Budayawan Sunda Pertanyakan Jargon “Cianjur Lebih Maju dan Agamis”

Cianjur, Koranpelita.com

Budayawan Sunda, DR. Abah Ruskawan, mempertanyakan tentang jargon “Cianjur Lebih Maju dan Agamis” yang didengung-dengungkan Plt Bupati Cianjur, H. Herman Suherman.

Pengurus Besar (PB) Paguyuban Pasundan itu, menilai jargon “Cianjur Lebih Maju dan Agamis” mengambang atau tidak jelas,”Yang dimaksud agamis itu, agama yang mana, jangan-jangan agama yang lain-lain,” ujarnya.

Jargon “Cianjur Lebih Maju dan Agamis” awalnya pemiliknya pasangan bupati/wakil bupati, Irvan Rivano Muchtar/Herman Suherman (IRM/HS). Namun kemudian IRM tersandung masalah hukum/kena OTT – KPK. Jargon “Cianjur Lebih Maju dan Agamis” dilanjut oleh Herman Suherman yang naik status menjadi Plt Bupati.

Plt Bupati Cianjur, H. Herman Suherman, dalam menjelang pemilihan kepala daerah (Pilkada) Cianjur periode 2020 – 2025 sebagai salah seorang pemilik jargon “Cianjur Lebih Maju dan Agamis” sepeninggal IRM, mendaftarkan diri mengikuti penjaringan balonbup melalui PDI-Perjuangan.

“Beliau tidak mendaftarkan diri kepada partai politik yang berbasis Islam. Kalau memang parpol-parpol Islam belum membuka pendaftaran, kenapa tidak menunggu pembukaan pendaftaran,” ujar Abah kepada Koranpelita.com di Sekretariat Paguyuban Pasundan Kabupaten Cianjur.

Abah Ruskawan sendiri yang juga mengikuti pendaftaran penjaringan balonbup melalui PDI-Perjuangan, bertekad ingin membangun Cianjur Bebasis Budaya,” Ya jelas, budaya yang diusung budaya Sunda bukan budaya yang lain-lain,” ungkapnya.

Menurutnya, di dalam kebudayaan baik budaya Sunda maupun budaya pada umumnya banyak hal yang namanya produk budaya. Menurut Taylor, suatu kebudayaan sendiri berisi hal-hal yang bersifat sangat kompleks mulai dari pengetahuan, kesenian, kepercayaan, moral, adat istiadat, dan hukum serta kebiasaan yang didapatkan manusia statusnya sebagai anggota masyarakat. (Man Suparman)
000

About dwidjo -

Check Also

Kotim Rangking 8 dari 10 Besar Kerawanan Tertingggi Penyelenggaraan Pilkada

Sampit, Koranpelita.com Menurut Nana Setiana supervisor dari lembaga kajian politik LP3ES Jakarta yang merupakan mitra …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *