Home / News / NKS Menulis Sidak: Di Musim Pandemi, Saatnya Kami Melayani

NKS Menulis Sidak: Di Musim Pandemi, Saatnya Kami Melayani

Agak terdengar galak, selain terselip nuansa jadul. Inspeksi mendadak alias Sidak. Bersama direksi lain, dua pekan terakhir ini, kami melakukan sidak ke beberapa kantor cabang di Jakarta.

Ini bukan sidak biasa, karena dilakukan bertepatan di bulan Ramadan, bulan penuh berkah. Tapi barangkali, Sidak ini tidak pas diartikan sebagai inspeksi mendadak, namun bermakna silaturahmi mendadak. Bukan pula silaturahmeet yang hanya menggunakan aplikasi video conference, tapi benar-benar hadir walau tanpa jabat tangan dan pelukan.

Mungkin ada yang penasaran mengapa BPJAMSOSTEK tetap membuka kantor walau banyak institusi bekerja dari rumah. Jawabannya, demi pelayanan. Sebab, masa sulit akibat pandemi, banyak rekan pekerja yang terpaksa kena PHK.

Tentu saja, kami paham banyak yang akan melakukan pengambilan manfaat terutama manfaat jaminan hari tua. Walau kami bisa layani dengan daring, tapi tak sedikit peserta tak memiliki literasi yang cukup tentang hal ini. Jadilah jalur pengurusan klaim yang konvensional dijalankan dengan protokol kesehatan yang ketat. Inilah saatnya kami melayani.

Saya awali silaturahmi perdana dengan mendatangi kantor cabang yang berada di Depok. Dengan mengenakan masker, saya meminta Mas Tejo, sopir kantor yang bertugas untuk mengarahkan mobil menuju Kantor Cabang BPJAMSOSTEK Depok.

Sesampai di kantor cabang, tidak satupun karyawan kantor cabang mengenali saya. Sekuriti yang menjaga gerbang bahkan dipesan tak perlu sampaikan kabar bahwa saya datang.

BACA JUGA NKS Menulis PSBB: Saat Hidup Dipaksa tanpa Warna

Saya sengaja tidak melewati pintu depan karena tak ingin mengganggu pelayanan peserta. Saya tahu ada pintu belakang  karena saat peresmian gedung kantor cabang saya ikut datang. Beberapa karyawan saya sapa tanpa membuka masker. Mereka hanya terbengong saat saya sampaikan untuk bertemu Pak Indra Iswanto, Kepala Kantor Cabang, tanpa tahu siapa tamunya.

Salam saya ucapkan saat memasuki ruang Kakacab di lantai 2 dan terlihat masih belum tahu tamu yang datang tiba-tiba tanpa diundang pula. Sadar saya membuat kebingungan Pak Indra, saya membuka masker dan barulah Pak Kakacab penggemar moge ini mengenali.

Tak ada salaman atau peluk erat cipika cipiki seperti dahulu lagi. Namun ini bukan berarti berkurang keakraban kami, namun demi sama-sama menjaga kesehatan sesuai protokol yang telah ditetapkan.

Saya kemudian diupdate tentang operasional kantor cabang termasuk proporsi pegawai yang work from home dan yang work at office. Beliau juga meyakinkan saya bahwa peserta yang datang ke kantor cabang dilayani dengan baik. Pun demikian peserta yang mengajukan klaim secara online melalui lapak asik atau pelayanan tanpa kontak fisik.

Lalu saya meminta ditunjukkan bagaimana rekan-rekan cabang melayani menggunakan lapak asik dan melayani secara face to face dengan mengacu pada protokol pelayanan selama pandemi covid-19. Di lantai dasar, Kepala Bidang Pelayanan dan ditemani oleh rekan-rekan pelayanan menjelaskan detail apa yang dilakukan hingga berapa antrian yang bisa dilayani dalam sehari.

Saya juga ingin ditunjukkan bagaimana Cabang Depok mengatur antrian bagi peserta yang datang. Mulai dari gerbang sekuriti mengecek suhu para tamu, meminta tamu menggunakan hand sanitizer, memberi nomor urut antrian, mengarahkan dan meminta dicek kelengkapan dokumen serta memintanya untuk duduk dengan jarak yang telah diatur. Pada gilirannya peserta dipanggil untuk dilayani sesuai dengan nomor urut antrian yang dipanggil.

BACA NKS Menulis: Merawat Tali SilaturahMeet

Selesai memperhatikan seluruh proses pelayanan, saya berdiskusi panjang dan beberapa masukan saya coba berikan. Semuanya tentu untuk bisa memberikan pengalaman yang baik bagi peserta yang mengurus manfaat sesuai dengan haknya.

Salah satu contoh adalah bagaimana menyapa dengan senyuman mengembang dua senti ke kiri dan dua senti ke kanan baik itu pelayanan face to face (sesuai protokol kesehatan) maupun pelayanan tanpa kontak fisik melalui lapak asik. Memang senyuman kita itu tertutup oleh masker, namun suara ramah pasti terdengar indah jika sapaan kita diawali senyuman. Peserta adalah raja yang harus kita layani secara prima.

Untuk menambah kenyamanan peserta, saya meminta pula agar disediakan tenda peneduh di kala panas atau hujan bagi peserta yang sedang menunggu giliran. Yang tak kalah penting, membuat sekat dari kaca atau yang transparan sehingga baik staf pelayanan maupun peserta terjaga dari risiko terpapar covid-19.

Alternatif lain yang saya sarankan untuk mencoba melayani tanpa bertatap muka namun menggunakan aplikasi komunikasi video atau video conference dalam hal peserta datang ke kantor cabang. Bahkan jika peserta banyak yang datang, dengan aplikasi ini satu staaf pelayanan akan bisa melayani lebih dari satu peserta secara bersamaan.

Tentu aspek kehati-hatian dan keamanan data harus diperhatikan dan ini bisa dijaga dengan menempatkan perangkat dalam jarak yang tepat atau dibuat kubikal sehingga jawaban pertanyaan yang masuk kategori rahasia tidak didengar oleh peserta lain.

Saya tak perlu berlama-lama namun sidak atau silaturahmi mendadak ini harapannya bisa menyemangati rekan-rekan di Cabang Depok. Sebelum pamit tentu ada foto bersama dengan senyuman paling indah yang saya berikan, tak masalah jika ini tidak kelihatan karena tertutup masker. Yang jelas senyuman tulus sambil mengucap agar terus melayani peserta tanpa keluh kesah di masa susah ini dengan berharap mendapat berkah.

Saya kemudian meluncur ke arah kantor namun terlebih dahulu ingin melipir mampir di kantor cabang yang saya akan lewati. Yang beruntung untuk disidak adalah Kantor Cabang Salemba.

Beruntung karena ini sifatnya silaturahmi yang mendadak tanpa pemberitahuan. Saya langsung melihat seperti apa pelayanan yang dilakukan dan diskusi dengan Pak M. Izzadin dan Kabid Pelayanan serta tim pelayanan. Masukan yang sama saya berikan agar pelayanan bisa lebih ditingkatkan baik dari sisi kuantitas maupun dari sisi kualitas.

Di hari yang lain, saya mengunjungi Kantor Cabang Gambir yang pimpinannya pernah satu tim di bawah saya di Kantor Pusat. Saya tanpa janjian ternyata bertemu pula dengan Pak Cotta Sembiring Deputi Direktur Wilayah DKI di kantor Pak Singgih, Kakacab Gambir. Deputi Direktur Wilayah tanpa lelah berkeliling ke kantor cabang untuk memastikan pelayanan berjalan lancar dan ikut memberi masukan perbaikan pelayanan di masa covid-19 ini.

Karena lokasi di lantai 4 sebuah gedung dan di lantai lain digunakan oleh tenant lain, tentu harus ada perlakuan yang berbeda agar pelayanan tetap prima. Pak Singgih dan tim harus menyesuaikan tata ruang agar kenyamanan peserta serta keamanan dari risiko terpapar covid-19 terjaga.

Sebelum ke Cabang Gambir, pagi hari saya meninjau Cabang Kelapa Gading. Di cabang yang dipimpin oleh Pak Erfan Kurniawan, saya berkunjung agak lama. Saya mengamati proses bisnis untuk melayani khususnya peserta yang hadir secara fisik ke kantor cabang itu. Sementara pelayanan melalui lapak asik tentu sama dengan cabang yang lain.

Memang Cabang Kelapa Gading dijadikan cabang untuk piloting sebelum konsep yang matang dijalankan secara nasional. Piloting menjadi penting untuk mencari bentuk yang sesuai di saat era berubah menuju yang sering disebut sebagai “new normal”.

Saat saya datang di Cabang Kelapa Gading setelah melawati cek suhu dan menggunakan hand sanitizer, saya langsung melihat sejenak proses pelayanan dan menuju ke ruang Kepala Cabang. Agak kaget rupanya Pak Erfan, karena pagi harinya saya video conference dengan seluruh staf cabang baik yang WAO maupun yang WFH dan saya tidak infokan bahwa akan ke Cabang Kelapa Gading.

Silahturahmi mendadak tak selalu memberi hal yang enak. Hari itu akan ada jadwal penyerahan atau pembayaran klaim meninggal dunia karena kecelakaan kerja. Tentu ini cerita sedih terutama untuk keluarganya. Cerita sedih untuk rekan-rekan kerjanya. Terlalu muda untuk dipanggil Sang Pencipta.

Yang dipanggil pulang dan disayang Tuhan bernama Adharul Anam. Ia bekerja di garda terdepan melawan Covid-19. Bekerja sebagai perawat di bagian ICU RS Mitra Keluarga Kelapa Gading. Almarhum merupakan salah satu perawat yang bertugas merawat pasien Covid-19 di RS Mitra Keluarga. Risiko kerja yang dihadapi almarhum memang sangat tinggi.

Karena saya pas silaturahmi mendadak di Cabang Kelapa Gading, saya diminta oleh Pak Kakacab untuk menyerahkan secara simbolik santunan atas program yang diikuti oleh almarhum dan RS Mitra Keluarga tempat ia bekerja.

Sejatinya saya tak akan mampu menahan air mata untuk suatu hal yang menyedihkan ini. Saya pun tak menemukan , tisu di meja Pak Kakacab andai benar saya terbawa larut dalam kesedihan ahli waris. Tapi tentu tugas ini mesti saya jalani. Bukti bahwa BPJAMSOSTEK hadir di saat genting dan turut melawan pandemi.

Penyerahan santunan pun tidak seperti biasanya. Saya harus meminta maaf kepada Pak Ronald Reagen, Direktur RS Mitra Keluarga dan Pak Saiful Amin, ayah dari almarhum Adharul Anam. Biasanya kami akan serahkan dengan seremoni resmi di kantor peserta atau di tempat ahli warisnya, namun di masa pandemi ini kami serahkan secara virtual melalui aplikasi komunikasi.

Saya berada di depan komputer di meja Pak Erfan dimana Pak Erfan harus membuka aplikasi vicon di telepon genggamnya. Sementara itu, terlihat bahwa Pak Saiful Amin berada di mobil dan Pak Ronald Reagen berada di RS Mitra Keluarga. Inilah cara baru yang mungkin akan lebih sering kami lakukan ke depan.

Dalam kesempatan tersebut, saya mewakili Direksi BPJAMSOSTEK mengucapkan bela sungkawa atas kepergian Saudara Adharul Anam. Kita semua memahami kehilangan yang dialami keluarga almarhum, namun kita semua sepakat bahwa almarhum adalah seorang pahlawan yang berjuang di garda terdepan dalam penanganan Covid-19.

Santunan yang diberikan kepada ahli waris yaitu ayah dari almarhum mengingat alhmarhum belum berkeluarga, merupakan salah satu jenis kasus kecelakaan kerja, dimana salah satu risiko yang membayangi petugas medis penanganan Covid-19 adalah risiko terpapar oleh penyakit itu sendiri.

Besaran santunan yang dibayarkan oleh BPJAMSOSTEK kepada ahli waris adalah sebesar Rp286,1 Juta yang meliputi manfaat Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) dan Jaminan Hari Tua (JHT). Disamping itu ahli waris akan mendapatkan manfaat Jaminan Pensiun (JP) setiap bulannya dari BPJAMSOSTEK. Manfaat Jaminan Pensiun ini akan dibayarkan seumur hidup dari ahli waris.

Tentunya nominal uang yang didapat memang mungkin tidak akan sebanding dengan perasaan duka kehilangan keluarga yang disayangi. Namun kami berharap, santunan yang diterima mampu meringankan duka dan beban keluarga serta agar dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh ahli waris almarhum.

Saya juga menyampaikan apresiasi kepada Pak Ronald Reagen dan RS Mitra Keluarga yang telah menjadi peserta BPJAMSOSTEK dan mengikutkan seluruh pekerjanya pada program BPJAMSOSTEK.

Dengan adanya kejadian ini, seluruh tenaga medis dan non medis yang bekerja  pada masa penanganan pandemi Covid-19 dapat diberikan perlindungan BPJAMSOSTEK. Ini dikarenakan mereka berada di garis terdepan sehingga memiliki risiko tinggi terpapar pada saat menangani dan merawat pasien Covid-19.

BACA JUGA NKS Menulis Ramadhan: Rambut Gundul & Kembali ke Goa

Saat sambutan diberikan oleh pihak ahli waris, Pak Saiful Amin menyampaikan rasa haru dan terimakasih baik kepada RS Mitra Keluarga maupun kepada BPJAMSOSTEK. Air mata yang lama ditahan untuk tidak tumpah dari Pak Saiful Amin akhirnya tak terbendung. Saya membayangkan kesedihan mendalam seorang ayah serta keluarga ditinggal oleh anak lelakinya yang masih sangat muda. Namun, Pak Saiful pun sangat menyadari sebuah risiko pekerjaan putra kesayangannya yang harus dipikul sebagai garda terdepan melawan covid-19.

Kami sepakat mendoakan semoga almarhum kiranya wafat layaknya mati sahid dalam perang sehingga syurga adalah balasan untuk almarhum Adharul Anam. BPJAMSOSTEK tentu mengupayakan perlindungan yang terbaik sebagai apresiasi atas kerja keras para pejuang di garda terdepan. Harapannya agar semua pihak dapat bahu membahu untuk saling membantu dan menguatkan sesama agar mampu melalui wabah ini bersama-sama dengan selamat.

Indonesia tidak boleh menyerah. Indonesia tidak boleh terserah.

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1441 H. Minal Aidin Wal Faidzin. Mohon Maaf Lahir dan Bathin.

Nami Kulo Sumarjono. Salam NKS

About NKS

Check Also

Selamat Datang Era “New Normal”

Oleh: Dede Farhan Aulawi Virus Corona yang melanda dunia sehingga dinyatakan menjadi sebuah pandemi, sampai ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *