Home / News / NKS Menulis  Empat Tahun Menjabat-2: Ini Weling Penting Simbok

NKS Menulis  Empat Tahun Menjabat-2: Ini Weling Penting Simbok

Proses pendaftaran yang  penuh debar, kelar. Mendebarkankan oleh sebab waktu yang terus mengejar. Hampir tak teruber, saya menjadi pendaftar paling ekor di sepuluh menit sebelum pendaftaran berakhir.

Tapi yakinlah ini hanya proses awal yang akan dilanjutkan banyak hal lain yang jauh lebih berat. Sudah semestinya penyiapan diri dilakukan secara maksimal. Siapa tahu saya lolos seleksi administrasi.

Saya sadar.  Saya butuh semacam tim sukses yang bisa menjadi tempat berdiskusi dan menimba inspirasi. Tentu bukan tim sukses sungguhan, seperti halnya saat pemilihan bupati, gubernur atau presiden.

Mereka juga tidak menyebut diri sebagai ‘projono’. Dan, tugas tim sukses yang ini pun bukan berkampanye mencari dukungan atau melobby panitia seleksi. Tim yang benar-benar sebagai partner berdebat dan berpendapat.

Mereka adalah rekan-rekan hebat yang sama-sama begadang menyiapkan Daftar Inventarisasi Masalah (DIM) Rancangan Undang-Undang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial. Mereka pejuang tangguh yang biasa melayani diskusi dengan Parlemen sampai waktu Subuh.

Background pendidikannya pun tidak perlu diragukan. Keraguan muncul saat berbicara pengalaman di lapangan, karena mereka lebih banyak dari segi teori dan filosofi jaminan sosial, bukan dari sisi implementasi.

Tim yang juga mendukung adalah rekan-rekan di instansi tempat bekerja. Mereka menjaga kinerja kantor tetap sempurna di saat saya harus berkompetisi. Sudah sepantasnya mereka diberi apresiasi.

Tidak lama setelah berakhirnya masa pendaftaran, panitia mengumumkan hasil tes seleksi administrasi. Sekaligus memberikan jadwal uji kelayakan dan kepatutan. Tes dimulai dengan tes tertulis saat peserta seleksi menuang pandangan sesuai tema yang diberikan. Kali ini tak ada masalah lagi dengan waktu. Waktu yang diberikan sangat cukup.

Tulisan dan ide yang bagus itu diuji di tes tertulis ini. Ide bagus namun tulisan tak bisa dibaca bahkan oleh yang menulisnya rasanya percuma. Demikian juga tulisan tangannya bagus tetapi idenya kurang cemerlang, akan terlihat usang.

Walaupun saya tidak tahu tema yang akan diangkat sebelum tes tertulis dilaksanakan, namun saya yakin menyangkut seputar identifikasi permasalahan jaminan sosial yang ada di Indonesia. Termasuk alternatif solusi, langkah eksekusi akan seperti apa, tools yang dibutuhkan berupa apa, dan sebagainya.

Saya menduga panitia seleksi akan meminta peserta tes mengurai visi dan misi jika menjadi pimpinan di badan penyelenggara jaminan sosial ketenagakerjaan.

Nah, diskusi dengan  tim sukses yang bukan tim sukses betulan, apalagi betulan ‘projono’, sangat membantu. Apalagi dengan latar belakang mereka mulai dari pendidikan hingga profesi dan pekerjaan yang bagus-bagus.

Mereka sangat membantu mengalirkan ide dalam narasi tulisan. Toh menurut saya tidak ada salah atau benar di ajang tes menulis ini. Pekerjaan terbesar yang harus saya atasi adalah menulis dengan sejelas mungkin sehingga dapat dibaca baik oleh diri sendiri maupun panitia seleksi.

Proses selanjutnya adalah tes kompetesi bidang yang dilanjutkan tes psikologi. Tes yang membutuhkan konsentrasi dan ketahanan fisik maupun mental. Bayangkan saja, seharian harus menjalani tes dengan jeda hanya saat istirahat, sholat dan makan, seperti apa berasapnya isi kepala.

Dalam tes ini, ada fase berkelompok. Empat orang berkelompok yang kemudian diminta untuk berdiskusi. Saya tak tahu penilaian seseorang lebih baik dari yang lainnya itu dilihat dari mana. Saya hanya bisa mengira-ira yang akan dipilih adalah orang yang bisa memimpin dan yang bisa mengarahkan diskusi tetap dalam topik inti serta membuat simpulan yang disepakati.

Hal yang berbeda dengan kelompok diskusi yang lain terjadi di kelompok saya. Ada semacam kesepakatan saat akhir diskusi kelompok. Kesepakatan itu kira-kira berbunyi: siapapun dari empat orang yang lolos menjadi anggota direksi wajib mentraktir makan. Seolah sudah yakin ada dari kami berempat yang akan lolos seleksi.

Berlanjut dengan tes kesehatan di rumah sakit yang ditentukan oleh panitia seleksi. Ini juga termasuk tes yang menakutkan. Terutama yang takut dengan jarum saat diambil darah. Saya tak tahu banyak tentang tes darah. Kali ini saya pasrah tak menyiapkan diri dengan belajar. Paling banter saya puasa karena syaratnya sebelum diambil darah diminta puasa walau hanya dari pukul 22.00 wib.

Tahap terakhir dari uji kemampuan dan kelayakan adalah wawancara dengan panitia seleksi. Sepertinya ini tahap yang paling menentukan. Saya diminta menjelaskan secara singkat apa yang saya tulis dalam makalah saat tes tertulis dan tambahan penjelasan jika dibutuhkan.

Tidak diberi waktu yang mewah namun cukup untuk memberikan impresi para anggota panitia seleksi jika kita piawai membawakannya. Para anggota pansel kemudian menggali lebih dalam dengan banyak pertanyaan yang tidak bisa dibilang mudah untuk dijawab.

Begitulah. Semua selesai. Tiba saatnya pasrah, menanti apapun yang akan terjadi. Ikhtiar sudah dijalani dan kini tinggal doa, terutama dari orang-orang tercinta.

Setelah semua yang bagai dipacu waktu itu, saya lupa terbawa rutinitas kerja. Hingga suatu saat saya dan keluarga pulang dari liburan di rumah mertua. Sekitar awal bulan Desember 2015 saat itu. Setelah turun di Stasiun Gambir, kami naik taksi menuju rumah di daerah Depok.

Saya duduk di depan, sementara istri dan dua puteri saya duduk di belakang. Sang sopir taksi mengambil jalan melalui Jalan Thamrin, kemudian Jalan Sudirman serta berbelok ke kiri menuju Jalan Gatot Subroto.

Sudah barang tentu melewati depan Gedung Kantor Pusat BPJS Ketenagakerjaan. Karena macet, saya iseng mengambil foto papan nama bertuliskan gedung kantor pusat di Jalan Gatot Subroto No. 79 Jakarta Selatan tersebut.

Sambil berseloroh saya bilang kalau saya akan berkantor di gedung tersebut dalam waktu yang tidak lama lagi. Serempak terdengar lafal  “Aamiin” dari penumpang taksi yang di belakang hingga pengemudi taksi sedikit kaget.

Di minggu ketiga Desember 2015, saya pulang kampung ke Kulon Progo. Saya harus sering pulang kampung. Simbok (panggilan sayang ala wong ndeso kepada ibunya) sudah mulai sering sakit-sakitan.

Memang beliau sudah sepuh namun mata hatinya masih sangat tajam. Ketika anak lanangnya pulang, beliau tahu hanya dari mendengar suaranya, meskipun saya belum masuk ke kamar beliau. Saat sudah mendekat, beliau memeluk saya sangat erat, lebih erat dari biasanya.

Kepada Simbok, saya bercerita tentang titah yang tak elok dibantah untuk mengikuti seleksi anggota direksi. Seraya saya memohon doa dan restu kepada Simbok yang darinya saya banyak berguru berbagai ilmu.

Dengan lembutnya Simbok mengusap-usap punggung dengan masih terus memeluk sambil berkata bahwa doa selalu dilafalkan bahkan ketika malam tak lagi memberinya tidur yang nyaman. Beliau mengingatkan jika kelak benar mendapat amanat, tidak layak bersombong diri.

Itulah pesan yang sesungguhnya bukan pesan baru. Apalagi pesan terakhir. Pesan itu, konsisten disampaikan kepada tujuh anaknya sebagai bagian dari ilmu menjalani hidup.

Dan, doa Simbok terkabul. Bulan Februari 2016, anak lanangnya mendapat kabar dari istana untuk bersiap mengikuti upacara pengukuhan. Berita yang saya segerakan untuk disampaikan kepada Simbok.

Beberapa firasat disampaikan Simbok bahwa beliau akan segera ‘pulang’ karena telah dijemput Bapak saya yang sudah terlalu lama mendahului menghadap Sang Pemilik. 14 tahun sebelumnya. Benar saja. Hanya sebulan setelah pelantikan saya di istana, Simbok menyusul kekasih hatinya di alam baka.

Bagaimana dengan saya? Tentu ada duka mendalam walau tak boleh berlama-lama. Kini saatnya saya memanjatkan doa, doa yang dinanti oleh almarhumah Simbok.

Tapi lebih dari itu, saya harus melanjutkan kehidupan dan menjaga amanat yang baru saja didapat. Amanat tak ringan untuk dijalankan. Termasuk menjalankan wasiat Simbok serta weling penting untuk selalu eling lan waspodo. (bersambung)

Nami Kulo Sumarjono. Salam NKS

About redaksi

Check Also

MRCCC Siloam Hospitals Semanggi Gelar Run for Hope 2020

Jakarta,Koranpelita.com Memperingati Hari Kanker Sedunia yang jatuh setiap tanggal 4 Februari dan sebagai bentuk dukungan ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *