Home / News / NKS Menulis  Empat Tahun Menjabat-1: Sepuluh Menit yang Menentukan

NKS Menulis  Empat Tahun Menjabat-1: Sepuluh Menit yang Menentukan

Empat tahun berlalu. Saya menjalani sebuah peran. Peran yang menuntut tanggungjawab yang tak bisa dibilang ringan. Beda dengan pandangan orang kebanyakan yang selalu mengatakan bahwa peran yang saya emban ini terlihat indah nan nyaman.

Seorang teman lewat medsos mengingatkan bahwa dalam hidup ini sebisa mungkin kita harus memperbanyak berperan dan mengikis habis yang namanya baperan. Saya setuju dengan teman saya ini. Bahkan, saya sepakat untuk punya peran lebih (tanpa baperan) dalam durasi 5 tahun dimulai sejak Februari 2016.

Jadi masih setahun lagi peran itu harus diemban. Saya sengaja menggunakan kata “masih”, bukan kata “tinggal”. Tentu maknanya sangat berbeda, mengingat ini menyangkut tanggungjawab.

Saat menulis artikel ini, ingatan saya terlempar ke belakang di tahun 2015. Proses yang mesti saya jalani lantaran sebuah titah. Titah yang sangat mendadak agar hari itu juga mendaftar untuk mengikuti seleksi direksi di sebuah lembaga besar negeri ini.  Saking mendadaknya, sampai tak sempat bagi saya untuk sekadar tanya kenapa titah itu harus ke saya.

Hari itu, menjadi hari yang sangat saya ingat. Kamis, 19 November 2015. Hari terakhir pendaftaran. Itu pun di saat menjelang pukul 12.30 wib.

Sejatinya saya memang telah mengerti akan adanya seleksi untuk posisi dewan pengawas dan direksi. Saya melihat selintas pengumuman di media massa tanggal 6 November 2015. Tapi tak sedikit pun hati tergerak lebih cermat mendalami maklumat itu.

Keluarga yang memberi dukungan penuh saat ikut seleksi.

Hanya saja sang pendamping hidup seperti biasa lebih teliti mengejanya dengan suara yang hinggap hingga ke telinga. Pariwara yang didahului dengan penggalan kalimat yang maknanya sangat dalam: Negara Memanggil.

Ya, kata-kata “Negara Memanggil” itu tiba-tiba membuat jantung berdegup lebih kencang. Persis sama seperti setelah saya meminum kopi hitam kental yang keras tanpa gula.

Secara lirih hati lalu berkata, “Apakah saya termasuk yang dipanggil oleh Negara?” Begitu kira-kira awal sebuah kisah menuju peran yang harus jalani dan masih saya lakoni setahun lagi.

Dari warta yang akhirnya secara seksama saya baca, Panitia Seleksi yang dibentuk oleh Presiden mengundang Warga Negara Indonesia yang memiliki kemampuan dan kompetensi di bidangnya untuk mengikuti seleksi terbuka posisi dewan pengawas dan direksi BPJS. Pendaftaran itu ditutup pada tanggal 19 November 2015 pukul 17.00.

Jelas saya tidak punya waktu banyak. Sementara saya mengecek ada dua Panitia Seleksi yang berbeda untuk dua BPJS. Awalnya perintah untuk mengikuti seleksi saya pahami untuk posisi direksi di BPJS Kesehatan. Namun, setelah saya melakukan konfirmasi ulang, rupanya saya harus melayangkan lamaran kepada Panitia Seleksi BPJS Ketenagakerjaan.

Waktu yang tak banyak saya miliki itu harus bisa menyelesaikan pengisian formulir yang jumlahnya sangat banyak. Demikian juga dengan dokumen pendukung yang harus dilampirkan, mesti harus disiapkan atau dicari terlebih dahulu.

Rasanya tak mungkin bisa melengkapi dokumen-dokumen pendukung pendaftaran. Saya mesti menyelesaikan semuanya paling lambat pukul 15.00 wib agar saya tidak lebih dati pukul 17.00 wib sudah sampai di alamat kantor Panitia Seleksi di PPSDM Kementerian Kesehatan Jalan Hang Jebat Kebayoran Baru. Tapi putus asa sudah terhapus lama dalam kamus hidup saya. Menjalankan perintah secara all out sudah semestinya dilakukan.

Saya minta salah satu rekan untuk membantu mengisi formulir secara seksama dan dalam waktu sesingkat-singkatnya. Saya memberi penegasan kepada rekan tersebut bahwa tidak lebih dari pukul 15.00 wib seluruh persyaratan administratif mesti sudah dimasukkan amplop.

Foto bersama keluarga sebelum mengikuti pelantikan.

Saya hubungi istri di rumah untuk men-scan dan mengirimkan melalui email berbagai dokumen penting. Saya juga menelpon Ketua Persatuan Aktuaris Indonesia (PAI) untuk dapat memberikan rekomendasi selain rekomendasi dari atasan yang memberi titah.

Untuk mendapatkan Rekomendasi Ketua PAI sebelum pukul 15.00 wib rasanya sangat sulit karena jarak dan kemacetan Jakarta pasti akan menghalangi. Maka, kesepakatan dengan kesekretariatan PAI untuk dapat bertemu di Kantor Panitia Seleksi sekitar pukul 16.30 wib.

Ndilalah kersaning Gusti Allah. kemudahan demi kemudahan didapatkan. Saya seolah dibantu oleh banyak tangan sehingga seluruh dokumen bisa lengkap dalam sekejap seperti sulap. Dari tidak ada menjadi komplet. Dokumen yang biasanya terselip entah dimana ternyata sudah tersedia di depan mata.

Sebut saja misalnya: bukti pembayaran pajak dua tahun berturut-turut, Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara, Surat Keputusan tentang menduduki jabatan baik di kantor saat itu maupun di kantor sebelumnya, surat rekomendasi atasan, foto dan lain-lainnya.

Jujur ada satu dokumen yang mungkin sulit didapat dalam waktu kurang lebih hanya tiga jam mengingat saat itu posisi di kantor. Namun, entah apa yang mendorong saya untuk mengurusnya beberapa hari sebelumnya. Tidak untuk tujuan mendaftar, hanya untuk jaga-jaga. Ya, dokumen itu adalah Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK) atau sebelumnya dikenal dengan Surat Keterangan Kelakuan Baik (SKKB).

Secepat kilat formulir yang telah dibantu diisi saya revieu dan tandatangani. Hanya koreksi minor sya lakukan yang kemudian segera di-print ulang lalu saya tandatangani.

Pukul 15.00 wib saatnya meluncur dari Gedung Menara Merdeka. Saya minta Pebri ikut mendampingi menuju Kantor Panitia Seleksi. Saya punya dua rencana atau planning. Plan A diantar mengendarai mobil. Jika jalanan macet, plan B nya adalah turun dari mobil dan memilih naik bus transjakarta hingga Al Azhar kemudian naik taksi. Langkah antisipasi menghadapi kemacetan harus dihitung matang. Saat itu Jakarta belum memiliki MRT.

Dan benar. Begitu memasuki Jalan MH Thamrin, lalu lintas tak bergerak banyak. Plan A jelas gagal dan harus segera menjalankan Plan B. Tetap saja perlu waktu untuk menunggu bus transjakarta datang. Sudah setengah jam habis hanya untuk menempuh jarak yang tak jauh dari kantor yang berada di belakang Kemenpar hingga ke halte bus transjakarta di Jalan Thamrin. Mobil dan sopir saya minta untuk kembali ke kantor untuk diparkir.

Perjalanan dengan bus transjakarta hingga halte Al Azhar membutuhkan waktu yang menurut perasaan saya sangat lama. Hujan rintik-rintik menemani perjalanan kami. Mungkin ini juga membuat sopir bus transjakarta melambatkan laju disamping bertemu titik-titik kemacetan yang sulit dihindari.

Saya sejatinya memikirkan berkas yang saya bawa jangan sampai basah.  Ternyata saya salah, kekhawatiran saya terjadi. Saya baru sadar bahwa map berisi dokumen pendaftaran itu ternyata sedikit basah terkena air hujan. Terlupa jika harus membawa tas agar dokumen aman dari hujan. Yang terfikir hanyalah bagaimana cepat sampai ke Jalan Hang Jebat.

Walau bukan waktu pulang kantor, ternyata bus transjakarta sudah penuh sesak. Saking memikirkan bagaimana agar tidak terlambat, sampai lupa saya jika bagian depan bus transjakarta adalah khusus untuk wanita.

Sudah ge er saat para penumpang cantik-cantik itu seperti memperhatikan agak berlebihan. Ternyata karena saya salah tempat. Tidak memakai rok, kenapa berdiri di bagian depan bus transjakarta.

Akhirnya sampai juga di halte Al Azhar. Dan saatnya menggunakan moda transportasi yang berbeda. Jangan membayangkan sudah ada transportasi online seperti saat ini. Maka, taksi yang lewat pertama menjadi pilihan mengingat mengejar waktu dan dalam kondisi hujan.

Ternyata taksi yang lewat pertama adalah taksi premium yang nyaman saat di dalam. Tak boleh berfikir lama saya segera menyetopnya. Toh jarak tidak terlalu jauh sehingga biaya saya yakin tidak lah besar. Keren dan tidak memalukan andai orang melihat saya turun dari taksi premium untuk mendaftar menjadi anggota direksi. Padahal itu hanya dari jarak yang sangat dekat dan argo tidak lebih dari Rp20.000.

Namun karena ada tarif minimum untuk jarak pendek maka dengan senang hati saya merogoh dompet dan membayar Rp50.000. Harga yang masih dapat dimengerti karena telah menaikkan sebuah gengsi. Sayangnya tak ada orang yang melihatnya, karena hari memang sudah sore, sekitar 10 menit menjelang pendaftaran ditutup.

Saya tidak langsung menuju lantai tempat panitia seleksi berada. Saya perlu bertemu rekan yang mengantar surat rekomendasi Ketua PAI untuk mendapatkan berkas dan tak lupa mengucapkan terimakasih.

Setelah itu saya ke meja panitia untuk mengisi semacam buku tamu dengan mencantumkan waktu untuk menandakan pukul berapa saya datang. Saya menanyakan apakah saya hanya menyerahkan saja atau harus menunggu dilakukan verifikasi dokumen. Ternyata saya perlu menyaksikan panitia melakukan verifikasi dan menjawab beberapa pertanyaan terkait dokumen.

Saat mengisi buku tamu, saya mendengar ada telepon menghubungi panitia. Perbincangan per telepon tersebut terdengar bahwa seseorang sedang menuju ke Kantor Panitia Seleksi dan terjebak dalam kemacetan luar biasa sehingga kemungkinan akan terlambat sampai ke kantor Panitia. Jawaban tegas dari panitia yang menyebutkan bahwa pandaftaran tutup pukul 17.00 wib sesuai yang diumumkan melalui media massa rupanya membuat sang penelepon kecewa dan marah-marah.

Setelah rampung mengisi buku tamu, saya minta Pebri menyerahkan berkas pendaftaran dan menunggu serta menginformasikan jika saya dipanggil verifikasi. Sementara saya meminta ijin mencari mushola untuk melaksanakan hal yang wajib yaitu Sholat Ashar.

Saat meninggalkan meja pengisian buku tamu untuk sholat, saya lihat beberapa pelamar menyusulkan dokumen yang belum lengkap setelah dokumen pelamar tersebut diverifikasi di hari-hari sebelumnya. Waduh, bagaimana jika dokumen yang saya sampaikan tidak lolos verifikasi karena kurang lengkap? Tak ada waktu lagi untuk melengkapi. Berfikir positif saja bahwa yang saya serahkan sudah lengkap dan tak ada yang kurang atau yang berlebihan.

Foto seusai pelantikan di Istana Negara.

Selepas sholat, seraya saya bermunajat. Hikmat memanjatkan doa sepenuh hati kepada Alloh SWT, Tuhan Yang Maha Esa, untuk mengharapkan keridaan dan bantuan-Nya dalam proses seleksi ini. Doa seorang hamba yang tanpa dibantu Sang Maha Kuasa pasti sulit impian hambaNya terlaksana.

Lalu saya duduk kembali menunggu dipanggil panitia untuk verifikasi dokumen saya mendengar keributan. Rupanya yang menelpon panitia tadi telah tiba. Dengan santun, panitia meminta maaf dan memberi tahu bahwa pendaftaran sudah ditutup sesuai jadwal. Sang calon pelamar ini tiba pukul 17.15 wib.

Dengan argumen kemacetan Jakarta yang luar biasa dan telah menelpon ke panitia atas akan keterlambatannya, sang calon pelamar tetap ngotot untuk dapat untuk mendaftar. Marah besar dan dengan kata-kata yang makin keras terdengar. Akhirnya, saya menyaksikan sekuriti turun tangan. Setelah itu, saya tidak tahu lagi. Saya dipanggil panitia untuk verifikasi.

Ternyata saya adalah pendaftar terakhir sebelum ditutup mengingat yang datang lebih dari pukul 17.00 wib tak lagi diterima. Tidak terlalu lama verifikasi dokumen berakhir. Saya diminta untuk menunggu pengumuman berikutnya termasuk untuk tahapan tes berikutnya jika lolos administrasi.

Alhamdulillah. Langkah pertama sudah saya tapakkan. Langkah disertai senyuman, tanpa amarah. Saya yakin banyak tangan yang bekerja membantu sampai pada apa yang akan dituju. (Bersambung)

 

Nami Kulo Sumarjono. Salam NKS

About redaksi

Check Also

MRCCC Siloam Hospitals Semanggi Gelar Run for Hope 2020

Jakarta,Koranpelita.com Memperingati Hari Kanker Sedunia yang jatuh setiap tanggal 4 Februari dan sebagai bentuk dukungan ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *