Home / News / NKS Menulis Perth-3: Sensasi Wisata Penjara

NKS Menulis Perth-3: Sensasi Wisata Penjara

Singgah di Perth, adalah perjalanan menuju ke keheningan. Tapi lihatlah sisi tak biasa, saat senyap menyimpan riuh di kesilaman. Dan, inilah cerita tentang plesiran ke Fremantle Prison yang ngeri-ngeri asyik.

Baiklah. Sebelum sensasi menikmati destinasi bui, sejumlah tempat, menyeret kaki-kaki kami untuk berhenti.

Perth di awal tahun, sungguh memberi siang yang sangat mewah, meski terkadang terasa berlebih. Setelah yakin bahwa kanguru dan koala serta binatang lain aman di Caversham Wildlife Park, putri saya meminta google mengarahkan kami ke pabrik cokelat yang jaraknya tak terbilang jauh.

Rasanya, Caversham Wildlife Park memang tak mampu menghabiskan waktu. Jadilah, kami ke pabrik cokelat. NamanyaThe Margaret River Chocolate Company. Konsep yang diusung bukan sekadar pabrik cokelat saja, namun sekaligus toko cokelat lengkap dengan kafe cokelat.

Sejarahnya, pabrik pembuat cokelat yang sering disebut “The Chocolate Factory” ini beroperasi sejak 1999.  Sebenarnya tidak rugi juga jika tidak membeli, karena kita bisa mencicipi cokelat tester yang disediakan untuk beragam jenis cokelat. Kalau jenisnya ada 100-an macam. Kalau mencobanya satu cuil saja setiap jenis, sudah kebayang.

Tapi tidak elok jika tidak ingat kerabat, tak akan tega jika hanya kita yang mencicipi, jadi perlu relakan beberapa dolar agar kerabat bisa turut menikmati. Nah, yang juga menyenangkan, kita bisa mengintip proses pembuatan cokelat.

Terlihat, di samping dan di belakang pabrik cokelat, ditanami anggur yang ternyata ada pabrik pembuatan anggur atau wine, selai, dan olive oil. Jelas untuk wine tak perlu mencicipi. Cukup tahu saja. Boleh lah kalau selai atau pun olive oil.

Dari pabrik cokelat, itenary yang mesti dijalani adalah mengunjungi pusat keramaian tanpa niatan mencari sesuatu. Rasa ingin tahu seperti apa dan seberapa ramai di sana. Itu saja.

Satu tempat yang ada di list yang must see ialah London Court. Jangan membayangkan bahwa pasti ini serem. Karena sejatinya London Court kini adalah tempat belanja souvenir. Dahulunya merupakan kawasan perumahan elit yang dibangun dengan gaya Eropa yang sangat kental.

Selesai menikmati suasana Eropa di London Court, kami kembali ke penginapan walau waktu baru pukul 16.30. Tapi jam segitu, matahari masih tinggi, jadi  kami hanya sejenak mampir penginapan, untuk ganti kostum.

Rasanya, memang sangat jumawa jika abai pada suasana sore-sore di Perth yang damai. Apalagi menikmati sore di pinggir Swan River di sisi berseberangan dengan CBD Perth.  Lari sore, terasa menyenangnkan, apalagi setelah itu, mampir ke food truck yang menyajikan berbagai makanan dan es cream. Lalu pulang untuk menyulam mimpi.

Berganti dengan hari baru. Hari ketiga di kota Perth. Bangun terlanjur pagi karena paginya Perth matahari telah meninggi. Dan kami sudah bersiap untuk berwisata. Wisata yang tidak biasa yang dirancang sang anak bungsu. Kali ini agak serem. Wisata ke PENJARA.

Begitulah. Agenda hari itu, melihat-lihat kota kecil namun terkenal. Fremantle. Jangan salah mengucapkan. Free-mantle bukan fre-man-tle. Namun orang Australia punya sebutan sendiri sebagai bahasa slank-nya yaitu Freo, yang dilafalkan Free-oh. Kota ini terletak di pantai barat Australia di muara Swan River. Persisnya sekitar 19 km sebelah barat daya dari Central Business District Perth.

Yang kami tuju pertama adalah tempat wisata yang masuk dalam warisan budaya Australia yaitu Fremantle Prison (Penjara Fremantle). Tiket masuk penjara Fremantle sudah termasuk pendampingan tour guide.

Steven, lelaki dengan aksen sangat Australia itu, menjadi guide kami beserta sekitar 20-an turis lain, yang menjelaskan berbagai ruangan dan fungsinya serta fasilitas yang ada.

Setelah melewati gerbang penjara, lapangan rumput nan luas langsung terhampar. Di situ, Steven menjelaskan bahwa kota Fremantle dibangun pada 1829 oleh Kapten Charles Howe Fremantle. Tentu pembangunan ini atas restu Raja Inggris saat itu, George IV.

Saat itu, Pak Kapten membawa 2.000 warga Inggris ke muara Swan River. Para pendatang awal ini diiming-imingi tempat tinggal yang nyaman, tanah yang luas, serta kota tanpa penjahat.

Lalu, masalah muncul. Siapa yang mau membangun kota, jika yang didatangkan tersebut tanpa pekerja kasar? Dengan alasan itu, diputuskan untuk mendatangkan para tahanan dari Inggris. Merekalah yang kemudian membangun rumahnya terlebih dahulu. Penjara. Baru setelah itu, memabnggun kota Fremantle.

Penjara Fremantle dibangun dengan dinding yang super tebal mulai tahun 1855. Dan, alas untuk tidurnya awalnya hanya selembar kain tebal seperti halnya tempat tidur gantung. Terali atau jeruji terlihat kokoh menancap di dinding pada bagian penerang sel sekaligus sebagai lubang udara.

Tour masuk ruang penjara dimulai dari bagian dapur. Dapur penjara yang cukup besar. Bayangkan saja setiap hari harus memasak untuk sekitar 1.000 orang narapidana. Pasti perlu juru masak yang banyak. Terbayang juga bagaimana pesakitan yang kerjanya di dapur kerjanya tidaklah ringan.

Selanjutnya, kami diantar oleh Steven dari satu blok sel ke blok sel lainnya. Juga ada sel khusus untuk perempuan. Ada ruang bawah tanah dan lokasi eksekusi. Tempat tahanan menjalani hukuman gantung.

Penjara berlantai empat ini menyulut adrenalin pengunjung. Meski awalnya untuk tahanan dari Inggris, pada perkembangannya juga difungsikan untuk menghukum penduduk lokal dan suku aborigin.

Steven bercerita tentang perubahan fasilitas penjara, termasuk tempat tidur, dari periode ke periode.

Cerita tentang kerusuhan besar pernah terjadi di tahun 1968.  Kerusauhan yang sama terulang di tahun 1988 yang mengakibatkan kerusahan berat. Sejak 1991, pemerintah Australia  memutuskan tidak lagi memfungsikan penjara Fremantle.

Lebih dari satu jam, kami diajak tour dalam penjara. Lalu tiba saatnya mengunjungi Fremantle Market yang hanya sepandangan mata dari lokasi penjara. Tidak setiap hari pasar ini buka. Itu mungkin membuat pasar sangat ramai dikunjungi.

Ada banyak kerajinan dijual di sana. Juga makanan. Kami mencoba mencari makanan Indonesia. Ternyata tidak hanya satu kios yang menjual makanan Indonesia. Kami pilih yang paling ramai. Flufy Lamb nama kiosnya. Ternyata memang sangat enak dan halal.

Cukup sudah menikmati kota Freo. Saatnya kembali ke penginapan. Di tengah jalan kami menemukan spot cantik yang sayang jika dilewatkan. Akhirnya kami selfie di Container Raibow sebelum benar-benar mengarahkan mobil ke penginapan.

Setelah sjenak mengusir lelah, sunset di pinggir Swan River memanggil. Apa boleh buat. Sambil lari sore, kami membaur dengan warga lokal Perth. Termasuk menikmati hangatnya kentang goreng diiringi live music nan asyik. (bersambung)

Nami Kulo Sumarjono. Salam NKS

About redaksi

Check Also

Indonesia Bersih Corona, Arab Saudi Diminta Kaji Penundaan Jamaah Umrah

Jakarta, Koranpelita.com Ketua MPR RI Bambang Soesatyo (Bamsoet) melalui Liga Muslim Dunia dan Kedutaan Besar ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *