Catatan Ilham Bintang: Memburu Sunrise di Bromo

SUNRISE BROMO termasuk pemandangan indah di dunia. Kini, setiap dinihari bisa disaksikan aktifitas ribuan orang memburu itu. Dengan kendaraan khusus jeep Landcruiser berpacu melewati lereng bukit Widodaren yang terjal dengan jurang menganga supaya dapat posisi paling nyaman menikmati dan mengabadikan pemandangan alam yang Indah itu.

Seperti itulah yang kami lakoni Rabu (3/7) dinihari. Tim kami berdelapan, anak, isteri, mantu dan satu cucu. Empat cucu tinggal di villa ditemani dua suster. Beratnya medan tidak memungkinkan mereka trip ini dengan nyaman.

Kami dijemput di villa pukul 00.30. Sebelumnya, pukul 12 malam alarm di kamar anak cucu serentak berbunyi. Saya sendiri tidak tidur malam itu. Karena menghabiskan menonton ILC TVOne sejak pukul 8 malam. Topiknya menarik. Yang juga menarik, itulah penampilan pertama ILC setelah cuti lebih dua bulan tidak tayang.

Dari Villa kami mengendarai Toyota Commuter menuju Tumpang. Jauhnya sekitar 1,5 jam perjalanan. Plus rehat dan bersantap snack yang disediakan pemandu di rumahnya. Di sini pula bertukar kendaraan khusus Jeep Hardtop Lancruiser. Kami menumpang dua jeep. Saya di jeep paling depan. Duduk di depan samping supir. Perjalananan dari Tumpang hingga lereng Bromo cukup menengangkan. Sepanjang jalan tiada penerangan. Cahaya hanya dari lampu jeep itu pun redup. Kiri kanan gelap. Tidur terpaksa ditahan. Khawatir supir bablas membentur tebing jalan berkelok, yang dibeberapa ruasnya jurang menganga.

Tiba di akhir perjalanan jeep pukul 4 subuh. Harus jalan kaki naik bukit untuk sampai ke tempat untuk menikmati sunrise. Karena tempatnya favorit, otomatis orang harus beradu cepat menguasai lokasi itu.Sepuluh menit waktu diperlukqn berjalan jaki sampai di sana. Karena tempatnya gelap saya memilih naik ojek. Isteri saya pun demikian. Rombongan lain berjalan kami. Saya memilih ojek karena memerlukan lampunya untuk penerangan.

Alhamdulillah kami tiba di bukit favorit pukul 04.30. Sunrise pukul 05.45. Selama berada disana saya menyaksikan suasana hiruk dari para pemburu sunrise yang wajah-wajahnya baru tampak pas pagi.

Ada tiga akses masuk Bromo. Dari Malang, Pasuruan, dan Surabaya. Dengan begitu lokasi memburu sunset terbagi. Tidak menumpuk di satu tempat. Sehingga tidak terjadi chaos urusan memburu lokasi nyaman.

Pukul 05.15 biad kuning sinar matahari mulai mengukir langit. Sebentar lagi sunset. Menunggu detik-detik aktifitas, para pelancong mulai mainkan jurus selfie-selfie. Atau foto bersama dengan perlengkapan pakain dingin.

Oj, Ya, terlupa cerita. Suhu 12 derajat. Cukup dingin. Tapi sebagian menganggap dingin sekali. Yang terakhir ini tampak menutup seluruh tubuhnya menghindar gigitan dingin. Ditambah dengan masker, menjadilah seperti ninja. Saya ikut terkejut karena penampakan saya seperti itu di layar ponsel

Pukul 05.50 -06.00 Sunrise tidak tampak muncul seperti harapan. Awan menutup beberapa bagiannya karenanya tak bisa dilihat utuh. Bulat kuning keemasan.

Sayang, memang. Tapi kami tak kecewa. Begitulah kehendak alam, kehendak Tuhan, Allah SWT. Kita cuma berencana, Tuhan jua yang menentukan adanya.

Toh Bromo tak cuma sunrise. Ada lautan pasir, lokasi film “Pasir Berbisik” karya Garin Nugroho yang dibintangi Christine Hakim. Ada juga Bukit Teletubbies Bromo, Padang Savanah, dan berbagai tempat unik untuk jadi spot foto menarik. Pukul 7 pagi kami tinggalkan Bromo. Sampai jumpai lagi.(penulis wartawan senior)

About djo

Check Also

DK PWI:  Wartawan Harus Jaga Jarak  Dalam Kontestasi  Pilkada

Jakarta, Koranpelita.com Dewan Kehormatan PWI Pusat kembali mengingatkan pentingnya media dan wartawan aga menjaga jarak …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *