Menguji Komitmen Parpol

Oleh: Man Suparman

SEMUA orang memiliki keinginan, memiliki harapan sesuai dengan fitrahnya sebagai manusia ciptaan Alloh yang paling sempurna, karena diberi akal. Tentunya berbeda dengan binatang atau hewan, walaupun sama-sama ciptaan Alloh, namun tidak diberi akal. Itulah, keunggulan mahluk Alloh yang namanya manusia.

Keinginan dan harapan itu, ada di setiap otak manusia, baik yang hidup di kota, di gang-gang sempit, maupun di kampung nun jauh disana di kaki gunung di pinggiran kali atau bantaran sungai. Keinginan dan harapan itu ada disetiap otak manusia pejabat tinggi, pejabat rendahan, hingga rakyat jelata. Intinya semua manusia memiliki keinginan dan harapan.

Begitu juga menjelang Pemilihan Kepala Daerah/Bupati (Pilkada/Pilbup) Cianjur, Jawa Barat, yang akan digelar tanggal 23 September 2020. Banyak suara, keingian dan harapan , bahwa Bupati Cianjur mendatang diharapkan yang tidak terpapar atau tertular kekuasaan dinasti, atau kekuasaan masa lalu yang sudah dirasakan pahit getirnya.

Keinginan dan harapan seperti itu, nampak mencuat ke ruang publik dunia nyata dan ruang publik dunia maya seperti medsos dan media online. Selalu ramai dan viral menjadi bahan diskusi, kajian, bahkan olok-olok, nyinyir dan lain sebagainya sebagai bentuk ketidak-inginan, bupati Cianjur mendatang yang terpapar kekuasaan dinasti, dan kekuasaan masa lalu. Keinginan dan harapannya Bupati Cianjur mendatang wajah baru, hidangan baru (meminjam istilah netizen : Asto Nanggala) yang akan dipilih nanti.

Pertanyaannya, biasakah keinginan dan harapan, bahwa bupati Cianjur mendatang yang tidak terpapar kekuasaan dinasti, atau kekuasaan masa lalu. Jawabannya tentu saja sangat bisa. Kuncinya ada pada partai politik (parpol), jika pemegang dayung perahu yang namanya parpol benar-benar selektif dan memiliki komitmen yang sangat kuat. Artinya, parpol tidak memberikan perahu terhadap bakal calon bupati yang disebut-sebut terpapar kekuasaan dinasti atau kekuasaan masa lalu.

Sebaliknya jika parpol tidak selektif, mengutamakan hasil sruvei elektabilitas dan popularitas hanya berpikir menang, jika memberi kesempatan kepada yang membeli perahu dengan harga mahal dan tektek bengeknya dan tidak memiliki komitmen untuk menyelamatkan Cianjur.

Nah, siapapun jangan harap ada balonbup hidangan baru, ada bupati baru wajah baru semangta baru yang menyegarkan yang tidak terpapar kekuasan dinasti atau kekuasaan masa lalu. Harapan itu, jadi harapan palsu, kesempatan menjadi nyata sangat kecil.

Dalam penjaringan balonbup/wabup nanti, kita uji sejauh mana komitmen parpol terhadap kepentingan membangun Cianjur menjadi baik yang berpihak kepada kepentingan rakyat. Apakah akan menghidangkan hidangan lama ? Wallohu’alam. (Penulis wartawan Harian Pelita 1980-2018/Koranpelita.com).
0000

About dwidjo -

Check Also

Mulai Sabtu Hingga Senin, Pasar Trayeman Ditutup Sementara

Slawi, koranpelita.com – Pemkab Tegal resmi menutup sementara operasional Pasar Trayeman, Slawi, Kabupaten Tegal, Jumat …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *