Antisipasi Banjir Bandung Selatan

Terowongan Najung Antisipasi Banjir di Bandung

Jakarta, Koranpelita
Saat musim hujan, debit banjir Sungai Citarum, yang berada di wilayah Bandung, Jabar, selalu banjir. Karena air yang mengalir tertahan batuan besar di Curug Jompong yang juga merupakan situs budaya. Sedangkan arus air di wilayah yang rendah juga agak sulit mengalir sehingga perlu dibangun kolam retensi.

“Untuk memperlancar aliran dan meningkatkan kapasitas Sungai Citarum, kita bikin terowongan. Semula hanya bisa menampung banjir kala ulang lima tahunan atau Q5 = 570 m3/detik dan setelah ada terowongan menjadi Q20 = 643 m3/detik,” kata Menteri PUPR, Basuki Hadimuljono, di Jakarta, Selasa (12/3).

Menteri Basuki mengaku jika pembangunan Terowongan Nanjung, sudah ditinjau Presiden Jokowi, dua hari lalu.nantinya, keberadaan terowongan maupun infrastruktur pengendali banjir Sungai Citarum, semakin lengkap. Ada Kolam Retensi Cieunteung, floodway Cisangkuy, Embung Gedebage dan normalisasi Sungai Citarum akan menurunkan luas genangan 700 hektar.Sebelumnya, 3.461 hektar menjadi 2.761 hektar. “Apabila 1 hektar dihuni oleh 20 kepala keluarga (KK) maka akan ada 14.000 KK yang merasakan manfaat dari pembangunan terowongan ini,” kata Menteri Basuki.

Menteri Basuki menegaskan, terowongan ini dilengkapi check dam di sisi outlet yang akan menahan sedimen agar tidak masuk ke Waduk Saguling yang berada di bawahnya. Pada musim hujan aliran sungai Citarum sebagian besar dialirkan melalui terowongan. Pada musim kemarau, pintu terowongan akan ditutup sehingga dapat dilakukan pengerukan sedimen.

Terowongan Nanjung terdiri dari 2 tunnel dengan panjang masing-masing 230 meter dan diameter dalam 8 meter. Pembangunan terowongan telah dimulai pada November 2017 dengan progres saat ini mencapai 22% dan ditargetkan rampung akhir tahun 2019.

Dalam kunju7ngan itu, Presiden Jokowi mengatakan perencanaan pembangunan infrastruktur pengendali banjir Bandung sudah sejak lama. Namun karena keterbatasan anggaran pemerintah provinsi dan kabupaten maka baru dapat direalisasikan setelah ditangani pemerintah pusat yang dikerjakan oleh Kementerian PUPR.

Menurutnya, pembangunan Terowongan Nanjung akan mempercepat aliran Sungai Citarum ke hilir sehingga lama dan luas genangan banjir di kawasan cekungan Bandung bisa berkurang. “Diharapkan dapat mengatasi banjir di Bandung, terutama di daerah Dayeuhkolot, Baleendah dan Bojongsoang. Ditargetkan akhir tahun ini rampung. Sehingga musim hujan berikut sudah kelihatan fungsi dari terowongan ini,” kata Presiden Jokowi.
Selanjutnya, Menteri PUPR Basuki Hadimuljono mengatakan keberhasilan Program Citarum Harum memerlukan sinergitas antara Pemerintah Pusat, Daerah dan masyarakat. “Kementerian PUPR telah melakukan penanganan Sungai Citarum sejak lama, diantaranya melakukan pengerukan sungai. Namun dalam dua tahun terjadi kembali sedimentasi, hal ini karena bergantung pada kondisi Hulu Sungai Citarum di Cisanti. Itu bukti bahwa tidak bisa diselesaikan dengan pendekatan engineering saja,” kata Menteri Basuki.

Sementara Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Citarum Bob Arthur Lambogia mengatakan terdapat daerah yang berada lebih rendah daei elevasi sungai seperti Dayeuhkolot sehingga genangan tidak dapat dialirkan. Oleh karenanya diperlukan pembangunan kolam-kolam retensi yang akan menampung air pada saat musim hujan.“Kolam retensi yang telah kami bangun adalah Kolam Retensi Cieunteung yang akan mengurangi banjir di Dayeuhkolot dan Baleendah. Masih diperlukan pembangunan kolam retensi lagi,” kata Bob Arthur.(oto)

TEROWONGAN—-Presiden Jokowi didampingi Menteri PUPR, Basuki Hadimuljono tengah mendengarkan penjelasan pelaksanan pembangunan Terowongan Nanjung, Bandung, Jabar. koranpelita/ist

About dwidjo -

Check Also

Perkuat Kapasitas Kelompok Perempuan Pelaku Koperasi

Cikarang, Koranpelita.com Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Bintang Puspayoga menuturkan koperasi memiliki peran …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *