Home / News / NKS Menulis: Sekali lagi, Ini Tentang Pingpong 

NKS Menulis: Sekali lagi, Ini Tentang Pingpong 

Hari Sabtu, Ahad, atau pas libur, saya butuh peluh. Lalu saya pingpong biar pikiran sumpek jadi plong.  Dan, itu cara saya menemukan santai.   

Benar. Sabtu, Minggu atau hari libur, kegiatan saya didominasi oleh olah raga yang satu ini. Selain pingpong, saya isi hari libur dengan bulutangkis atau menulis.

Jadilah, kali ini saya ingin bercerita tentang hobi saya di setiap hari libur itu. Hobi yang lama saya geluti. Pingpong, bulutangkis, dan menulis.

Olah raga mungkin memang sudah menjadi kebutuhan diri. Saya duga ini lebih karena masa lalu. Tak banyak pilihan menghibur diri. Olah raga menjadi hiburan bagi orang kampung seperti saya ini.

Saya teringat saat masih unyu-unyu, sekolah menggunakan baju putih dan celana pendek biru. Kala itu saya mendapat warisan bet pingpong milik kakak tertua yang cukup bagus meski karetnya sudah mulai mati. Berbekal bet berkaret tua, saya mulai mengenal permainan pingpong. Saking senengnya dengan olah raga pingpong, saya memilih ikut ekskul table tennis alias pingpong.

Tentu tidak selalu menang dalam pertandingan. Apalagi saya saat itu belum mengenal teori bermain pingpong. Hanya belajar sendiri, mereka-reka teori sendiri, atau paling banter mencuri cara teman yang lebih bisa bermain.

Saya mencoba semua teori ndeso yang saya karang-karang sendiri itu. Semua serba otodidak. Ekskul pun tanpa bimbingan selain kami harus belajar bersama. Youtube? Boro-boro. Ada juga Yu Djum, gudeg yang terkenal itu.

Walau belajar tanpa pelatih, setiap perlombaan yang diadakan di Balai Desa, saya dan Sukisdi, partner in crime di dunia perpingpongan, selalu mewakili Dusun Nganjir. Karena kurang pemain, kadang saya mengajak pemain dari dusun lain di desa berbeda yang memang mahir karena sekolahnya pun dari Sekolah Guru Olahraga. Pertandingan di Balai Desa selalu beregu.

Sering juga kami pulang membawa piala. Itu yang menyemangati saya untuk terus belajar menguasai teknik bermain tenis meja. Ya lumayan, meski sekadar kelas kampung, selalu menjadi andalan.

Olah raga lain, yang juga populer di kampung adalah voli. Saya mulai gemar voli saat memasuki bangku SMA, didorong, terutama karena peminat di olahraga ini tak melulu lelaki. Jadi motivasi saya bermain voli, oleh sebab ada daya tarik lain: pemain voli puteri.

Jangan ditanya, apakah saya berani mendekati pemain voli putri. Karena kalau sudah dekat dengan mereka, yang ada hanya grogi. Selanjutnya, kemringet sendiri. Bukan keringat sehat sehabis olahraga melainkan keringat dingin tanda tak percaya diri.

Apa boleh buat. Sensasi mendekati pemain voli putri, selalu gagal, jadilah saya lebih banyak main pingpong. Sebab, bisa membuat pikiran jadi plong.

Tidak hanya di SMP dan SMA saya menyukai pingpong. Saat kuliah di Bandung walau tak rutin saya menjajal beberapa rekan yang punya keahlian dan hobi yang sama. Di dekat markas himpunan mahasiswa jurusan, terpasang satu meja pingpong. Di situ saya tahu mana rekan yang jago pingpong dan mana yang sekadar bisa. Ternyata saya baru tahu belakangan, Dekan Fakultas MIPA yang saat ini masih menjabat, memiliki keahlian tingkat tinggi di dunia perpingpongan. Dua tahun lalu saya pun menjajalnya.

Memasuki dunia kerja, rutinitas duduk dari pukul 8.00 hingga pukul 17.00 memberi efek yang kurang baik pada kesehatan. Lebih lagi di ruangan berpendingin udara. Saran dokter untuk berolahraga. Dari situ, saya kembali bersinggungan dengan pingpong. Bahkan saat banyak peminatnya, seminggu sekali mendatangkan pelatih agar cara pegang bet dan pukulan lebih terarah.

Seperti di Nganjir dulu, di Jakarta, sekali saya ikut pertandingan. Event yang selalu ditunggu yaitu pertandingan  tenis meja antar eselon 1 yang selalu seru. Di situlah keahlian dan mental diadu. Tapi berbeda dengan di Nganjir, saat ini, yang dicari bukan prestai tapi keringat.

Di kantor, sejumlah pertandingan rutin diagendakan. Terutama saat memperingati lahirnya jaminan sosial ketenagakerjaan. Suatu waktu kompetisi dilakukan untuk menakar peningkatan hasil latihan. Hadiah tak terlalu penting dipermasalahkan karena sehat berkeringat adalah hadiah yang terindah.

Tahun lalu saya medical check-up dan konsultasi dengan dokter, termasuk diskusi tentang olah raga yang boleh dilakukan untuk orang seusia saya. Saya sampaikan kalau saya berolahraga bulu tangkis dan pingpong. Dokter menyarankan untuk beralih ke olahraga yang lebih pas sesuai umur seperti jalan dan berenang. Saya perhatikan betul saran dokter tersebut.

Saya menanyakan apakah saya tidak boleh lagi main bulutangkis dan pingpong. Untungnya jawaban dokter masih membolehkan bermain pingpong tapi untuk bulutangkis sebaiknya dihindari. Seandainya dokter tersebut melarang bermain pingpong, saya dapat pastikan akan segera meninggalkannya. Meninggalkan dokter tersebut dan mencari dokter yang lain. Bukan meninggalkan olah raga pingpong.

Nah, dengan tetangga pun cara bersosialisasi saya adalah lewat jalur olah raga. Awalnya tetangga tak percaya jika pingpong dapat memeras peluh. Apalagi saat disarankan membeli bet yang bagus sesuai karakter pemain agar pukulannya sempurna.

Mereka tak percaya jika harga kayu dan karet bet pingpong sangat bervariasi. Teknologi membuat harga juga mengikuti. Namun kini mereka hampir semua pemain telah mulai memahami.

Dan, Minggu lalu kami berkompetisi. Ada 12 pemain terbagi dalam dua pool. Masing-masing pool 6 orang yang akan diambil juara dan runner up pool. Seru saat beradu. Tak hanya beradu kepiawaian memainkan bola pingpong. Beradu mulut pun terjadi. Sekali lagi bukan hadiah yang dicari, karena ini tentang gengsi.

Tapi saya percaya bahwa kemenangan itu bukan sebuah kebetulan. Namun proses panjang melalui latihan dan konsistensi adalah kunci. Saya ingin mengutip apa yang dikatakan Rafael Nadal, pemain tenis lapangan tentang kesuksesan atau yang saya sebut sebagai kemenangan.

Rafael mengatakan, “Sukses itu bukan kebetulan. Itu adalah kerja keras, ketekunan, pembelajaran, pengorbanan, dan yang paling penting adalah kamu mencintai apa yang kamu lakukan atau apa yang kamu pelajari.” (Sumber: Kompas, 21 Januari 2020).

Saya setuju dengan Rafael Nadal karena kebetulan saya menjuarai kompetisi tingkat RT ini. Maaf, saya perlu ralat. Pasti Rafael Nadal akan mengatakan bukan kebetulan saya menang.

Sejatinya saya punya trik yang saya dapat dari rekan di kantor untuk selalu menang dalam perlombaan. Cari dan ikuti perlombaan dengan kategori tertentu sehingga peminatnya sedikit atau bahkan tidak ada, kecuali kita. Jika itu diterapkan, peluang sukses meraih kemenangan akan terbuka lebar. Selamat mencoba.

Nami Kulo Sumarjono. Salam NKS

About redaksi

Check Also

Indonesia Bersih Corona, Arab Saudi Diminta Kaji Penundaan Jamaah Umrah

Jakarta, Koranpelita.com Ketua MPR RI Bambang Soesatyo (Bamsoet) melalui Liga Muslim Dunia dan Kedutaan Besar ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *