Home / News / NKS Menulis: Kado Istimewa untuk Pekerja Indonesia

NKS Menulis: Kado Istimewa untuk Pekerja Indonesia

Dua minggu lalu saya mendapat pertanyaan dari seorang anggota salah satu grup aplikasi percakapan. Ia melampirkan sebuah flyer.

Flyer tentang jaminan sosial ketenagkerjaan yang kira-kira berbunyi “Manfaat Jaminan Naik, Iurannya Tetap Sama.”  Sembari memposting flyer tersebut, rekan ini menulis caption berisi sebuah keingintahuan. “Apakah ini benar? Tidakkah terbalik?”Begitu tulisnya.

Sebuah pertanyaan dan keingintahuan yang sangat wajar. Sebab memang biasanya tidak seperti ini. Yang lazim terjadi adalah kenaikan biaya walaupun manfaatnya sama, segitu-gitu saja.

Sesaat saya biarkan perbincangan di grup aplikasi percakapan tersebut. Saya ingin tahu seperti apa komentar anggota grup lainnya. Berharap ada pemerhati jaminan sosial, atau syukur-syukur politisi dan pengamat politik berkomentar. Setelah menunggu waktu yang pas, saya menjelaskan semuanya. Tentu dengan singkat padat.

Nah, lewat tulisan ini, saya ingin memberi lebih rinci latar belakang kenaikan manfaat tanpa kenaikan iuran. Tulisan yang harap menjawab pertanyaan “kok bisa manfaat jaminan naik tanpa kenaikan iuran?”

Seperti diketahui bersama BPJS Ketenagakerjaan, atau kini dipanggil bpjamsostek, diamanahi menyelenggarakan empat program jaminan sosial. Keempatnya itu adalah Jaminan Kecelakaan Kerja, Jaminan Hari Tua, Jaminan Pensiun, dan Jaminan Kematian.

Kenaikan manfaat ada pada program Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) dan Jaminan Kematian (JKM). Kenaikan ini, dapat dinikmati oleh pekerja Indonesia tanpa harus membayar iuran lebih besar.

Pengaturan tentang penambahan manfaat tersebut tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2019 tentang perubahan atas PP 44 Tahun 2015, tentang Penyelenggaraan Program Jaminan Kecelakaan Kerja dan Jaminan Kematian yang telah ditandatangani oleh Presiden Joko Widodo bulan Desember 2019 lalu.

Kemarin, Selasa, 14 Januari 2020 diadakan sosialisasi di Hotel Bidakara dengan peserta sekitar 1.000 orang. Pada acara  itu, Ibu Menaker memberikan sambutan dan membuka secara resmi sosialisasi PP 82 Tahun 2020. Tentu tak lupa beliau juga mengajak seluruh pemberi kerja untuk mendaftarkan seluruh pekerjanya ke bpjamsostek. Ini wujud bahwa negara hadir melindungi pekerja dan keluarganya.

Lebih rinci Pak Yasarudin, Deputi Direktur, dalam talk show yang dipandu oleh Aji dan Lala menjelaskan dengan sangat apik kenaikan manfaat JKK dan JKM. Sayangnya, tidak ada nara sumber dari kementerian yang bisa hadir sehingga Pak Yasarudin sendirian dalam talk show tersebut.

Pak Yasarudin menjelaskan, antara lain bahwa manfaat JKK bagi pekerja yang mengalami kecelakaan kerja akan ditanggung biaya perawatan dan pengobatannya sampai sembuh berapapun biayanya sesuai dengan kebutuhan medis.

Saat ini misalnya, bpjamsostek masih menanggung biaya pengobatan  seorang peserta yang mengalami kecelakaan di Riau hingga Rp 4 Miliar. Penambahan manfaat JKK pada perubahan PP 44 Tahun 2015 salah satunya perawatan di rumah alias homecare.

Selain itu, manfaat JKK juga ditingkatkan dalam biaya transportasi untuk mengangkut pasien yang mengalami kecelakaan. Biaya transportasi darat dinaikan dari Rp 1 juta menjadi maksimal Rp 5 juta, biaya transportasi angkutan laut naik dari Rp 1,5 juta menjadi Rp 2 juta dan biaya angkutan udara dinaikkan menjadi Rp 10 juta dari sebelumnya Rp 2,5 juta.

Tidak selesai hanya sampai di situ. Ada manfaat beasiswa yang sebelumnya hanya untuk satu anak saja. Dengan PP 82 Tahun 2019, yang diberi santunan beasiswa meliputi dua anak. Dari TK hingga Perguruan Tinggi atau ikut pelatihan kerja.

Besarannya pun naik cukup tinggi  dari hanya dibatasi Rp 12 juta pada aturan lama. Semula, pada aturan lama, beasiswa diberikan secara lump sum dan tidak memperhitungkan jumlah anak. Dengan PP yang baru beasiswa akan diberikan untuk dua orang anak peserta BPJAMSOSTEK. Besaran jumlah beasiswa ditentukan tingkat pendidikan, sebagai berikut:

  • Pendidikan TK sampai dengan SD atau sederajat sebesar Rp 1,5 juta per tahun untuk setiap orang, dengan menyelesaikan pendidikan maksimal 8 tahun
  • Pendidikan SMP atau sederajat sebesar Rp 2 juta per orang setiap tahun dengan menyelesaikan pendidikan maksimal 3 tahun
  • Pendidikan SMA atau sederajat sebesar Rp 3 juta per tahun, dengan menyelesaikan pendidikan maksimal 3 tahun
  • Pendidikan perguruan tinggi maksimal strata 1 atau pelatihan sebesar Rp 12 juta per tahun dengan menyelesaikan pendidikan maksimal 5 tahun.

Pak Yasarudin menjelaskan lebih lanjut bahwa ada penambahan manfaat dari JKK yakni santunan sementara tidak mampu bekerja, berupa penggantian upah sebesar 100% menjadi 12 bulan dari sebelumnya 6 bulan. Juga penggantian upah untuk seterusnya sebesar 50% hingga sembuh.

Sedangkan untuk kematian akibat kecelakaan kerja selain manfaat santunan sebesar 48 kali upah terdapat peningkatan biaya pemakaman dari Rp 3 juta, menjadi Rp 10 juta. Dan, santunan berkala meninggal dunia dari Rp 6 juta menjadi Rp 12 juta untuk 24 bulan.

Perubahan bukan hanya untuk kecelakaan kerja, tetapi juga program JKM. Santunan kematian naik dari Rp 16,2 juta menjadi Rp 20 juta. Kedua, santunan berkala meninggal dunia dari Rp 6 juta untuk 24 bulan, menjadi Rp 12 juta.Ketiga, biaya pemakaman naik dari Rp 3 juta, menjadi Rp 10 juta.

Dengan kenaikan itu, total santunan JKM menjadi Rp 42 juta dari sebelumnya Rp 24 juta. Sementara manfaat lain jika peserta memiliki anak maka beasiswa juga mengalami peningkatan dengan poin-poin yang sama dengan manfaat JKK.

Saya mengikuti hingga akhir dimana tanya jawab dengan peserta sosialisasi. Sayangnya memang tidak dijelaskan tentang mengapa manfaatnya perlu dinaikkan dan bagaimana bisa naik manfaat tanpa menaikkan iuran.

Saya teringat tiga tahun lalu saat mempelajari perilaku klaim untuk JKK dan JKM. Statistik yang ada menunjukkan bahwa rasio klaim untuk JKK dan JKM berkisar antara 20% sampai dengan 30%. Artinya bahwa dari iuran yang terkumpul kurang lebih hanya 20% sampai dengan 30% -nya digunakan untuk membayar klaim.

Memang ada biaya yang besarnya tidak sampai 5% digunakan operasional penyelenggaraan jaminan. Nah, masih terdapat iuran yang tidak tergunakan dan ini terus memupuk dana jaminan sosial.

Jika institusi yang mengelola bukan berbentuk badan hukum publik, iuran yang tidak tergunakan akan menjadi keuntungan bagi perusahaan. Namun, di bpjamsostek aturan sangat jelas. Ada pemisahan antara dana peserta dan dana badan.

Dana peserta ini disebut dana jaminan sosial. Dan, untuk masing-masing program jaminan pun dana jaminan sosialnya dipisahkan. Iuran yang masuk di dana jaminan sosial keperuntukannya untuk peserta. Tidak bisa diganggu gugat. Tidak dapat diambil dan digunakan selain untuk kepentingan peserta yang dalam hal ini untuk pembayaran klaim.

Dari statistik tersebut, tergambar jelas adanya ruang yang cukup lebar untuk peningkatan manfaat. Untuk itulah, bpjamsostek mengusulkan adanya perubahan dari Peraturan Pemerintah. Ini sebagai bentuk dari  menjalankan prinsip akuntabilitas dan dana amanat sebagaimana amanat Undang-Undang Sistem Jaminan Sosial Nasional.

Melalui proses yang cukup panjang, akhirnya peningkatan manfaat JKK dan JKM tanpa kenaikan iuran ditetapkan akhir tahun lalu. Ini adalah kado istimewa untuk pekerja. Besar harapan seluruh pekerja dapat ikut dalam program jaminan sosial ketenagakerjaan, tanpa terkecuali. Baik yang bekerja di perusahaan atau berusaha sendiri. Baik bekerja di sektor formal maupun di sektor informal. Sejahteralah pekerja Indonesia dan keluarganya.

Nami Kulo Sumarjono. Salam NKS

About redaksi

Check Also

MRCCC Siloam Hospitals Semanggi Gelar Run for Hope 2020

Jakarta,Koranpelita.com Memperingati Hari Kanker Sedunia yang jatuh setiap tanggal 4 Februari dan sebagai bentuk dukungan ...

One comment

  1. Diapit oleh dua orang DEWAS. Mantul Jayalah BPJAMSOSTEK

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *