Home / News / NKS Menulis  Empat Tahun Menjabat-3: Ketika Wong Ndeso Masuk Istana

NKS Menulis  Empat Tahun Menjabat-3: Ketika Wong Ndeso Masuk Istana

Hari ini, saat saya membuat tulisan lanjutan ini, tanggalnya, 13 Februari 2020. Saya menyebut tanggal secara lengkap, karena saya ingin menuliskan peristiwa di bulan Februari, empat tahun lalu. Peristiwa yang berhias kecamuk perasaan dalam hidup saya.

Hari itu, 22 Februari 2016. Jika hari ini, tanggal 13 Februari 2020, harinya Kamis Wage, hari itu, tanggal 22 Februarai 2016, harinya Sening Pahing. Sebagai orang Jawa, saya senang menandai hari, lengkap dengan hari pasarannya. Jangan ditanya kenapa, anggaplah sebagai naluri Jawi.

Hari hampir berganti, pada 22 Februari empat tahun silam itu. Sebab memang sudah agak larut, saat saya baru tiba di rumah sepulang dari kantor Otoritas Jasa Keuangan. Di ujung telepon, seseorang memperkenalkan dari sebagai staf istana.

Tidak banyak percakapan malam itu. Dia hanya mengabarkan bahwa besok akan ada pelantikan dan saya diminta mengenakan Pakaian Sipil Lengkap (PSL).Sungguh. Kabar itu, mengagetkan tapi sekaligus menggembirakan.  Dalam hati, saya membantin: wong ndeso masuk istana.

Sejatinya masih ada keraguan. Apa benar orang yang menghubungi saya itu, memang orang istana. Harap maklum, penipuan melalui telepon atau aplikasi percakapan cukup marak. Apalagi saya belum menerima undangan resmi. Atau jangan-jangan orang istana salah menelpon orang karena hanya nama yang sama.

Keraguan mulai menghilang tatkala saya mendapat informasi lebih lengkap apa yang harus disiapkan, termasuk siapa yang boleh mendampingi. Lebih yakin lagi saat beredar berita melalui sosial media berikut list nama direksi dan dewas BPJS Ketenagakerjaan terpilih. Lalu disusul ucapan selamat dari berbagai teman.

Pemberitahuan yang begitu mendadak menjadikan persiapan menjadi kurang maksimal. Persiapan maksimal, memang menjadi penting, karena ini menyangkut penampilan. Penampilan masuk istana. Bukan untuk saya, tapi terutama penampilan bagi  para pendamping, yang justru maunya bisa ada tema dalam berbusana. Tapi apa boleh buat, tidak memiliki waktu mempersiapkan diri, jadilah urusan penampilan, sekadar seadanya.

Puteri pertama yang baru ada kegiatan latihan menari di kampusnya diwanti-wanit agar tidak pulang terlalu malam untuk menyiapkan kebaya terbaik yang dia punya. Puteri kedua perlu minta izin ke guru SMA-nya bahwa esok tak bisa masuk sekolah karena mesti masuk ke istana. Jangan tanya bagaimana hebohnya istri yang tak ingin kalah tampil dari kedua puterinya. Justru saya yang mau dilantik biasa-biasa saja, karena maksimalnya ya hanya segitu. Tak bisa lebih.

Pagi tiba. Tidak sekadar pagi tiba, tapi dengan sinar matahari yang terlihat lebih cerah dari biasanya. Sampai di Gedung Menara Merdeka, kantor tempat saya selama ini bekerja, jam baru menunjukkan pukul 07.00 wib. Tapi sepagi itu, sudah ada kehebohan lain di kantor. Heboh berebut memberi ucapan selamat.

Berangkat terlalu pagi tak memberi waktu untuk sekadar menyantap makanan pagi. Akhirnya, saya memesan empat mangkuk bubur ayam. Tak elok rasanya jika di istana, Bapak Presiden mendengar perut rakyatnya keroncongan.

Sementara saya dan keluarga masih sarapan, ada pesan masuk di aplikasi percakapan. Pesan dari keprotokolan BPJS Ketenagakerjaan yang kemudian saya ingat pernah bertemu di sebuah acara setahun sebelumnya di Bali. Saat itu, BPJS Ketenagakerjaan mengundang institusi tempat kerja saya sebagai narasumber. Mas Chandra begitu ia memperkenalkan diri di pesan yang dikirimnya.

Saat akan membuat tulisan ini, saya tanya ke Mas Chandra agar saya tidak keliru dalam menuturkan kisah empat tahun lalu itu. Kini Mas Chandra tidak lagi menjalani fungsi keprotokolan namun ia bertugas di salah satu cabang di Wilayah Jawa Tengah dan DIY. Ia satu-satunya yang saya kenal dari keprotokolan yang mengurusi saat pelantikan.

Yang membuat takjub, Mas Chandra masih menyimpan rapi percakapan lewat aplikasi yang kemudian dikirimkan screenshotnya. Can you imagine that? Empat tahun lalu, pesan percakapannya masih ada. Jangan-jangan handphone-nya tidak ganti-ganti. Tapi yang pasti memang saya tahu Mas Chandra orangnya sangat rapi. Ia seolah tahu percakapan itu saya akan butuhkan kembali.

Saya tidak mengurangi atau menambah pesan percakapan empat tahun lalu itu berbunyi seperti berikut ini: Assalamualaikum Bapak. Sebelumnya apa kabar? Mohon izin Bapak, saya dengan Chandra Protokoler BPJS Ketenagakerjaan, sehubungan pada hari ini ada pelantikan Dewan Pengawas dan Direksi BPJS di Istana. Melaporkan Pak untuk undangan Bapak sudah ada kami pegang pada kegiatan tersebut, mohon perkenannya Pak setibanya di area istana kami akan sambut Bapak. Tks.

Di screenshot itu pula saya tahu bahwa saya membalasnya dengan mengucap terimakasih dan menginformasikan bahwa saya akan sampai di istana pukul 09.00 wib.

Luar biasa. Sangat mengesankan sehingga dari screenshot itu ingatan saya pulih dalam mengenang momen penuh kesan. Tapi saya paham. Setelah empat tahun berada di lingkungan BPJS Ketenagakerjaan, saya menjadi paham, mengapa Mas Chandra masih menyimpan data percakapan kami. Itulah etos paling penting tertanam di insan BPJS Ketenagakerjaan.

Etos itu, seolah mengirim pesan kepada pembaca dan peserta BPJS Ketenagakerjaan. Bahwa pesan percakapan saja tersimpan rapi bertahun-tahun di tangan insan BPJS Ketenagakerjaan, apalagi dana peserta. Yakinlah dana peserta akan tercatat dan tersimpan rapi dan lebih dari itu bahkan selain aman juga dikembangkan dalam koridor regulasi.

Nah, kembali ke hari penting tanggal 23 Februari 2016. Pukul 10.00 wib lewat sedikit, acara sakral pelantikan Dewan Pengawas dan Direksi BPJS Ketenagakerjaan dan BPJS Kesehatan dilaksanakan. Direksi berderet di belakang Direktur Utama. Demikian juga anggota dewan pengawas ada di belakang Ketua Dewan Pengawas.

Tentu kebanggaan tersendiri kami dilantik langsung oleh Bapak Presiden dan berkesempatan diberi ucapan selamat melalui jabat erat tangan Bapak Presiden. Sayangnya tidak ada acara selfie karena untuk alasan keamanan handphone tidak diperkenankan dibawa serta.

Selepas acara pelantikan, kami bertujuh berfoto dibantu oleh fotografer resmi istana. Kemudian foto bersama keluarga yang pasti event ini dinanti oleh pendamping pelantikan yang sudah berdandan maksimal dari pukul 04.00 wib pagi.

Belum puas foto di ruang pelantikan, saya dan keluarga bergeser ke luar gedung. Kali ini foto menggunakan gawai sendiri. Sayangnya tidak ada yang membantu untuk memfoto kami berempat secara lengkap. Rasa bahagia dan syukur kami tandai dengan makan siang di Gedung Sarinah Jalan Thamrin.

Acara pelantikan, foto-foto, dan makan sudah usai. Para pendamping waktunya pulang. Tidak demikian dengan saya yang baru saja dilantik. Perlu membereskan beberapa hal di kantor lama yang mungkin juga tak selesai dalam hari itu juga.

Tak lama berselang, ada pesan masuk melalui aplikasi percakapan. Tetap dari Mas Chandra yang mungkin satu-satunya yang memiliki nomor handphone saya. Intinya bahwa sore pukul 16.00 wib ada acara serah terima jabatan bertempat di lantai 9 Gedung Menara Jamsostek.

Argometer sebagai pengemban amanat sudah mulai berjalan. Hari Selasa, 23 Februari 2016 merupakan titik nol, untuk lima tahun ke depan. Sore pukul 16.00 wib serah terima jabatan dilakukan. Maka karena saking semangatnya, begitu selesai serah terima jabatan, rapat pertama digelar di ruang rapat Kantor Cabang Menara Jamsostek.

Rapat perdana antara Dewan Pengawas dan Direksi ini dilaksanakan untuk saling mengenalkan diri. Berbeda dengan beberapa instansi lain yang seleksinya memilih tim manajemen, panitia seleksi dewan pengawas dan direksi BPJS Ketenagakerjaan memilih individu (bukan secara tim) yang dinilai mampu dan patut yang diharapkan menjadi tim manajemen yang kompak.

Akibat dari proses ini, saya tidak mengenal siapa yang terpilih baik yang terpilih sebagai Dewan Pengawas maupun kolega Direksi. Saya yakin yang lain pun sama halnya dengan saya.

Dari perkenalan itu akhirnya saya tahu nama, wajah, suara, dan prestasi dari para anggota dewan pengawas yang mewakili pemerintah, yang mewakili unsur pekerja, yang mewakili unsur pemberi kerja dan yang mewakili tokoh masyarakat.

Setelah perkenalan, selintas saya ingat pernah bersinggungan dengan salah satu dari mereka dalam pekerjaan di beberapa tahun sebelumnya saat menangani regulasi tentang tenaga kerja Indonesia di luar negeri. Beliau adalah Ketua Dewan Pengawas. Selebihnya, saya benar-benar baru mengenalnya, sekali pun mereka adalah orang-orang terkenal. Mungkin saking kupernya saya.

Demikian juga dengan anggota direksi. Diawali dengan Direktur Utama menyebutkan nama, kemudian background pekerjaan serta pengalaman di kantor sebelumnya. Disusul dengan para direktur yang lain. Saat itu, pembagian tugas menjadi direktur apa, belum ada. Presiden hanya menetapkan siapa yang menjadi siapa Direktur Utama, selain menetapkan siapa Ketua Dewan Pengawas.

Ajang rapat perkenalan ini dimanfaatkan untuk memberikan gambaran bagi anggota direksi tentang latar belakang pendidikan, pengalaman dan prestasi di instansi sebelumnya. Dari pengalaman dan prestasi yang diungkapkan tentu berekspektasi untuk dapat ditugasi menjadi direktur bidang tertentu. Sebuah hal yang wajar, agar bisa menjalankan tugas dengan lancar tanpa perlu lebih banyak belajar.

Saya sendiri mengenalkan diri dengan tidak terlalu percaya diri. Melihat dan mendengar para kolega yang luar biasa, sepertinya tidak banyak yang bisa saya banggakan untuk diceritakan. Saya lebih banyak menjadi pembuat kebijakan dan mengawasi lembaga keuangan, termasuk BPJS Ketenagakerjaan. Jangan-jangan saya lebih pas sebagai anggota dewan pengawas, bukan selaku anggota direksi.

Foto bersama keluarga sebelum mengikuti pelantikan.

Menangnya saya dari yang lain mungkin saya lebih tahu lebih dulu tentang peraturan perundangan yang menaungi program jaminan sosial, hingga filosofi di balik pasal atau ayat yang ada. Ini lebih karena keterlibatan dalam berbagai diskusi membahas rancangan peraturan perundang-undangan.

Saya hanya memiliki sebuah kepasrahan tanpa target atau keinginan harus menjadi direktur bidang tertentu. Bila yang lain sudah mendapat tempatnya yang tepat, mungkin bidang yang tidak diminati itu justru cocok untuk saya.

Direktur Utama yang baru mengenal saya dan rekan direksi lainnya tentu bekerja keras untuk bisa mengarahkan posisi yang pas untuk koleganya. Saya membayangkan beliau akan banyak mencari informasi dari berbagai sumber terkait masing-masing diri direksi. (bersambung)

Nami Kulo Sumarjono. Salam NKS

About redaksi

Check Also

MRCCC Siloam Hospitals Semanggi Gelar Run for Hope 2020

Jakarta,Koranpelita.com Memperingati Hari Kanker Sedunia yang jatuh setiap tanggal 4 Februari dan sebagai bentuk dukungan ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *