Rapat Komisi III-PLN, Ketua DPRD Kalsel : Berharap Solusi Bijak, PLN Akui Kesalahan

Banjarmasin, Koranpelita.com

Ketua DPRD Kalimantan Selatan (Kalsel) H Supian HK, berharap pertemuan antara PT PLN dan Komisi III DPRD Kalsel yang membahas lonjakan pembayaran pemakaian listrik yang berdampak memberatkan bagi masyarakat semasa pandemi Covid-19, bisa menghasilkan solusi bijak. Sebab, Bagaimanapun juga kondisi masyaraktat saat ini masih dalam kesulitan termasuk prekonomian.

“Saya berharap pembahasan bersama ini bisa menghasikan solusi yang terbaik dan bijak bagi masyarakat,” pinta H Supian HK saat membuka rapat kerja membahas kenaikan lonjakan listrik bersama PLN dan Komisi III di gedung DPRD Kalsel di Banjarmasin, Selasa (9/6/2020).

Usia membuka rapat itu, Ketua DPRD, menyerahkan pembahasan lanjutan kepada Ketua Komisi III DPRD, H Sahrujani yang memimpin rapat dan mempersilahkan General Manajer (GM) PT PLN untuk menjelaskan.

GM PT PLN Kalselteng, Sudirman, menyebutkan, lonjakan pembayaran listrik pada Bulan Mei 2020, bukan karena tarif listrik naik.

Tapi disebabkan oleh kurang catat tagihan oleh PLN atas pemakaian daya yang meningkat saat masyarakat melakukan stay at home (diam dirumah) sejak bulan Maret dan bulan April.

Tak itu saja sebut dia, adanya kegiatan sahur pada bulan ramadhan juga memicu kenaikan penggunaan daya listrik, seperti yang terjadi pada bulan Ramadhan tahun-tahun sebelumnya.

Menurut dia, kekurangan catat tersebut, karena PLN pada Bulan Maret dan April menerapkan pola sistem tagihan “perkiraan rata-rata” pemakaian listrik sebelum masa pandemi corona, dan baru pada Bulan Mei petugas PLN melakukan pencatatan secara langsung ke meter Kwh yang ada dirumah pelanggan.

Pada pencatatan langsung itu kata dia, ditemukan selisih tambahan angka Kwh dibanding perhitungan rata-rata. Kemudian selisih kekurangan catat meter itu diakumulasi pada bulan berikutnya sehingga terjadi pembengkakan penggunaan daya yang memicu mahalnya pembayaran listrik.

” Ini seiring adanya keputusan presiden, dan penerapan pembatasan bagi aktivitas sosial bagi masyarakat, PLN pusat kemudian memutuskan aturan untuk pencatatan meter Kwh dengan cara penghitungan rata-rata dimulai Bulan Maret dan April, dengan melihat pemakaian 3 bulan kebelakang,” sebut Sudirman.

Keputusan diatas imbuhnya, memang sudah disosialisasikan baik ke media massa maupun media sosial serta juga diinformasikan kepada pelanggan seluruhnya, termasuk cara pencatatan langsung kerumah pelanggan yang dimulai pada Bulan Mei seperti sebelum pandemi corona.

“Jadi Bulan Mei ini kita lakukan pencatatan secara langsung dan tagihanya akan terbit di Bulan Juni ini,” kata Sudirman.

Kendati Sudirman mengakui kesalahan pihaknya dalam menerapkan sistem penghitungan rata-rata itu, namun PLN tetap menagih. Karena daya(watt) listrik sudah dinikmati pelanggan. Diapun memberikan solusi bagi pelanggan untuk membayar dengan cara mencicil selama tiga bulan dengan jumlah selisih masing-masing penggunaan.

” Kalo untuk tarif listrik kita tidak ada peluang untuk menaikan, dan sejak tahun 2017 sampai sekarang tarif sama dan tidak ada yang naik,” tegas Sudirman.

Dia menjelaskan posisi jumlah pelanggan PLN Kalselteng yaitu sebanyak 1.929.025 pelanggan.
Khusus Kalsel, sebanyak 1. 265 218 dengan pelanggan rumah tangga (RT) sebanyak 545.000.

Adapun sesuai aturan yang diterbitkan PLN pusat, pelanggan yang kena beban kenaikan rata-rata diatas 20 persen khusus diKalsel sebanyak 82.035 pelanggan.

Sudirman juga menginformasikan, untuk di Kalsel, terdapat jumlah masyarakat penerima listrik gratis berdaya 450 Kva, sebanyak 423.255 pelanggan, dan berdaya 900 Kva, sebanyak 84.807 pelanggan. Sehingga total pelanggan gratis sebanyak 508.062 pelanggan.

Dalam rapat yang juga dihadiri Wakil Ketua DPRD Kalsel, M Syaripuddin dan semua anggota Komisi III, diantaranya, Ardiansyah, Gusti Abidin, Rosehan NB, Jihan Haniffa, Gusti Miftahul Chotimah, Agus Mawardi, H Hormansyah, Fahrin Nizar, merasa tidak puas atas paparan petinggi PLN sore itu.

Karena selain pencatatan meter Kwh secara”kira-kira” ditambah pengenaan beban hingga 20 persen lebih.
” Ini tidak boleh terjadi, mengapa menghitung pakai kira-kira, sehingga rakyat jadi punya hutang,’ tegas H Hormansyah.

Senada koleganya, Agus Mawardi, menyorot tajam, mengapa tidak menurunkan petugas catat meter langsung. Padahal meski ada aturan PSBB dan sosial distancing, petugas PLN bisa saja melakukan kerja mencatat kerumah, karena saat mencatat meter petugas hanya diluar rumah pelanggan, dan tidak juga harus bertemu dan berkomunikasi dengan pemilik atau pelanggan.

Jihan Haniffa, juga menyorot, sebagai BUMN yang menguasai hajat hidup orang banyak, yangmana pada saat pandemi covid-19 yang diserukan pemerintah untuk diam dirumah.

Namun sebaliknya PLN mengatakan pembengkakan tagihan listrik yang terjadi diakibatkan masyarakat terlalu lama stay at home atau dirumah.
” Tapi ini kan atas himbauan pemerintah, dan kita harus dirumah itu kan disuruh pemerintah, seharusnya BUMN dan pemerintah itu koordinasi menyangkut kebijakan ini,” tandasnya.

Rosehan NB, tegas-tegas meminta GM PLN untuk mengevaluasi kinerja anak buahnya. ” Cek lagi anak buahnya terutama di teknik catat meter. Karena banyak masyarakat pelanggan yang melaporkan bahwa rumahnya tidak dilakukan pencatatan maupun poto. Jangan sampai pembulatan nilai pada bulan-bulan sebelumnya itu menjadi bahan untuk kenaikan pembayaran listrik,” sindir Rosehan.

Pimpinan rapat yang juga Ketua Komisi III DPRD Kalsel, H Sahrujani, menyatakan, hasil rapat akan memberikan rekomendasi ke PT PLN, agar jika pelanggan tidak mampu bayar maka aliran listrik tidak diputuskan.

Kemudian, tagihan tambahan yang dikenakan agar diperkecil lagi sehingga tak menambah beban hidup masyarakat.

Disinggung adakah jaminan agar tidak lagi ada lonjakan tagihan? Politisi Partai Golkar ini menyebutkan bahwa dalam rapat tidak disebutkan adanya jaminan yang dimaksud. (HMS/Ipik)

About kalselsatu

Check Also

Sekda Sintang: Kalian Bersyukur Lulus CPNS

Sintang, Koranpelita.com  Sekretaris Daerah Kabupaten Sintang Dra. Yosepha Hasnah, M. Si memberikan pengarahan kepada 238 …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *