Antara Tho’un dan Virus Korona

Oleh:  Dr H. Joni,SH.MH

KONTROVERSI menghadapi virus korona dalam kehidudpan sosial terjadi. Kendatipun tidak terpublikasi, kenyataan terjadinya kontroversi itu ada. Oleh karena cenderung lebih banyak sisi negatif (dalam bahasa agama: mudharat) dari pada sisi positif (dalam bahasa agama: manfaat), maka hal itu tidak terpublikasi. Namun faktanya hal itu terjadi dan cenderung menjadi masalah dalam diri umat.

Dalam bahasa agama merebaknya virus korona ini secara konseptual berada pada kawasan yang disebut tho’un. Arti secara bebas dari tho’un adalah wabah. Jadi merebaknya wabah pada satu kawasan dan pada waktu tertentu.

Banyak ayat dalam Quran yang memberi pemahaman bahwa pada masa lalu terjadi tho’un atau serangan wabah ini. Sebagai bentuk penjabarannya juga banyak ulasan yang ditulis oleh para ulama berkenaan dengan tho’un atau wabah yang menyerang umat saat itu.

Makna Tho’un
Dalam pemahaman medis, tho’un adalah penyebaran atau perluasan secara massif atau kronis dan ganas dari suatu penyakit. Pemahaman lain menyebut, tho’un adalah semacam wabah penyakit kolera yang merebak, hingga tidak ada satu dokterpun yang mampu menjumpai obat yang mujarab untuk kesembuhannya.

Dalam analisis para ulama, wabah tho’un yang tercatat paling besar dan paling luas jangkauannya terjadi dalam sejarah Islam ada lima. Yaitu pertama tho’un Syirawaih, yang terjadi pada zaman Rasulullah SAW, tepatnya pada tahun keenam hijriah. Kedua tho’un ‘Amwas, terjadi pada masa kholifah Umar bin al-Khaththab RA. Wabah tersebut melanda hingga negeri Syam hingga mengakibatkan 25 ribu orang meninggal dunia.

Ketiga, tho’un Shawiyyah yang terjadi pada zaman Ibnu Zubair yaitu pada bulan Syawwal tahun 69 H yang menyebabkan kematian selama tiga hari. Tertulis dalam setiap harinya ada 70 ribu orang meninggal. Dalam riwayat disebut hingga ada sekitar 70 sampai 80 anak dari sahabat Anas bin Malik yang meninggal dunia.

Keempat, tho’un Fatayat pada Syawwal tahun 87 H. Tercatat saat itu yang terkena wabah tersebut mayoritas para gadis, hingga disebut fatayat. Kelima tho’un yang terjadi pada pada tahun 131 H pada bulan Rajab, dan semakin parah pada bulan Ramadhan, dan terhitung di perkampungan al-Mirbad dalam setiap harinya terdapat seribu jenazah, kemudian mereda pada bulan Syawwalnya. Namun yang menurut catatan adalah kenyataan, bahwa dari kelima tho’un itu sama sekali tidak pernah berjangkit di Madinah dan Makkah.

Virus Korona Saat ini
Bahwa warga dunia sedang menghadapi wabah virus mematikan, virus Corona (yang secara resmi dinamakan WHO: corona virus disease 2019 atau COVID-19). Berdasarkan data resmi per akhir Maret ini, virus korona telah menjangkiti lebih dari 145 ribu orang di 139 negara dengan jumlah kematian melebihi 6000 jiwa.

Pada pespektif catatan sejarah dunia, bahwa pada abad XX dan awal abad XXI ini mencatat telah beberapa kali dunia menghadapi virus mematikan, diantaranya yang paling dikenal adalah virus Ebola asal Kongo (tahun 1976) yang mematikan 14.000 jiwa lebih. Virus H1N1 asal Amerika dan Meksiko (tahun 2009) yang mematikan lebih dari 123.000 jiwa. Virus MERS asal Saudi Arabia (tahun 2012) yang mematikan kurang dari 900 orang.

Namun wabah yang paling mematikan mungkin adalah Spanish flu atau Virus H1N1 tahun 1918 (Januari 1918- Dec 1920) yang diperkirakan menjangkiti 500 juta jiwa (atau 27% dari populasi dunia masa itu yang berjumlah 1.9 milyar jiwa) dan diperkirakan membunuh setidaknya 17 juta hingga 50 juta jiwa, namun ada pula yang memperkirakan hingga 100 juta jiwa. Nama Spanish sendiri dinisbatkan ke Spanyol bukan karena ia merupakan asal muasal wabah ini melainkan karena Raja Alfonso 13 terjangkit dan sakit keras karena penyakit ini.

Saat ini, dampak dari virus korona ini pun bervariasi diantara orang-orang yang terjangkitinya. Dimulai dari gejala flu biasa hingga gejala batuk kering, demam tinggi, dan kesulitan bernafas. Sebagian orang akan mengalami kondisi yang lebih parah dan mengancam jiwa seperti kegagalan ginjal akut, kerusakan liver, dan pneumonia (kegagalan paru-paru).

Untuk virus korona, tercatat dari 3 kasus tercapat pada 15 Februari 2020, virus korona melonjak menjadi 1.128 kasus pada 29 Februari 2020, dan per hari ini 14 Maret 2020 telah mencapai 17.660 jiwa dengan lebih dari 1.200 jiwa meninggal dunia. Kasus negeri Iran hampir sama, dari 2 kasus pada 19 Februari penderita melonjak menjadi 11.000 kasus lebih per hari ini dengan lebih dari 500 kematian.

Bahwa dalam bidang kesehatan masyarakat, khususnya bidang ilmu epidemiologi, mensyaratkan apabila suatu wilayah terjangkit maka haruslah dilakukan karantina terhadap para penderita, sementara itu untuk mencegah agar wabah tidak meluas maka prosedur yang ditempuh adalah penghentian kegiatan-kegiatan umum yang melibatkan masa agar kontak sosial dapat diperkecil sebisa mungkin.Tentu sebagai seorang muslim, tawakkal kepada Allah tetap menjadi pegangan hidup namun bukan berarti muslim harus berpasrah menerima apa adanya sementara belum menempuh daya upaya ikhtiar yang maksimal sesuai dengan ilmu pengetahuan.

Oleh karena itu permasalahannya bukan mencari persamaan atau perbedaan khususnya antara tho’un dan virus korona. Apakah virus korona termsuk tho’un atau bukan. Terpenting dari itu adalah menyikapi virus ini dengan hati hati, penuh kecermatan dan kewaspadaan. Hal ini tercermin dengan mematuhi seluruh arahan, ajakan, himbauan atau apapun namanya yang disampaikan oleh orang pintar dalam kaitan ini ahli kesehatan untuk bertindak sesuai dengan arahan mereka. Dengan demikian sekurangnya ada upaya darI masyarakat awam untuk mengantisipasi merebaknya virus korona dan tentu saja disertai dengan doa semoga virus ini segera berlalu. ***

About dwidjo -

Check Also

Kesaksian Jurnalis Palestina Bushra Jamal Ath-Thawil, Ungkap Fakta Penjajahan Zionis Israel

BUSHRA Jamal Muhammad Thaweel (22) memilih profesi wartawan setelah menyaksikan sendiri ayah dan ibunya ditangkap …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *