Saya dan isteri berkunjung ke Meseum Al Amoudi, Kamis (4/4) siang
Saya dan isteri berkunjung ke Meseum Al Amoudi, Kamis (4/4) siang

Catatan Ilham Bintang: Meseum Al Amoudi Pamerkan Peradaban Arab Zaman Dulu

TEMPAT “ziarah” baru di Mekkah itu bernama Museum Al Amoudi. Lokasinya di daerah El Shimeisi, pinggiran kota suci Mekkah. Untuk mencapainya, perlu sekitar 15 menit berkendara mobil dari Masjidil Haram.

Setelah Jabal Magnet, Jabal Uhud, Jabal Nur, hingga Jabal Rah, Museum Zam Zam, dan sekitar Makkah, Mina, Musdalifah, Arafah, Jabal Rahmah, kini memang Museum Al Amoudi itu masuk agenda favorit jamaah haji dan umrah di Tanah Suci.

Museum berisi berbagai properti peradaban dan perlengkapan hidup sehari- hari masyarakat Arab di zaman dulu. Mulai dari sumur, batu bangunan, perlengkapan memasak serta makan dan minum, toko, rumah, ranjang, sofa, perhiasan dan pakaian. Ada juga peralatan perang tentara Arab seperti baju dan pedang.

Mekkah tempo dulu hingga kini disajikan dalam rangkaian foto. Kita bisa mendapat gambaran Masjidil Haram, Ka’bah, dan jamaah bertawaf dan ber’sai di masa lampau. Tawaf dan Sai, masih sangat sederhana. Belum tertata rapi seperti sekarang. Sa’i dilakukan masih di area umum di tanah berdebu.

Saya dan isteri berkunjung ke Meseum Al Amoudi, Kamis (4/4) siang, hari terakhir di Mekkah. Sebelum ke stasiun Harramain High Speed Railway menuju Madinah. Museum itu baru tiga berdiri, memang masuk agenda yang akan saya kunjungi selama di Mekkah.

Meseum itu ternyata sudah cukup populer. Waktu saya tiba di sana, sudah banyak rombongan jamaah umrah berkeliling di area meseum yang luasnya sekitar 2000m2.

Lokasi meseum cukup strategis. Mudah dijangkau. Karena berada dijalan antara Mekkah dan Jeddah. Rata-rata rombongan jamaah berkunjung ke sana di hari terakhir mereka di Mekkah. Sekalian mampir sebelum ke bandara untuk kembali ke negaranya masing- masing.

Sebagai daya tarik, pengunjung dapat menggunakan semua properti yang tersedia untuk berfoto. Foto yang diminati berpakaian ala suku badui; pakaian raja, maupun tentara Arab. Tiket masuk meseum dibandrol 3 RS (Rp12.000), cukup murah.

Museum dengan arsitektur bangunan yang menyerupai benteng di masa perang itu dikelola oleh lembaga swasta. Al Moudi mengabadikan nama pemiliknya : Abu Bakar Al Amoudi. Abu Bakat membangun museum itu 20 tahun sebelum jalanan mulus Jeddah – Mekkah beroperasi pada 1435 H.

Selain foto Raja Salman yang terpampang di depan museum, juga terlihat mobil Mercedes Bens Kuno. Ada satu spot menarik untuk berfoto. Yakni foto 3 dimensi Hajar Aswad. Pengunjung bisa berfoto di sana seakan mencium Hajar Aswad yang asli.

Sayang brosur meseum ini masih ditulis dalam bahasa Arab. Kontras dengan pengunjung yang pada umumnya berasal dari berbagai negara di dunia yang belum tentu mengerti bahasa Arab.

(Penulis Wartawan Senior dan Pimpinan Cek&Ricek)

About djo

Check Also

Manfaatkan Ilmu Pengetahuan Untuk Pembangunan Sektor Pertanian

Jakarta,Koranpelita.com Membangun ketahanan pangan nasional harus terus diupayakan melalui pembangunan sektor pertanian dengan memanfaatkan ilmu …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *