Home / News / NKS Menulis Perth-4: Terdampar di Pulau Sarang Tikus

NKS Menulis Perth-4: Terdampar di Pulau Sarang Tikus

Hari keempat di tahun 2020. Itulah hari yang tak terduga. Sebab, saya terdampar. Sebenarnya lebih tebat disebut mendamparkan diri di sisi  barat benua Australia.

Sayangnya, itu hari terakhir bagi anak sulung menjadi pemandu laku. Esok paginya, ia mesti kembali. Jakarta sudah menanti walau mesti harus transit sebentar di Bali.

Sejatinya memang saya pernah membayangkan benar-benar terdampar ke Australia. Kala itu saya masih tinggal di dusun kelahiran di Kulon Progo. Bermain ke Pantai Glagah atau Pantai Congot selalu diberi pesan oleh orangtua untuk berhati-hati. Tidak sedikit pelancong terseret ombak pantai selatan dan ditemukan beberapa hari kemudian dalam raga yang tak lagi bernyawa.

Tapi buat Jono kecil, ada sebuah khayalan besar saat bermain di Pantai Glagah, Kulon Progo. Saat itu, dalam imajinasi yang sangat ndeso, saya membayangkan begini: termanggu di perahu, terombang-ambing di Samudera Hindia, lalu berharap arus menyeret ke selatan agak ke timur sedikit, agar terdampar di pantai utara atau pantai barat Australia.

Khayalan lanjutannya adalah ditemukan oleh keluarga bule Australia. Namanya juga khayalan. Selanjutnya, yang ingin dituju dari ilusi ini adalah bisa lancar berbahasa Inggris. Berlogat Australia English, bukan Jowo English. Untuk kursus bahasa Inggris saat itu, rasanya menjadi hal yang sulit diwujudkan.

Dan, khayalan itu ternyata nyata. Puluhan tahun setelah peristiwa di Pantai Glagah, saya benar-benar terdampar. Tidak dalam tragedi di dalam perahu, tapi terdampar dengan cara yang lebih nyaman.

Hari keempat di Australia, saya dan keluarga serta Vivi keponakan yang ikut berlibur, menumpang kapal feri menyeberang ke pulau yang disebut oleh penduduk asli Australia (Aborigin) sebagai pulau Wadjemup.  Dari brosur dan referensi lain, saya mendapati arti wadjemup sebagai tempat di seberang air.

Begitu mendarat, terlukis bayangan seorang kapten kapal asal Belanda bernama Willem de Vlamingh berlayar hingga pulau ini. Pulau yang banyak dihuni binatang unik yang sangat mirip dengan tikus dalam ukuran besar.

Menilik informasi yang saya dapat,  kapten Belanda itu menyambangi pulau Wadjemup di tahun 1696. Pak Kapten lalu menyebut pulau itu sebagai pulau sarang tikus. Tentu menyebutnya tidak dalam bahasa Aborigin, tapi dalam bahasa Belanda yaitu Rotte Nest atau dalam bahasa Inggrisnya Rat’s Nest.

Jadilah pulau itu populer dengan sebutan Rottness Island hingga sekarang. Lagi-lagi orang Australia membuat bahasa slank untuk pulau ini dengan sebutan Rotto.

Sejatinya hewan yang dilihat oleh kapten Belanda itu bukan tikus. Namanya qoukka yang disalahmengerti sebagai tikus raksasa. Qoukka dikategorikan sebagai marsupilia yaitu hewan berkantong.

Qoukka memiliki kaki yang mirip dengan kanguru dengan ukuran kecil. Dan, yang lebih menggemaskan adalah binatang yang dikenal sebagai hewan paling bahagia di dunia ini sangat bersahabat dengan pengunjung.

Qoukka menjadi lebih heboh lagi setelah petenis terkenal Roger Federer (saat mengikuti suatu turnamen di Australia) berselfie dengan qoukka. Nampak jelas qoukka seperti tertawa bukan lagi senyum. Entah, karena selfie dengan orang top itu memang menyenangkan atau ya itu tadi, karena qoukka adalah hewan paling bahagia yang mimiknya minimal tersenyum.

Sebagai tujuan wisata, Rotto atau Rottness Island tidak istimewa jika kita bandingkan dengan pulau-pulau eksotis yang dimiliki Indonesia. Pulau di Indonesia jauh lebih cantik dan menawan. Namun ada beda yang menyolok dari konsep yang diusung dalam mengelola Rottness Island.

Konsep yang saya maksud adalah mempertahankan ekosistem yang ada di pulau yang luasnya hanya sekitar 19 km persegi itu. Untuk mengurangi polusi, pengunjung tidak diperkenankan membawa mobil atau motor. Yang diperbolehkan hanya membawa sepeda atau menyewa sepeda.

Bagi penggowes sejati pasti hepi menikmati setiap kelokan jalan. Tak perlu ragu untuk berhenti di spot indah yang sudah ditandai. Ada tempat parkir sepeda dan tentu perlu dikunci agar tak tertukar dengan sepeda yang lain.

Sewa sepedanya juga tidak membuat berkerut, karena sehari AUS$30, sudah pasti akan dapat bonus keringat. Tapi masalah muncul, bagi yang tidak biasa gowes. Mengelilingi pulau seleuas 19km persegi adalah menjadi tantangan tersendiri.

Tapi jangan cemas. Bagi yang bukan pengepit, pilihan lainnya ada. Naik bus yang disediakan oleh pengelola pulau. Jika pilihannya naik bus, memang perlu waktu untuk menunggu setiap selesai menikmati satu spot untuk menuju spot berikutnya. Sebab, bus tersebut jumlahnya juga terbatas sehingga pengunjung kadang harus menunggu bus berikutnya.

Ada pilihan lain, sesungguhanya. Jalan kaki. Tapi ini, tidak disarankan. Apalagi yang tidak biasa berkeringat. Soalnya, hanya akan menyiksa diri.  Sudah. Kalau sudah menemukan cara berkeliling pulau sarang tikus, segera ambil kamera, dan bergaya.

Saat berhenti di spot yang sudah ditandai, pengunjung bisa melakukan banyak hal di perairan Rottnest Island. Mulai dari berenang, snorkeling, diving, stand-up paddle boarding, sampai surfing. Benar-benar surga untuk penikmat olah raga air. Air lautnya bening kemilau, tak terlihat ada sampah. Di spot tertentu, kita perlu dibantu teropong untuk bisa melihat anjing laut dan ikan paus.

Saya sempat melihat anjing laut yang sedang berjemur di atas karang. Sementara ikan paus tidak sedang melintas. Mungkin ada musimnya agar kita bisa melihat ikan paus di dekat pulau sarang tikus Rottness Island ini. Atau sepertinya perlu menaiki perahu menuju Samudera Hindia untuk menjemput ikan paus dengan ukuran besar.

Seperti menikmati pantai-pantai di semua benua, waktu menjadi semakin cepat berlalu. Dan, tak terasa sudah hampir jam 4 sore. Seharian bermain air di pulau sarang tikus membuat hari berjalan super cepat.

Beberapa bagian seperti tangan dan muka nampak gosong terpanggang panasnya matahari. Sudah waktunya untuk pamit dengan penghuni Rottness Island. Sampai ketemu lagi Qoukka. Jangan lupa bahagia. (Bersambung)

Nami Kulo Sumarjono. Salam NKS

 

About redaksi

Check Also

Indonesia Bersih Corona, Arab Saudi Diminta Kaji Penundaan Jamaah Umrah

Jakarta, Koranpelita.com Ketua MPR RI Bambang Soesatyo (Bamsoet) melalui Liga Muslim Dunia dan Kedutaan Besar ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *