Ah, Itu Kan Janji Politik

Oleh : Man Suparman

JANJI. Banyak macam janji. Ada janji palsu, yaitu janji yang tidak ditepati
sejenis janji gombal. Hanya janji tinggal janji misalnya dalam urusan percintaan anak Adam – Hawa.

Dalam dunia politik pun sama ada yang namanya janji. Janji itu, disebut janji politik. Yang namanya janji politik biasanya tumbuh menjelang Pilpres, Pilleg, Pilkada/Pilbub. Pada saat-saat seperti itu, bisa disebut pula musim janji politik.

Dalam menjelang pemilihan kepala daerah /gubernur /bupati /walikota, serentak tanggal 23 September 2020, boleh jadi, merupakan musim tahun banyaknya obral janji politik dari para calon gubernur/bupati/walikota.

Biasanya pada masa-masa kampanye, mereka mengobral janji, tiada lain agar dipilih oleh rakyat, sehingga keinginan jadi pemimpin, jadi gubernur, jadi bupati, jadi walikota dapat terwujud. Berbagai janji pun diobral untuk menarik simpati, sehingga ketika pemilih berada di kamar bilik pemungutan suara menjatuhkan pilihan terhadapnya.

Janji politik itu, memang asyik dilontarkan, dan asyik didengar, seperti janji, jika terpilih akan mensejahterakan rakyat, akan membangun ini dan itu. Masyarakatpun banyak yang terbius, disamping banyak juga yang sudah tidak percayai lagi terhadap janji-janji calon pemimpin, calon gubernur, calon bupati, dan calon walikota, kilas balik pada pilkada/pilgub/pilbub/pilwalkot sebelumnya, karena setelah jadi tidak menepati janji-janjinya.

Biasanya, ketika mereka sudah terpilih menjadi kepala daerah, atau menjadi anggota legislatif dan menjadi presiden, seringkali lupa terhadap janji-janji yang telah diucapkannya dihadapan masyarakat pada saat melakukan kampanye. Mereka asyik , sibuk dengan dunianya sendiri dalam pusaran kekuasaannya.

Tidaklah heran, ketika janji itu, ditagih atau dipertanyakan, dijawab enteng dengan mimik wajah tanpa dosa alias watados, “Ah, itu ‘kan janji politik,”. Dia berkelit dengan pembenarannya sendiri, bahwa yang namanya janji politik bisa diingkari, bisa tidak ditepati atau bisa diabaikan begitu saja.

Padahal yang namanya janji adalah utang yang harus dibayar. Apalagi janji politik, merupakan janji kepada publik atau janji kepada banyak orang yang harus ditepati, tidak ada alasan untuk diingkari. Janji adalah utang yang harus dibayar.

Semua orang pun tahu. Agama mengajarkan jangan mengingkari janji dan mengingkari janji salah satu dari tiga ciri-ciri orang munafik. Audzubillah himindalik. (Penulis wartawan Harian Pelita 1980 – 2018/KoranPelita.com).

About dwidjo -

Check Also

Hadapi Pandemi Covid-19, Libatkan Anak dalam Penyusunan Kebijakan

Jakarta, Koranpelita.com Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Bintang Puspayoga mengungkapkan di masa pandemi …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *