Home / News / Merasakan Denyut Glodok Menjelang Imlek

Merasakan Denyut Glodok Menjelang Imlek

Sabtu lalu, sepekan menuju Tahun Baru Imlek, saya berwisata ke Glodok.  Nita yang mengajak saya. Berwisata, Jelajah Spot Kuliner Instagrammable di Glodok, pusat segala yang beraroma Tionghoa itu.

Semula kami mau bergabung dengan grup tour. Namun karena ingin menikmati suasana dengan santai, jalan kaki ke daerah Glodok, kami memutuskan membentuk group sendiri. Tentu pesertanya harus ditambah sehingga mulailah saya dan Nita menawari beberapa teman yang mau bergabung. Setelah kasak-kusuk lewat telepon, terwujud kelompok delapan ibu penikmat kuliner dan budaya.

Awalnya wisata kuliner diadakan siang sampai menjelang malam. Namun karena ingin melihat aktivitas yang ada di sekitar Petak Sembilan Glodok, kami sepakat memilih Sabtu pagi. Warna bajupun dipilih merah mengikuti semarak Imlek, sehingga terbayang serunya jalan jalan bersama teman dengan diselingi foto foto dan menikmati kuliner.

Saat waktunya tiba, Jakarta dilanda hujan deras. Waduh, disertai petir sejak pagi. Ada ragu datang, sehingga diusulkan diganti siang atau Minggu pagi saja. Tapi ada juga yang usul untuk jalan terus, karena sudah siap dengan baju merah.

Akhirnya Nita mengambil keputusan untuk menunggu sampai jam 8 pagi. Apabila jam 8 hujan belum reda maka diganti siang atau Minggu pagi. Mendekati jam 7 lewat hujan deras mulai reda sehingga saya, Dita, dan Titien meluncur menuju meeting point di gedung Candranaya.

Candranaya adalah bangunan Tionghoa yang pernah kondang. Kini, terletak di belakang hotel Novotel  di Jl Gajah Mada. Gedung Candranaya masih terawat dengan baik. Dulunya, ini merupakan rumah besar yang dimiliki oleh Mayor Khouw Kim An. Di pintunya terdapat tolak bala segi 8 dan lambang panjang umur.

Mayor Khow Kim An merupakan kapitan China yang konon memiliki 14 istri dan 24 anak. Kisah sang Mayor berakhir tragis dengan ditangkap oleh Jepang dan dipenjara.

Setelah melihat rumah sang Mayor yang saat ini dijadikan cagar budaya, kami lanjut berjalan kaki menuju Vihara Dharma Bakti di daerah Glodok. Jalan menuju vihara melalui gang yang penuh dengan pedagang yang menjual pernik pernik Imlek, dari hiasan lampion serba merah sampai makanan seperti kue keranjang, jeruk bali, kesemek, dan bandeng.

Rasanya ingin sekali membeli aneka makanan yang dijual sepanjang gang menuju vihara. Berbelanja di gang tersebut sangat menarik karena selain berjalan kaki bisa juga menggunakan motor atau becak menyusuri gang sempit belanja aneka jenis dari sayuran, ikan, bumbu dan buah dengan kualitas yang bagus.

Pada saat perayaan imlek, vihara tertua yang didirikan tahun 1536 itu, akan penuh dengan masyarakat Tionghoa yang masih memegang tradisi berdoa sebagai bentuk pengucapan syukur, doa dan harapan agar di tahun depan mendapat rezeki lebih banyak.

Setelah melihat sekitar vihara, perjalanan lanjut menuju gereja katolik St Maria de Fatima. Ternyata kami melalui jalanan sempit yang berbeda, sehingga tidak bisa membeli aneka makanan yang tadi terlewati.

Kebaktian di gereja Fatima ada yang menggunakan bahasa china karena masyarakat sekitarnya kebanyakan Tionghoa. Kami sempat melihat ke dalam gereja yang pagi hari itu belum ada kebaktian.

Langkah selanjutnya memasuki gang Kalimati yang sempit dan penuh dengan aneka pedagang. Kali ini kami semua sepakat apabila terlihat ada yang menarik langsung beli.

Jadilah Libra membeli bakpao, Titien membeli pisang goreng, Dita dan Ati membeli bakpia goreng. Bakpia nya kita makan ramai ramai, mungkin karena masih panas dan lapar maka langsung ludes pindah ke perut.

Selanjutnya kami diajak oleh mas Estu, pemandu wisata kami untuk menikmati mie dan laksa Belitung di kedai rumahan khas Tionghoa. Karena melihat porsinya cukup banyak, kami memilih untuk memesan beberapa menu dan dinikmati bersama. Masakannya enak, bumbunya mantap meskipun menurut saya terlalu manis.

Sambil menunggu yang lainnya selesai, saya dan Libra malah memilih membeli petai yang terlihat besar dan segar. Ternyata petai yang hijau segar lebih menarik meskipun semula berharap menemukan penjual bolang baling dan cakue tapi ternyata tak terlihat.

Setelah makan mie dan laksa, perjalanan lanjut ke Petak Sembilan untuk berfoto di mall dengan arsitektur China. Menjelang Imlek banyak dijual manisan dan aneka permen dari China menjadi pemandangan yang menarik.

Selain itu tak ketinggalan kami mengintip toko obat tradisional China dengan ramuan rempah/herbal yang masih bertahan sampai saat ini.

Kembali kami menyusuri gang sempit di Gloria, menuju kedai kopi es Tak Kie yang terkenal dengan kopi hitam dan kopi susu.

Ternyata pengunjung cukup banyak, sehingga kami puas dengan membeli beberapa bungkus kopi susu untuk diminum sambil jalan.  Menurut Ati yang suka kopi, katanya enak, namun menurut saya yang bukan penyuka kopi, rasanya kurang susu.

Setelah puas melihat sekitar Glodok, kami menuju Pancoran Tea House untuk makan siang. Tea house Pancoran yang terletak di ujung jalan setelah pasar Glodok merupakan bangunan kuno dengan arsitektur pecinan yang menarik untuk dikunjungi sambil minum teh dan menikmati berbagai menu yang ada.

Karena sebelumnya perut telah terisi mie belitung dan laksa maka rasanya masih kenyang. Lagi-lagi karena ingin mencicipi menu yang ada mendorong kami memesan kweetiau goreng. Selain itu karena kami juga berfoto ria di dalam Tea House jadi merasa sungkan bila tak memesan makanan disitu.

Tak terasa hari semakin siang dan wisata jalan kaki di sekitar Glodok yang digagas oleh Wisata Kreatif Jakarta selama 4 jam telah berakhir. Sebelum berpisah, kami sempatkan berfoto di depan Tea House yang menyediakan minuman gratis dalam beberapa teko kepada pejalan kaki yang melintas di Glodok. Tentu pertemuan kami tak berakhir disini. Dari wisata hari ini, semua sepakat untuk menikmati wisata Jakarta dari sudut yang lain. Kenali wisata negrimu.(*)

About redaksi

Check Also

Taman Mini Indonesia Indah Undang Keluarga Indonesia

Oleh: Prof. Dr. Haryono Suyono, MA, PhD Di tengah Rapat Tujuh Yayasan yang didirikan almarhum ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *