Home / Pendidikan / Segudang Potensi di Balik Terbakarnya Hutan Gambut

Segudang Potensi di Balik Terbakarnya Hutan Gambut

Oleh: Elda Alyatikah

Seperti yang telah kita ketahui bersama, Indonesia merupakan sebuah negara yang kaya akan potensi alamnya.

Berdasarkan data Global Wetlands (2019), Indonesia tercatat sebagai negara yang memiliki lahan gambut terbesar ke dua di dunia setelah Brazil dengan luas mencapai 22,5 juta hektar (ha). Lahan gambut yang dimiliki Indonesia tersebar di beberapa provinsi seperti Papua (6,3 juta ha), Kalimantan Tengah (2,7 juta ha), Kalimantan Barat (1,8 juta ha), Sumatera Selatan (1,7 juta ha), Papua Barat (1,3 juta ha), Kalimantan Timur (0,9 juta ha), serta Kalimantan Utara, Sumatera Utara dan Kalimantan Selatan masing-masing 0,6 juta ha.

Lahan gambut sendiri tergolong sebagai lahan basah yang merupakan wilayah peralihan antara daratan dan perairan. Lahan gambut merupakan jenis tanah yang terbentuk dari akumulasi sisa-sisa tanaman yang setengah membusuk, sehingga memiliki kandungan organik yang sangat tinggi. Tingginya kandungan organik yang ada pada lahan gambut menyebabkan wilayah ini disebut-sebut sebagai penyimpan karbon. Lahan gambut bahkan dapat menyaingi hutan amazon dengan cadangan karbonnya yang mencapai 93 ton/ha.

Akan tetapi, potensi lahan gambut sebagai salah satu kawasan utama penyimpan karbon semakin lama semakin menurun. Pada tahun 2019 lalu, terjadi sebuah bencana yang cukup besar menyebabkan menurunnya luasan kawasan lahan gambut. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat bahwa terdapat 328.724 ha area hutan dan lahan terbakar dengan 2.719 titik panas yang tersebar di beberapa wilayah di Indonesia. Kebakaran ini menyebabkan terganggunya aktivitas makhluk hidup akibat kualitas udara yang memburuk, bahkan hilangnya habitat hewan dan tumbuhan.

Namun demikian, jika dilihat dari sudut pandang ilmu pengetahuan, kebakaran lahan gambut memiliki potensi baru. Ketika lahan gambut yang disebut sebagai penyimpan karbon ini terbakar, karbon yang ada pada lahan gambut akan berubah menjadi suatu material yang disebut sebagai karbon aktif. Karbon aktif merupakan karbon yang sudah terbebas dari unsur lain di permukaannya dan memiliki pori atau rongga. Pori atau rongga yang ada pada karbon aktif tercipta akibat proses aktivasi seperti pemanasan yang dalam hal ini merupakan bencana kebakaran tersebut.

Material berpori seperti karbon aktif memiliki daya serap sehingga dapat berfungsi sebagai adsorben. Karbon aktif dari lahan gambut terbakar jika diolah lebih lanjut dapat digunakan sebagai penyerap senyawa polutan pada pengolahan limbah cair, pemurnian gas, penyaringan air minum, penetral limbah B3, penawar air laut, penyerap hasil tambang hingga produk kecantikan. Karbon aktif telah banyak dikembangkan oleh para peneliti di seluruh penjuru dunia. Batok kelapa, tandan kosong kelapa sawit, batang jagung, ampas tebu dan tumbuhan lainnya merupakan beberapa contoh bahan dasar pengolahan karbon aktif. Jika diperhatikan, karbon aktif memang diolah dari material yang tinggi akan kandungan karbon seperti lahan gambut. Maka dari itu, meskipun lahan gambut di Indonesia terbakar, nyatanya kejadian ini masih menyisakan segudang potensi yang dapat dieksplorasi lebih lanjut sehingga terbakarnya lahan gambut tidak hanya memberikan kerugian, namun juga keuntungan. (Penulis, Mahasiswa Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Palangka Raya)

About dwidjo -

Check Also

Ikuti Arahan Gubernur, MAN Kota Belajar di Rumah Sampai 14 April

Palangka Raya, Koranpelita.com Masa libur proses belajar mengajar (PBM) secara langsung di Madrasah Aliyah Negeri ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *