Wakil Ketua MPR Hidayat memberikan ceramah Sosialisasi Empat Pilar MPR RI kepada ratusan mahasiswa di Kampus Sekolah Tinggi Teknologi Mutu (STTM) Muhammadiyah di Tiga Raksa Tangerang, Banten, Jumat (22/2). (kh)
Wakil Ketua MPR Hidayat memberikan ceramah Sosialisasi Empat Pilar MPR RI kepada ratusan mahasiswa di Kampus Sekolah Tinggi Teknologi Mutu (STTM) Muhammadiyah di Tiga Raksa Tangerang, Banten, Jumat (22/2). (kh)

Hidayat Nurwahid Dorong Umat Basmi Islam Pobia

Jakarta, KP

Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nurwahid mengajak umat Islam berusaha membasmi sikap Islam Pobia dalam diri sebagian rakyat Indonesia. Sikap itu muncul, karena mereka tidak tahu atau masih mualaf tentang perjuangan umat Islam dalam merebur kemerdekaan dan mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Demikian ditegaskan Hidayat Nurwahid dalam ceramah Sosialisasi Empat Pilar MPR di Kampus Sekolah Tinggi Teknologi Mutu (STTM) Muhammadiyah di Tiga Raksa Tangerang, Banten, Jumat (22/2). Dikatakannya, akibat Islam Pobia itu, Islam selalu disalahkan, dipojokkan, disebut biangkerok dan bahkan dipersekusi.

Hidayat juga menegaskan, salah jika ada pihak yang mencurigai umat Islam, karena  dalam konteks ideologi Pancasila, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), Kebinekaan,  keumatan, kerakyatan dan, ke-Indonesiaan, umat Islam justru dari dulu sudah menyatu untuk mempertahankan NKRI.

“Kala itu, pekikan Allahu Akbar, Allahu Akbar, merdeka, dari Bung Tomo adalah sebuah gambaran tentang bagaimana dulu para Founding Father atau bapak bangsa melakukan kegiatan yang disemangati oleh fatwa Resolusi Jihad dari KH Hasyim Asy’ari,” ujar Hidayat.

Hidayat pun bercerita bahwa fatwa resolusi jihad itu diterapkan sejak 22 Oktober 1945 dimana KH Hasyim Asyari menyampaikannya dalam forum rapat Syuro ulama se Jawa Timur. Mereka terdorong untuk berperang mempertahankan Indonesia dari penjajah Belanda.

Dijelaskan Hidayat yang juga mantan Ketua MPR itu, isi dari Resolusi Jihad itu adalah, mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari kemungkinan dijajah kembali oleh Belanda. Hukumnya adalah Fardhu Ain, kewajiban yang harus diikuti individu setiap muslim.

Semua yang dilakukan ulama, santri, dan Bung Tomo, menunjukan peran ummat Islam sangat besar dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. “Bahkan, tidak hanya itu peran yang dimainkan oleh ummat Islam dalam menjaga bangsa dan negara,” ujar dia.

Dituturkan, ketika bangsa ini memilih bentuk NKRI, pilihan itu tidak disukai Belanda. Untuk menggagalkan Indonesia bersatu, mereka terus menekan Indonesia dengan mengakui kedaulatan, namun dalam bentuk Republik Indonesia Serikat (RIS). Pengakuan itu diberikan dalam Konferensi Meja Bundar di Den Haag, Belanda, Desember 1949.

Dalam perjalanan waktu, Ketua Fraksi Masyumi, di Parlemen, yakni Mohammad Natsir, melihat hal yang demikian, bentuk RIS, merupakan penyimpangan dari tujuan negara ini didirikan. Untuk itu, 3 April 1950, Natsir menyampaikan pidato di depan anggota parlemen. Pidato dengan judul Mosi Integral itu didukung oleh semua politisi.

Jadi, papar Hidayat, NKRI disemangati, diisi, diperjuangkan dan diselamatkan oleh para santri, para tokoh umat Islam, ormas islam maupun diorganisasi politik. “Dari dulu ormas Islam dan partai Islam sudah memberikan jasa yang luar bias untuk NKRI,” tegas Hidayat.

Politisi senior PKS itu juga mengatakan, jika mengacu pada Pancasila dan UUD 1945 sesungguhnya Indonesia memberi ruang kepada seluruh anak bangsa, termasuk umat Islam melalui eksekutif, Anggota DPR dan MPR agar bisa berkiprah membangun Indonesia gemilang.  (kh)

About dwidjo -

Check Also

Hayono Isman: Undangkan Secepatnya UU CK

Jakarta, Koranpelita.com Sekretaris Dewan Pakar Partai Nasdem Hayono Isman mengusulkan agar Pemerintah segera mengundangkan Undang-undang …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *