi covid-19 ini,” kata Mulyanto lagi.

Mulyanto mengapresiasi upaya Pemerintah meningkatkan produksi biosolar sebagai salah satu cara mengurangi polusi udara. Tapi saat ini bukan waktu yang tepat untuk memproduksi secara besar-besaran biodiesel, mengingat harga minyak dunia anjlok dan masyarakat tengah menderita kedaruratan kesehatan.

“Melihat perkembangan harga minyak dunia saat ini, kebutuhan bbm dalam negeri dan juga tingkat persediaan minyak mentah dunia yang melimpah, sebaiknya Pemerintah memilih opsi yang lebih efisien. Buat apa produksi biosolar dengan komposisi FAME tinggi, jika subsidinya semakin membengkak.

Kita jangan terlalu bersemangat untuk menaikkan komposisi FAME (fatty acid methyl esters, bahan olahan minyak sawit untuk campuran produksi biosolar) dari 20 persen menjadi 30 persen, dan seterusnya bila harga keekonomiannya makin tergerus.

Kita harus menjaga irama penataan sektor hulu dan sektor hilir migas secara selaras dan harmonis. Jangan sampai Pemerintah lebih mementingkan menolong segelintir raksasa sawit daripada kepentingan konsumen solar bersubsidi. Prioritas pemerintah harusnya adalah nasib rakyat kecil bukan para cukong sawit,” tegas anggota DPR RI daerah pemilihan Banten III ini. (kh)

About khairul habiba

Bekerja di Harian Pelita sejak tahun 1986, mulai dari wartawan hingga redaktur politik dan terakhir sebagai redaktur senior. Sekarang sebagai Redaktur Ahli di Koranpelita.com

Check Also

Aprindo dan Bhinneka.Com Siapkan 1.000 UKM Siap Ekspor

Jakarta,Koranpelita.com Tantangan yang melanda Indonesia sepanjang 2020, memunculkan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) sebagai salah …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *