Susukan Cianjur Dan Kisah Jamarun Mati Digantung

DALAM pekan ini, sudah dua kali air Susukan (Sungai) Cianjur, Jawa Barat, yang melintasi kota Cianjur, meningkat alias caah gede. Begitu kata warga masyarakat yang tinggal di sepanjang bantaran Susukan Cianjur.

Tahun 2017, Susukan Cianjur, mencatat sejarah baru, air Susukan Cianjur meluap, menyeret sejumlah rumah dan merendam pesawahan dan pemukiman penduduk yang ada di sepanjang bantaran sungai.

Susukan Cianjur berhulu dari Gunung Gede, melintasi kota Cianjur dan di sebelah timur bermuara menyatu dengan Sungai Cilaku. Kemduian berakhir bermuara ke Sungai Cisokan.

Keberadaannya, Susukan memiliki kisah yang tragis, dan hingga saat ini, masih misteri, yaitu kisah Jamarun Mati Digantung (Jamarun Paeh Digantung). Kisah itu, apakah kisah nyata atau hanya cerita rakyat yang tumbuh dan berkembang pada saat sebelum kemerdekaan.

Mati Digantung di Alun-alun
Pada masa itu, ada peristiwa yang sangat tragis. Seorang warga masyarakat bernama Jamarun, yang tengah memancing ikan di sungai yang dikenal dengan nama Sususkan Cianjur yang berdekatan dengan Pendopo Kabupaten, menemukan mayat yang terbawa arus air sungai.

Mayat itu, diangkat oleh Jamarun dari dalam sungai dan digeletakkan di pinggir sungai, dan ia pun berteriak memberitahukan kepada warga sekitar mengenai penemuan mayat itu. Mayat itu, oleh polisi Kedaleman dibawa ke Pendopo, dan atas perintah Dalem dilakukan pencarian siapa gerangan yang telah melakukan pembunuhan terhadap korban. Meskipun telah dilakukan berbagai upaya pencarian, namun pelaku pembunuhan misterius tidak dapat diungkap.

Akhirnya tuduhan pembunuhan ditujukan kepada Jamarun pemancing ikan yang telah menemukan mayat korban pembunuhan. Proses persidangan pun dilaksanakan. Jamarun didakwa dan dijatuhi vonis pembunuhan dengan hukuman mati. Sebelum dihukum mati dengan cara digantung Jamarun dimasukan ke dalam tahanan.

Ketika hari-hari hukuman mati akan segera dilaksanakan. Jamarun kepada isterinya yang membesuk ke rumah tahanan berpesan agar dibuatkan tasbih yang terbuat dari biji kanyere (sejenis biji-bijian). Dan Jamarun meminta kepada isterinya, juka nanti setelah dirinya dihukum mati, tasbih itu agar diberikan kepada Dalem.

Setelah Jamarun Mati, Menebarkan Harum Bunga Mewangi

Sesuai dengan keputusan pengadilan, tibalah saatnya Jamarun untuk menjalani hukuman mati dengan cara digantung ditengah-tengah Alun-alun Cianjur. Dari penjara Jamarun digiring ke Alun-alun Cianjur dan ditengah Alun-alun sudah siap menunggu tiang gantungan untuk megeksekusi mati Jamarun.

Ratusan pasang mata dari luar pagar Alun-alun, menyaksikan prosesi eksekusi hukuman gantung bagi Jamarun. Dengan wajah tertutup, Jamarun pun digantung. Seketika itu pula, dinyatakan mati. Isak tangis terdengar dari keluarga Jamarun, terutama istrinya.

Seiring dengan kematian Jamarun, tiba-tiba semerbak harum bunga mewangi di seantereo Alun-alun. Sehingga warga yang menyakasikan eksekusihukuman mati terhadap Jamarun, merasa aneh tiba-tiba muncul harum bunga mewangi hingga mayat Jamarun dikuburkan di pemakaman yang tidak begitu jauh dari Alun-alun Cianjur.

Seusai Jamarun dikuburkan, isterinya sesuai dengan pesan Jamarun memberikan tasbih yang terbuat dari biji kanyere kepada Dalem. Dalem pun menerimanya dengan keadaan sedih, sambil menangis terisak-isak setelah proses hukuman gantung dijatuhkan kepada Jamarun.

Sejak itu pula tempat dimakamkannya mayat Jamarum diberi nama Buniwangi, karena menebarkan harum bunga mewangi. Artinya kira-kira harum wangi yang penuh misteri. Ya, misteri, siapa pembunuh sebenarnya terhadap korban pembunuhan yang mayatnya ditemukan Jamarun. Jamarun hanyalah korban tuduhan sebagai pembunuh yang tanpa saksi penuh misteri.

Sejak kematian Jamarun yang mati dihukum gantung, di tengah-tengah masyarakat muncul lagu rakyat dan entah siapa yang pertamakali menciptakannya dan menyanyikannya. Ini diantaranya penggalan syair lagu dalam bahasa daerah Sunda :“Jamarun paeh digantung, digantung di Alun-alun..” dan seterusnya. (Man Suparman)

About dwidjo -

Check Also

Kesaksian Jurnalis Palestina Bushra Jamal Ath-Thawil, Ungkap Fakta Penjajahan Zionis Israel

BUSHRA Jamal Muhammad Thaweel (22) memilih profesi wartawan setelah menyaksikan sendiri ayah dan ibunya ditangkap …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *